Showing posts with label Sastra Lama. Show all posts
Showing posts with label Sastra Lama. Show all posts

Thursday, 15 September 2016

Gurindam Dua Belas (Bagian 4 - Selesai)



Pasal Kesepuluh :

Dengan bapa jangan durhaka
Supaya Allah tidak murka

Dengan ibu hendaklah hormat
Supaya badan dapat selamat

Dengan anak janganlah lalai
Supaya boleh naik ke tengah balai

Dengan isteri dan gundik janganlah alpa
Supaya kemaluan jangan menerpa

Dengan kawan hendaklah adil
Supaya tangannya jadi kafil


Pasal Kesebelas :

Hendaklah berjasa 
Kepada yang sebangsa

Hendaklah jadi kepala
Buang perangai yang cela

Hendaklah memegang amanat
Buanglah khianat

Hendak marah
Dahulukan hujjah

Hendak dimalui
Jangan memalui

Hendak ramai 
Murahkan perangai


Pasal Kedua belas :

Raja mufakat dengan menteri
Seperti kebun berpagarkan duri

Betul hati kepada raja
Tanda jadi sebarang kerja

Hukum adil atas rakyat 
Tanda raja beroleh inayat

Kasihkan orang yang berilmu
Tanda rahmat atas dirimu

Hormat akan orang yang pandai
Tanda mengenal kasa dan cindai

Ingatkan dirinya mati
Itulah asal berbuat bakti

Akhirat itu terlalu nyata
Kepada hati yang tidak buta

Dinukil dari “Mengenal Sastra Lama” karya Eko Sugiarto hal. 71-82
Ditulis ulang oleh Syafiq Elquds

Gurindam Dua belas (Bagian 3)



Pasal Ketujuh :

Apabila banyak berkata-kata
Di situlah jalan masuk dusta

Apabila banyak berlebih-lebihan suka
Itulah tanda hampirkan duka

Apabila kita kurang siasat
Itulah tanda pekerjaan hendak sesat

Apabila anak tidak dilatih
Jika besar bapanya letih

Apabila banyak mencacat orang 
Itulah tanda dirinya kurang

Apabila orang yang banyak tidur
Sia-sia sajalah umur

Apabila mendengar akan khabar
Menerimanya itu hendaklah sabar

Apabila mendengar akan aduan
Membicarakannya itu hendaklah cemburuan

Apabila perkataan yang lemah lembut
Lekaslah segala orang mengikut

Apabila perkataan amat kasar
Lekaslah orang sekalian gusar

Apabila pekerjaan yang amat benar
Tiada boleh orang berbuat onar


Pasal Kedelapan :

Barangsiapa khianat akan dirinya
Apalagi kepada lainnya

Kepada dirinya ia aniaya
Orang itu jangan engkau percaya

Lidah suka membenarkan dirinya 
Daripada yang lain dapat kesalahannya

Daripada memuji diri hendaklah sabar
Biar daripada orang datangnya khabar

Orang yang suka menampakkan jasa
Setengah daripadanya syirik mengaku kuasa

Kejahatan diri sembunyikan 
Kebajikan diri diamkan 

Keaiban orang jangan dibuka 
Keaiban diri hendaklah sangka


Pasal Kesembilan :

Tahu pekerjaan tak baik tetapi dikerjakan
Bukannya manusia ia itulah syaitan

Kejahatan seorang perempuan tua
Itulah iblis punya punggawa

Kepada segala hamba-hamba raja
 Di situlah syaitan tempatnya manja

Kebanyakan orang yang muda-muda
Di situlah syaitan tempat bergoda

Perkumpulan laki-laki dengan perempuan 
Di situlah syaitan punya jamuan

Adapun orang tua yang hemat
Syaitan tak suka membuat sahabat

Jika orang muda kuat berguru
Dengan syaitan jadi berseteru

Gurindam Dua Belas (Bagian 2)



Pasal keempat :

Hati itu kerajaan di dalam tubuh
Jikalau zalim segala anggota tubuh pun rubuh

Apabila dengki sudah bertanah
Datanglah daripadanya beberapa anak panah 

Mengumpat dan memuji hendaklah pikir
Di situlah banyak orang yang tergelincir

Pekerjaan marah jangan dibela
Nanti hilang akal di kepala

Jika sedikit pun berbuat bohong
Boleh diumpamakan mulutnya itu pekung

Tanda orang yang amat celaka
Aib dirinya tiada ia sangka

Bakhil jangan diberi singgah
Itulah perompak yang amat gagah

Barangsiapa yang sudah besar
Janganlah kelakuannya membuat kasar

Barngsiapa perkataan kotor
Mulutnya itu umpama ketur

Di mana tahu salah diri
Jika tidak orang lain yang berperi

Pekerjaan takabur jangan dirapih
Sebelum mati didapat juga sapih

Pasal Kelima :

Jika hendak mengenal orang berbangsa
Lihat kepada budi dan bahasa

Jika hendak mengenal orang yang berbahagia
Sangat memeliharakan dari yang sia-sia

Jika hendak mengenal orang mulia
Lihatlah kepada kelakuan dia

Jika hendak mengenal orang yang berilmu
Bertanya dan belajar tiadalah jemu

Jika hendak mengenal orang yang berakal
Di dalam dunia mengambil bekal

Jika hendak mengenal orang yang baik perangai
Lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai

Pasal Keenam :

Cahari olehmu akan sahabat
Yang boleh dijadikan obat

Cahari olehmu akan guru
Yang boleh tahukan tiap seteru 

Cahari olehmu akan isteri
Yang boleh menyerahkan diri

Cahari olehmu akan kawan
Pilih segala orang yang setiawan

Cahari olehmu akan abdi
Yang ada baik sedikit budi

Gurindam Dua Belas (Bagian 1)



GURINDAM DUA BELAS

Pasal Pertama :

Barangsiapa tiada memegang agama
Sekali-kali tiada boleh dibilang nama

Barangsiapa mengenal yang empat
Maka yaitulah orang yang makrifat

Barangsiapa mengenal Allah
Suruh dan tegaknya tiada ia menyalah

Barangsiapa mengenal diri
Maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri

Barangsiapa mengenal dunia
Tahulah ia barang yang terpedaya

Barangsiapa mengenal akhirat
Tahula ia dunia mudharat


Pasal Kedua :

Barangsiapa mengenal yang tersebut 
Tahulah ia makna takut

Barangsiapa meninggalkan sembahyang
Seperti rumah tiada bertiang

Barangsiapa meninggalkan puasa
Tidaklah mendapat dua termasa

Barangsiapa meninggalkan zakat
Tiadalah hartanya beroleh berkat

Barangsiapa meninggalkan haji
Tiadalah ia menyempurnakan janji


Pasal Ketiga :

Apabila terpelihara mata
Sedikitlah cita-cita

Apabila terpelihara kuping
Khabar yang jahat tiada damping

Apabila terpelihara lidah 
Niscaya dapat daripadanya faedah

Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan 
Daripada segala berat dan ringan

Apabila perut terlalu penuh
Keluarlah fi’il yang tidak senonoh

Anggota tengah hendaklah ingat
Di situlah banyak orang yang hilang semangat

Hendaklah peliharakan kaki
Daripada berjalan yang membawaa rugi

Gurindam Dua Belas (Muqoddimah)

Gurindam Dua Belas

Ia termasuk gurindam yang terkenal. Yang merupakan kumpulan gurindam yang dikarang oleh Raja Ali Haji dari Riau, salah seorang pengarang terkenal abad ke-19, sezaman dengan Abdullah bin Abdulkadir Munsyi. Selain sebagai penyair, Ali Haji memang seorang raja di kepulauan Riau pada 1844-1857.

Gurindam Dua Belas ditulis oleh Raja Ali Haji di Pulau Penyengat, Riau, pada 23 Rajab 1263 H, ketika beliau berusia 38 tahun. Karya yang terdiri atas 12 pasal ini dikategorikan sebagai puisi didaktik (Syi’r Al Irsyadi) karena berisi nasihat dan petunjuk menuju hidup yang diridhoi Allah.

Secara rinci, isi Gurindam Dua Belas adalah sebagai berikut :

1. Pasal Satu : Agama
2. Pasal Dua : Rukun Islam
3. Pasal Tiga : Pengendalian diri lewat pancaindera
4. Pasal Empat : Sifat-sifat dan bekerjanya pikiran serta perasaan manusia
5. Pasal Lima : Mengenal sifat-sifat luhur
6. Pasal Enam : Kawan Hidup yang sejati
7. Pasal Tujuh : Sikap dan tingkah laku manusia yang utama
8. Pasal Delapan : Mawas diri
9. Pasal Sembilan : Cara menghindari perbuatan jahat
10. Pasal Sepuluh : Sikap baik dalam kehidupan keluarga
11. Pasal Sebelas : Sikap baik dalam pergaulan antarmanusia
12. Pasal Dua belas : Nasihat untuk para penguasa agar berhasil dalam tugasnya.

Wednesday, 31 August 2016

Contoh Pantun Orang Tua (Bagian 2 - Habis)


b. Pantun Agama

Kemumu di dalam semak
Jatuh melayang selaranya
Meski ilmu setinggi tegak
Tidak sembahyang apa gunanya

Kemumu di tengah pekan
Diembus angin jatuh ke bawah
Ilmu yang tidak diamalkan
Bagaikan pohon tidak berbuah

Bunga kenanga di atas kubur
Bunga melati dari Pulau Jawa
Apa guna sombong dan takabur
Rusak hati badan binasa

Asam kandis asam gelugur
Ketiga asam si riang-riang
Menangis mayat di pintu kubur
Teringat badan tidak sembahyang

Daun terap di atas dulang
Anak udang mati dituba
Dalam kitab ada terlarang
Yang haram jangan dicoba

Rusa banyak di dalam rimba
Kera pun banyak tengah berhimpun
Dosa banyak dalam dunia
Segeralah kita meminta ampun

Buah pandan jatuh tercebur
Delima tumbuh di atas batu
Remuk badan di dalam kubur
Terima azab sudahlah tentu

Padang temu padang baiduri
Tempat raja membangun kota
Bijak bertemu dengan jauhari
Bagaikan cincin dengan permata

Raja gagah lagi sakti 
Laksamana pergi berperang
Supaya tidak sesal di hati
Janganlah kena perdaya orang

Anak gajah mandi di sumur
Ambil galah dalam perahu
Orang muda jangan takabur
Cobaan Allah siapa tahu

Sumber : "Mengenal Sastra Lama" karya Eko Sugiarto

Contoh Pantun Orang Tua (Bagian 1)


a. Pantun Nasihat

Padi segenggam ditumbuk luluh 
Tidak boleh ditanak lagi
Kehendak Allah juga yang sungguh
Tidak boleh sekehendak hati

Kayu cendana di atas batu
Sudah diikat dibawa pulang
Adat dunia memang begitu
Benda yang buruk memang terbuang

Buah pisang dari hilir
Dibawa orang pergi ke hulu
Barang kerja hendaklah dipikir
Supaya tidak mendapat malu

Kemuning di tengah balai
Bertumbuh terus semakin tinggi
Berunding dengan orang tak pandai
Bagaikan alu pencukil duri

Bungga anggrek pohon benalu
Buah durian dari Jawa
Kalau cerdik pikir dahulu
Supaya kelak tidak kecewa

Parang ditetak ke batang sena
Belah buluh taruhlah temu
Barang dikerja takkan sempurna
Bila tak penuh menaruh ilmu

Padang temu padang baiduri
Tempat raja membangun kota
Bijak bertemu dengan jauhari
Bagaikan cincin dengan permata
Raja gagah lagi sakti 
Laksamana pergi berperang
Supaya tidak sesal di hati
Janganlah kena perdaya orang

Anak gajah mandi di sumur
Ambil galah dalam perahu
Orang muda jangan takabur
Cobaan Allah siapa tahu


Sumber : "Mengenal Sastra Lama" karya Eko Sugiarto

Contoh Pantun Anak-anak (Bagian 2 - Habis)


b. Pantun berduka cita

Batang tebu berbuku-buku
Tebu dipotong dibagi-bagi
Menangis awak duduk di pintu
Melihat ayah dan ibu pergi

Besar buahnya pisang batu
Jatuh melayang selaranya
Saya ini anak piatu
Sanak saudara tidak punya

Patin beli belanak beli
Udang di pasar dibeli pula
Adik benci kakak pun benci
Orang sekampung membenci pula

Buah mangga di tepi sawah 
Masak sedikit bawakan bakul
Bapak saya sangat pemarah
Salah sedikit suka memukul

Pergi ke pasar membawa labu
Labu diiris hingga sejengkal
Orang membeli baju yang baru
Hamba memakai baju bertambal

Bunga cempaka ditebang rebah
Akarnya sudah tumbuh cendawan
Bapak dan ibu pergi ke sawah
Adik di rumah tidak berkawan


Sumber : "Mengenal Sastra Lama" karya Eko Sugiarto

Contoh Pantun Anak-anak (Bagian 1)


a. Pantun bersuka cita

Ayam jantan terbang lepas
Hinggap di ranting pohon tumbang
Melihat ibu pulang lekas 
Hatiku senang bukan kepalang

Hanyut batang berlilit tali
Terdampar ia hingga seberang
Lihat bunda sudah kembali
Hati susah menjadi senang

Anak beruk di tepi pantai
Anak elang belajar terbang
Biarlah buruk kain dipakai
Sebab sayang untuk dibuang

Abu berserak di dekat arang
Disiram air api pun mati
Ibu pulang bapak pun datang
Kami semua berbesar hati

Manis sungguh tebu seberang
Dari akar sampai ke pucuk
Manis sungguh mulut orang
Kita menangis jadi terbujuk

Elok rupanya kumbang jati
Dibawa itik pulang petang
Tidak terkata besar hati
Melihat ibu sudah datang

Ramai orang bersorak-sorak
Menepuk gendang dengan rebana
Alangkah besar hati awak
Mendapat baju dan celana

Sayang pisang mulai layu
Bunga keluar dari kelopak 
Lelah sungguh ibu merayu
Adik tak juga mau tergelak

Anak udang, udang juga
Bolehkah jadi anak tenggiri?
Anak orang, orang juga
Bolehkah jadi anak sendiri?


Sumber : "Mengenal Sastra Lama" karya Eko Sugiarto

Pantun Selayang Pandang


A. Pantun 

Pantun merupakan bentuk puisi asli Indonesia (Melayu). Namun, istilah pantun pernah menjadi perdebatan sebagian pengamat sastra. Sebagian dari mereka menyatakan bahwa kata pantun berarti misal, seperti, umpama (pengertian seperti ini juga termuat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia)

Namun, ada sebagian orang yang menyatakan bahwa kata pantun berasal dari bahasa Jawa, yaitu pantun atau pari. Baik pantun maupun pari sama-sama berarti padi dalam bahasa Indonesia (Melayu)

Ciri-ciri Pantun :
  • Setiap untai (bait) terdiri atas empat larik (baris).
  • Banyaknya suku kata tiap larik sama atau hampir sama (biasanya terdiri atas 8-12 suku kata).
  • Pola sajak akhirnya adalah ab-ab.
  • Larik pertama dan kedua disebut sampiran, sedangkan larik ketiga dan keempat disebut isi pantun (makna, tujuan, dan tema pantun). Larik sampiran ini mengandung tenaga pengimbau bagi pendengar atau pembaca untuk segera mendengar atau membaca larik ketiga dan keempat.

Berdasarkan maksud/isi/temanya pantun dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu pantun anak-anak, pantun remaja/dewasa, dan pantun orang tua. Masing-masing menunjukkan kekhasan tema sesuai dengan perilaku pemiliknya.


Sumber : "Mengenal Sastra Lama" karya Eko Sugiarto