Monday, 17 October 2016

Tidak Pantas Kita Merasa Aman dari Azab-Nya



Thawus bin Kaisan berkisah, "Aku pernah melihat ada seorang laki-laki yang shalat di bawah kubah . Masjidil Haram. Orang itu berdoa sambil menangis. Lalu aku mendatangi saat dia sudah selesai melaksanakan shalatnya. Ternyata orang itu adalah Ali bin Husain radhiyallahu 'anhu."

Aku berkata, "Wahai putera Rasulullah, aku melihatmu dalam kondisi seperti itu, padahal engkau adalah keturunan Rasulullah dan memiliki tiga kelebihan - merupakan anak cucu Rasulullah, sudah mendapatkan syafaat dari kakeknya (Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam) dan mendapatkan rahmat dari Allah. Aku berharap agar Allah memberikanmu kebebasan dari rasa takut."

Lalu Ali bin Husain berkata, "Wahai Thawus, meskipun aku anak dari cucu Rasulullah jangan anggap aku sudah aman dari siksa Allah, karena aku mendengar firman Allah, "...Pada hari Kiamat nanti, tidak ada hubungan nasab di antara manusia." (Al-Mukminun : 101)    

Engkau juga jangan menganggapku aman karena aku mendapat syafaat dari kakekku, sungguh aku mendengar Allah azza wa jalla berfirman, "...Dan mereka tidak mendapatkan syafaat, kecuali orang yang diridhai Allah..." (Al-Anbiya : 28)

Sedangkan tentang rahmat Allah yang mereka katakan kepadaku, juga tidak membuatku merasa aman. Sungguh aku mendengar Allah ta'ala berfirman, "...Sesungguhnya rahmat Allah sangatlah dekat dengan orang-orang yang baik." Padahal aku tidak tahu apakah aku termasuk orang yang baik." 

(disarikan dari Kitab Al Hilyah karya Abu Nu'aim) 
Rubrik hikmah hal. 92 Edisi 01 XXVIII Mei 2015/Rajab 1436 H 

Sejatinya, sebab kita hanya sanggup berusaha dan berharap kepada Allah sebenar-benarnya semoga Allah menjaga kondisi kita untuk senantiasa baik dan selalu berbuat baik..
Sebab kita tidak tahu akhir hidup kita, baikkah, atau bahkan buruk..
Sebab kepadaNya saja kita akan kembali, 
Sebab di hadapanNya lah nanti kita akan diadili..
Semoga Allah menjaga kita, supaya kita sanggup bertaqwa di manapun kita berada.. 

Ditulis ulang oleh Syafiq El quds

Thursday, 6 October 2016

Muawiyah bin Abu Sufyan, 602-680 M (Bagian 1)


Islamnya Muawiyah

Sebagai anak pemuka Quraisy, memang Muawiyah belum mendapat hidayah pada masa awal Islam. Beliau baru masuk Islam bersama keluarganya dan juga penduduk Makkah pada waktu fathu Makkah (pembebasan Makkah) tahun 8 H/630 M.[1]
Meskipun ada juga riwayat yang mengatakan ia masuk Islam setahun sebelumnya pada umrah yang tertunda, namun disembunyikan keislamannya.[2]

Dikisahkan pada waktu pembebasan Makkah, Rasulullah memuliakan Abu Sufyan dengan maklumat, barang siapa yang memasuki rumah Abu Sufyan maka ia terlindungi. Hal ini menimbang posisi Abu Sufyan sebagai pemimpin Makkah ketika itu. Begitu juga dengan ibunya Hindun binti Utbah, setelah baiat kaum lelaki selesai, tibalah baiat kaum perempuan, Hindun menundukkan kepala takut atas murka Rasulullah atas perilakunya pada Hamzah. Namun akhirnya Rasul mengenalinya dan kemudian memaafkannya.[3] Setelah baiat, Hindun kembali ke rumah menghancurkan berhala miliknya seraya berkata, “Aku benar-benar tertipu olehmu.”[4]

Jika seseorang telah memeluk Islam, ia tak lagi dituntut dan dicela atas kesalahan yang diperbuat sebelum masuk Islam. Selanjutnya, ia bisa bertaubat dengan amal shalih dan mudah-mudahan Allah mengampuni.

Abu Sufyan, Hindun binti Utbah, dan juga Muawiyah memang memusuhi Rasul, namun setelah mereka Islam, sejarah mencatat mereka benar-benar menjadi Muslim yang baik dengan ikut bersama-sama meninggikan kalimat Allah. Di usia uzurnya, Abu Sufyan bahkan berperang bersama Rasul pada Perang Hunain, ia kehilangan salah satu matanya saat pengepungan Thaif,[5] dan satunya lagi pada Perang Yarmuk.

Jadi sungguh tak bijak mengaitkan derajat Muawiyah dengan keturunannya yang memusuhi Islam. Banyak sahabat yang dulunya memusuhi Rasul ataupun sahabat yang orang tuanya tetap membangkang, namun mereka tetap mendapat nama harum dalam ingatan kaum Muslimin. Umar bin Khattab yang memusuhi Rasul pada awalnya, Amr bin Ash yang masyhur kisahnya menjadi juru bicara Quraisy di depan Raja Najasy saat kaum Muslimin hijrah ke Habasyah pertama kali, begitu juga Khalid bin Walid, yang pernah memerangi Rasul saat perang Uhud hingga menyebabkan kekalahan kaum Muslimin. Mereka semua adalah sahabat yang luar biasa saat masuk ke dalam pangkuan Islam.

Begitu juga dengan asal-usul keturunan, Ikrimah bin Abu Jahal tentu akan dikucilkan jika melihat kelakuan ayahnya, Abu Jahal, pada Nabi Muhammad. Namun selepas masuk Islam pada saat pembebasan Makkah, Ikrimah menebusnya dengan berjuang gagah berani pada Perang Yarmuk[6] hingga mencapai syahid di sana. Ada juga sahabat Nabi, Abdullah bin Abdulah bin Ubay. Lihatlah, betapa kaum Mukminin Madinah begitu terusik dengan hasutan gembong Munafikin Abdullah bin Ubay. Namun anaknya, Abdullah bin Abdullah bin Ubay merupakan sahabat kenamaan yang akhirnya juga mencapai syahid pada Perang Yamamah.[7]   

Beberapa keutamaan Muawiyah

Sebagai sahabat Nabi, Muawiyah berinteraksi langsung dengan Rasulullah. Bahkan Muawiyah didaulat menjadi salah satu sekretaris Nabi yang termasuk di dalamnya tugas menulis wahyu. Menyandang pekerjaan mulia itu tentu saja bukan terjadi secara kebetulan, namun menunjukkan kapasitas betapa cerdas, jujur, dan telitinya Muawiyah.

Hal ini tertuang dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahihnya, Dari Ikrimah bin Ammar, dari Abu Zamil Sammak bin Walid dari Ibnu Abbas bahwasanya Abu Sufyan berkata, “Wahai Rasulullah berikanlah tiga perkara kepadaku!” Rasulullah menjawab, “Ya”. Ia berkata, “Perintahkanlah aku supaya memerangi orang-orang kafir sebagaimana dulu aku memerangi orang-orang Islam.” Rasulullah menjawab, “Ya”. Ia berkata lagi, “Dan Muawiyah engkau jadikan sebagai juru tulismu?” Rasulullah menjawab. “Ya”.[8]

Menjadi sekretaris Rasulullah sudah barang tentu mendapat kepercayaan Rasul. Muawiyah menikmati posisinya sebagai sahabat yang berada di sekeliling Nabi. Setelah pembebasan Makkah, ia bertekad selalu mendampingi Nabi, sebab ia sadar dibandingkan sahabat yang lain ia sangatlah tertinggal. Namun rupanya itu tak menghalanginya meraih penghargaan dari Rasul, yang berwujud doa untuknya. Didoakan secara khusus oleh Rasulullah sungguh merupakan anugerah yang tak terkira. Rasulullah mendoakannya, “Ya Allah, jadikanlah ia penunjuk dan yang diberi petunjuk, tunjukilah ia dan berilah manusia petunjuk karenanya.”[9]

Pribadi yang jujur dan tepercaya dari Muawiyah membuat banyak perawi hadits mengambil hadits darinya. Tercatat seratus enam puluh tiga hadits diriwayatkan dari Muawiyah. Dari jumlah itu terdapat empat hadits yang disepakati Bukhari-Muslim, kemudian empat hadits diriwayatkan Imam Bukhari dan lima hadits diriwayatkan Imam Muslim.[10] Meski memang banyak juga terdapat hadits-hadits lemah dan palsu yang menceritakan Muawiyah, entah tentang keutamaannya maupun keburukannya. Fenomena ini tak lepas dari usaha para pendukung dan musuh-musuhnya saat menggambarkan sosok Muawiyah.

Di antara hadits Muawiyah yang sangat terkenal adalah larangan melakukan Shalat Sunah setelah Shalat Ashar.

Muawiyah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Sesungguhnya kalian telah melakukan shalat?! Sungguh kami telah menemani Rasululah shalallahu ‘alaihi wa sallam, tidaklah kami melihat beliau telah melakukan shalat tersebut, dan sungguh beliau telah melarangnya, yakni dua rakaat setelah Ashar.”[11]     


Disarikan dari buku Legenda 4 Umara Besar, Kisah seni memimpin dari penguasa empat dinasti Islam, karya Indra Gunawan, Lc.
Ditulis ulang oleh Syafiq El quds



[1] Imam Suyuthi (1445-1505 M), Tarikh al-Khulafa, hal. 194
[2] Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa an-Nihayah (11/396)
[3] Salah satu kisah simpatik Hindun adalah ketika ia membela Zainab putri Rasulullah dari sergapan Quraisy. Ketika itu baru saja usai Perang Badar dan Hindun kehilangan ayah, paman, dan saudaranya. Zainab yang masih di Makkah berusaha hijrah ke Madinah bergabung dengan ayahnya, namun kaum lelaki Quraisy mencegat dan menyerangnya. Zainab terjatuh dari untanya padahal sedang mengandung, Hindun yang mendengar itu lantas bergegas menolong Zainab dan mengumpat para penyerang, “Berperang melawan wanita para pengecut? Di mana keberanian kalian saat Perang Badar?” Dengan sigap Hindun membantu Zainab dan membiarkannya menyusul Rasul ke Makkah. (Nahw Ru’yat Jadidah li at Tarikh, hal. 200)
[4] Ibnu Sa’ad (784-845 M). Ath Thabaqat al-Kubra (8/172).
[5] Thaif berada di ketinggian 1.700 m dari lereng Pegunungan Serawat, berjarak sekitar 97 km dari tenggara Makkah
[6] Perang melawan Romawi di Syam tahun 634 M/13 H, periode Khalifah Abu Bakar,  berakhir dengan kemenangan Muslimin
[7] Perang Yamamah adalah perang melawan Musailamah al-Kadzdzab, Nabi Palsu, tahun 633 M/12 H, pada periode Khalifah Abu Bakar
[8] (HR. Muslim no. 2501, Ibnu Hibban no. 7209, dan lainnya)
[9] (HR. Bukhari dalam Tarikh 4/1/327, at-Tirmidzi 2/316, Ibnu Asakir 16/684-686 dan adz-Dzahabi dalam Siyar 8/38, hadis ini dinilai shahih oleh Syaikh al-Albani dalam ash-Shahihah 4/615-618). Imam Ahmad dalam musnadnya meriwayatkan dari al-Mirbadh bin Sariyyah dia berkata : Saya mendengar Rasulullah bersabda, “Ya Allah ajarilah Muawiyah al-Quran dan hisab serta lindungilah ia dari azab.”
[10] Imam adz-Dzahabi, Siyar A’lam Nubala’ 3/162
[11] (HR. Bukhari no. 3766, Ahmad 4/99)

Wednesday, 5 October 2016

Muawiyah bin Abu Sufyan, 602-680 M (Prolog)



"Peletak dasar Dinasti Islam. Seorang administrator ulung, mengetahui berbagai perkara sedetail-detailnya. Para sejarawan menjulukinya Sebaik-baik Penguasa sepanjang raja-raja Islam."

Prolog

Di tengah-tengah bayang-bayang kejayaan Khulafaur Rasyidin, Muawiyah tampil memberi corak baru bagaimana sebuah pemerintahan Islam dijalankan. Lewat kepiawaiannya  dalam memimpin, kejayaan Islam membentang ke tiga benua, sebagian besar wilayah itu menikmati masa-masa damai dan tenteram!

Dicantumkannya Muawiyah sebagai salah satu silsilah umara besar tentu saja mengundang tanda tanya besar di benak pembaca. Tak banyak yang tahu betapa Muawiyah telah bekerja luar biasa dalam memajukan Islam. Periode pemerintahannya sungguh merupakan rahmat menyejukkan, setelah umat dirundung huru-hara berkepanjangan. Futuhat yang terhenti giat kembali, sistem tata negara dirombak sedemikian rupa, dan yang paling prestisius adalah pertumpahan darah sesama Muslim tak lagi terjadi. Damaskus[1] menjelma jadi simbol kedigdayaan Islam masa itu, menggetarkan Byzantium, memadamkan segala makar, dan meluluhkan pihak-pihak yang menentang.

Muawiyah adalah simbol kebesaran Dinasti Umayah. Berbicara sepak terjang Dinasti Umayah dalam meluaskan futuhat dan berbagai kemajuan lainnya, tak afdal bila sumbangsih Muawiyah tak disertakan. Seni memimpinnya melampaui Abdul Malik bin Marwan, Walid bin Abdul Malik, bahkan Umar bin Abdul Aziz sekalipun, sebagai punggawa besar kebanggaan Bani Umayah.

Tak ayal, atas segala jerih payah dan prestasinya, kaum cendekia sepakat melabeli Muawiyah sebaik-baiknya penguasa Islam setelah Khulafaur Rasyidin!

Namun sayang, kegemilangan Muawiyah memerintah bertolak belakang dengan apa yang ditulis sebagian sejarawan. Sudah nasibnya mungkin, tragedi perselisihannya dengan Ali bin Abi Thalib, membuatnya tak pernah mendapat nama baik lagi. Hal mulia apa pun yang ia rintis, cap pembangkang seakan selalu tersemat padanya. Perang Shiffin merupakan puncak khilafnya yang sangat fatal. Penulisan sejarah tentangnya selalu digiring bahwa dialah biang bencana segala kerusuhan tersebut. Ia digambarkan seorang ambisius yang haus darah, berani menentang khalifah yang sah, dan menghalalkan segala cara demi tercapainya apa yang diinginkan.

Malangnya lagi, budaya tulis menulis justru berkibar di era Abbasiyah dan setelahnya. Persaingan wibawa dinasti pun menjadi faktor tersendiri mengapa Muawiyah dan jajaran penguasa Umayah selalu mendapat stigma buruk. Sejarah tentang Muawiyah benar-benar tambah salah kaprah mana kala para sejarawan Syiah tak mampu melepaskan keberpihakan alirannya. Buku-buku sejarah bertebaran, mendiskreditkannya sedemikian rupa, bahkan di luar batas dan akal sehat. Fitnah bertumpuk-tumpuk melekat padanya. Betapa ia telah jadi korban distorsi sejarah yang parah.

Tak sebatas perang Shiffin dan perselisihannya dengan Ali, aib dan cela Muawiyah bahkan menyeret juga pada hal-hal lainnya. Pada masanya dikabarkan bahwa mimbar-mimbar digunakan sebagai sarana propaganda mengutuk Ali dan keturunannya. Lalu ia dianggap berwatak culas dengan menetapkan anaknya Yazid sebagai penerusnya. Belum lagi ditambah cerita suram terkait persaingan Bani Hasyim dan Umayah di masa lampau, kian menyuburkan kritikan atas kebijakannya mengedepankan fanatisme kabilah. Dan hal yang amat keterlaluan, Muawiyah bahkan dituding sebagai dalang di balik pembunuhan Hasan bin Ali bin Abi Thalib.

Sebagai sahabat Rasul dan salah satu penulis wahyu, segala hujatan itu sungguh tak layak disematkan padanya. Bahkan hingga kini, bagi mereka yang belum menyelami sejarah Islam dengan utuh, stigma Muawiyah selalu saja penuh cela. Mari reflesikan dengan jujur, apa yang terlintas pertama kali di benak anda ketika nama Muawiyah bin Abu Sufyan disodorkan? Jangan-jangan ingatan anda langsung tertuju pada pertumpahan darah di Shiffin. Bahwa Muawiyah sosok yang arogan, berani menentang menantu Rasulullah, Ali bin Abi Thalib. Dosa-dosanya benar-benar tak terampuni!

Pembaca yang budiman, semoga kita terhindar dari dosa berprasangka. Menuduh sahabat baginda Rasul yang mulia dengan lontaran fitnah-fitnah yang tak berdasar.

Mungkin inilah yang dinamakan dengan distorsi sejarah Islam. Harus ada kesadaran bersama mengubah kepalsuan itu. Sebab, salah satu faktor utama merosotnya kaum Muslimin sekarang ditengarai akibat minimnya kesadaran umat pada hakikat sejarah Islam. Bahwa kita perlu bercermin pada golden era untuk segera bangkit, bukan bertopang dagu, berlindung di balik kejayaan masa silam. Mudah-mudahan dengan sinergi umara yang adil dan rakyat yang taat. Terciptalah baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur.      

Dari Keturunan Pemimpin

Muawiyah berasal dari keluarga pemuka Quraisy. Lengkapnya ia bernama Muawiyah bin Abu Sufyan bin Harb bin Abdu Syams bin Abdu Manaf bin Qusay bin Kilab. Julukannya adalah Abu Abdurrahman.[2] Dilahirkan sekitar tahun 602 M. Ia seorang lelaki yang bertubuh tinggi, berkulit putih, tampan, serta karismatik. Jika tertawa, bibir atasnya bergetar, jenggotnya putih terkadang berwarna kuning berkilau seperti emas.[3]

Ayahnya Abu Sufyan termasuk salah satu pemimpin Quraisy, seorang pedagang besar yang menguasai perekonomian Makkah.[4] Setelah Perang Badar, Abu Sufyan menjadi pemimpin tunggal di kalangan kaum kafir Quraisy. Ia memimpin kaumnya pada Perang Uhud dan penyerangan Madinah[5] pada Perang Khandaq.

Adapun ibunya bernama Hindun binti Utbah bin Rabiah bin Abdu Syam bin Abdu Manaf. Seorang wanita penuh gelora dan berhati kuat. Pada Perang Badar, ia kehilangan ayah, paman, dan saudaranya sekaligus menjadi korban perang. Lalu ia menuntut balas dengan menyewa Wahsyi, budak bayaran yang diperintahkan khusus membunuh Hamzah bin Abdul Muthallib pada Perang Uhud. Kisahnya lantas menjadi terkenal, akibat dirasuki dendam membara.

Muawiyah memiliki tujuh saudara, di antara yang terkenal adalah Yazid bin Abu Sufyan dan Ummu Habibah,[6] yang lainnya bernama Utbah bin Abu Sufyan, Anbasah bin Abu Sufyan, Ummu Hakam binti Abu Sufyan, Izzah binti Abu Sufyan dan Amimah binti Abu Sufyan.[7] Ummu Habibah sendiri merupakan salah satu istri Rasulullah hingga disebut juga Ummul Mukminin (Ibunda kaum Mukminin). Ibnu Katsir[8] lalu memberi predikat Muawiyah dengan Khalul Mukminin, dinisbatkan pada Ummu Habibah sebagai saudaranya [9]  

bersambung...


Disarikan dari buku Legenda 4 Umara Besar, Kisah seni memimpin dari penguasa empat dinasti Islam, karya Indra Gunawan, Lc.
Ditulis ulang oleh Syafiq El quds




[1] Damaskus merupakan ibu kota Dinasti Umayah, sekarang menjadi ibu kota Suriah. Ditaklukan pertama kali pada masa Umar oleh Khalid bin Walid tahun 634 M.
[2] Adz Dzahabi (1274-1348), Siyar A’lam an Nubala’ (3/120)
[3] Muhammad as-Sayyid al-Wakil, Al-Umawiyyun bayna asy-Syarq wa al-Gharb, (Darul Qalam, cet. I, Damaskus, 1995 M), hal. 24.
[4] Makkah merupakan kota suci tempat kelahiran Nabi Muhammad. Terletak di kawasan Hijaz, sekitar 30 km dari Jeddah. Nama lainnya adalah Ummul Qura, al-Haram, dan al-Baladul Amin.
[5] Madinah merupakan kota suci kedua bagi umat Islam. Terletak di kawasan Hijaz, sekitar 340 km dari utara Makkah dan 190 km dari Laut Merah. Nama resminya al-Madinah al-Munawwarah.
[6] Aslinya Ramlah binti Abu Sufyan, sebelumnya ia dinikahi Ubaidullah bin Jahsy dan hijrah bersamanya ke Habasyah (Ethiopia) pada 615 M. Di sana suaminya tersebut murtad memeluk nasrani hingga meninggalnya. Ummu Habibah tetap berpegang teguh pada Islam sampai Rasulullah mengirim surat pada Raja Najasy bulan Muharram, tahun Hijriah bahwa Rasul mengkhitbah Ummu Habibah.
[7] Ibnu Qudamah (1147-1223 M) at-Tabyin fi Ansab al-Qurasyiyyin, hal. 209.
[8] Ibnu Katsir (1301-1373 M), seorang ulama dan sejarawan Muslim terkemuka dari Suriah. Di antara karya agungnya adalah Tafsir Ibnu Katsir dan al-Bidayah wa an-Nihayah.
[9] Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa an-Nihayah. (8/117)