Showing posts with label Seuntai hikmah. Show all posts
Showing posts with label Seuntai hikmah. Show all posts

Tuesday, 8 November 2016

Satu Akhlak Akan Menyeret Akhlak yang Lain (Bagian 2 - Selesai)



BERPRASANGKA BURUK DAN MEREMEHKAN ORANG LAIN

Keduanya jelas akhlak tercela. Kebalikannya adalah berprasangka baik dan menghormati orang lain.

Ternyata, akhlak-akhlak ini akan memicu akhlak lain dari jenisnya yaitu kesombongan atau lawannya tawadhu’ (rendah hati)

Menurut Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin (III/364), prasangka baik dan menghormati orang lain berhubungan erat dengan ketawadhuan. Ketika menjelaskan cara melatih diri agar menjadi orang yang tawadhu, beliau menjabarkan resep aplikatifnya.

“Sudah menjadi kewajiban seorang hamba untuk tidak menyombongkan diri di atas siapa pun,” Kata al Ghazali.

Bahkan, jika melihat orang bodoh, kata al Ghazali lagi, seorang hamba seharusnya berkata, “Orang ini mendurhakai Allah dengan ketidaktahuannya, sedang aku mendurhakaiNya padahal aku tahu. Dia lebih bisa dimaafkan dibanding diriku.”

Jika melihat orang berilmu, seorang hamba seharusnya berkata, “Orang ini telah mengetahui apa yang tidak aku ketahui, maka bagaimana mungkin aku sama dengannya?”

Jika melihat orang yang lebih tua usianya, kata al Ghazali lagi, seorang hamba seharusnya berkata, “Orang ini telah menaati Allah sebelum aku, maka bagaimana mungkin aku sama dengannya?”

Jika melihat orang yang lebih muda, seorang hamba itu berkata, “Sungguh aku telah mendurhakai Allah sebelum dia, maka bagaimana mungkin aku sama dengannya?”

Jika melihat orang yang melakukan bid’ah atau orang kafir, seorang hamba berkata, “Aku tidak tahu bahwa bisa jadi hidupnya diakhiri dengan masuk Islam sementara hidupku diakhiri dengan apa yang dilakukannya sekarang. Sebab, langgengnya hidayah itu tidak diserahkan kepadaku sebagaimana permulaannya pun tidak diserahkan kepadaku.”


MAKAN MINUM BERLEBIHAN

Makan dan minum adalah perkara mubah. Namun ia bisa menjadi sangat buruk dan mengundang penyakit yang beragam jika batasan dan adabnya dilanggar; baik penyakit lahiriah maupun batiniah, termasuk di bidang akhlak.

Di antara akhlak buruk yang diam-diam “membonceng” di belakangnya adalah egois dan tidak berempati kepada penderitaan orang lain, mudah terpancing syahwatnya, dan malas beribadah.

Abu Sulaiman ad-Darani berkata, “Barangsiapa kekenyangan niscaya enam penyakit masuk kepadanya: (a) kehilangan lezatnya bermunajat, (b) sulit untuk menghafal hikmah (ilmu), (c) terhalang dari bersimpati kepada sesama makhluk, sebab ketika kenyang ia menyangka semua makhluk juga kenyang, (d) berat untuk beribadah, (e) meningkatnya syahwat-syahwat, dan (f) segenap kaum mukmin berkeliling di sekitar masjid-masjid sementara orang-orang kekenyangan berkeliling sekitar tempat-tempat pembuangan kotoran.” (Ihya Ulumuddin, III/87)


GEMAR BERDEBAT 

Meski mengizinkan mujadalah (debat/adu argumen), namun Al Quran mensyaratkan perdebatan itu harus dilakukan dengan cara yang paling baik (An Nahl : 125).

Ini mudah dimengerti. Sebab, perdebatan rawan diwarnai pelecehan dan pencemaran kehormatan orang lain. Padahal, sesama muslim bersaudara. Darahnya, hartanya, dan kehormatannya haram dilanggar (Hadits Riwayat Muslim, dari Abu Hurairah)

Rasulullah sangat tidak menyukai debat kusir (mira’), yakni sekedar menang-menangan dan tidak dimaksudkan meraih kebenaran. Beliau bahkan menjamin sebuah rumah di tepian surga bagi siapa saja yang mampu meninggalkan debat walaupun dia benar. (Hadits Riwayat Abu Dawud dari Abu Umamah, hadits hasan)

Selain melecehkan dan merusak kehormatan orang lain, di antara akhlak tercela yang sering muncul mengiringi perdebatan adalah memutuskan silaturahim dan ikatan persaudaraan.

Al Ashma’i mengutip nasihat seorang ulama, “Debat kusir merusak persahabatan lama dan mencerai beraikan ikatan yang kokoh. Hal paling minimal di dalamnya adalah sekedar menang-menangan, dan ia adalah penyebab terkuat putusnya hubungan.” (Riwayat Ibnu Abdil Barr dalam AL Jami’, II/952)   
  
Wallahu a’lam bish shawab


Dinukil dari Hidayatullah edisi Oktober 2015 / Dzulhijjah 1436 H, dari rubrik kajian utama, dengan perubahan seperlunya.
Ditulis ulang oleh Syafiq Elquds. 

Monday, 7 November 2016

Satu Akhlak Akan Menyeret Akhlak yang Lain (Bagian 1)



Tidak ada akhlak yang bisa bertahan sendirian. Masing-masing membutuhkan dukungan dari akhlak lain. Sebaliknya, suatu akhlak akan mendorong kemunculan akhlak lain. Ibarat makhluk-makhluk dalam suatu ekosistem, setiap akhlak mulia membutuhkan dukungan akhlak mulia lainnya. Demikian pula akhlak tercela.

Pendek kata, rusak dan punahnya suatu akhlak mulia bisa mengakibatkan rusak dan punahnya akhlak mulia yang lain. Sama pula, kehadiran suatu akhlak buruk akan menyeret akhlak buruk lain.

Logika di balik berantainya kebaikan dan keburukan ini dipahami dengan baik oleh generasi Salaf, sehingga Urwah bin Zubair (tabi’in) berkata, “Bila engkau melihat seseorang melakukan kebaikan, ketahuilah bahwa kebaikan itu memiliki saudara-saudara pada diri orang tersebut.”

Sebaliknya, kata Urwah lagi, “Bila engkau melihat seseorang melakukan keburukan, ketahuilah bahwa keburukan itu mempunyai saudara-saudara pada diri orang tersebut.”
“Sesungguhnya kebaikan itu menunjukkan kepada saudara-saudaranya, dan demikian pula keburukan itu menunjukkan kepada saudara-saudaranya.” (Riwayat Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’, II/177)

Dari sini, kita bisa mengerti mengapa Rasulullah meminta kita beramal shalih secara kontinyu, walaupun kecil kadarnya. Sederhana saja, karena setiap kebaikan akan memanggil kawan-kawannya , sedikit demi sedikit, waktu demi waktu, sampai akhirnya diri kita dipenuhi aneka kebaikan dari segenap sisi. 

Menyeret Saudara

Ada sejumlah akhlak dan perbuatan yang bila dilakukan akan mendatangkan akhlak dan amal lain dari jenisnya, baik yang mulia maupun tercela. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan ulama telah merumuskan rambu-rambunya untuk kita. Berikut ini disajikan sebagian kecil contoh.

BERHUTANG

Sebenarnya, pinjam meminjam dan utang-piutang adalah perbuatan lazim sejak dahulu kala. Bahkan ayat terpanjang dalam Al Qur’an, yakni surat Al Baqarah ayat 282 ternyata bicara masalah utang piutang.

Bila utang piutang dilaksanakan dengan mematuhi syariat, maka di dalamnya terkandung sifat tolong-menolong, saling percaya, menepati janji, dan meringankan beban sesama. Ini jelas akhlak mulia dalam Islam.

Akan tetapi, mengutangi (menjadi kreditur) tentu berbeda dengan berhutang (menjadi debitur). Tangan di atas tidak sama dengan tangan di bawah.

Meski tidak pernah melarang umatnya berutang, akan tetapi Rasulullah meminta kita berhati-hati dalam masalah ini. Sebab, berutang juga bisa menjadi pemicu sejumlah akhlak tercela.

Diceritakan oleh ummul mukminin ‘Aisyah, bahwa Rasulullah sering berdoa agar terhindar dari himpitan utang. Lalu, ada seseorang yang berkata kepada beliau, “Betapa seringnya anda memohon perlindungan dari utang, wahai Rasulullah.” Beliau menanggapi, “Sungguh seseorang itu, bila terhimpit utang, ia berbicara lalu bohong, dan berjanji lalu ingkar.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Mari kita amati. Ketika seseorang terhimpit utang dan tagihan datang, bisa saja ia berbohong dan menyuruh orang lain berbohong. Atau, ia berjanji akan segera membayar, namun ingkar. Bukankah berbohong serta ingkar janji adalah dua di antara tiga tanda kemunafikan, selain khianat?

Na’udzu billah!



Dinukil dari Hidayatullah edisi Oktober 2015 / Dzulhijjah 1436 H, dari rubrik kajian utama
Ditulis ulang oleh Syafiq Elquds, dengan perubahan seperlunya

Monday, 17 October 2016

Tidak Pantas Kita Merasa Aman dari Azab-Nya



Thawus bin Kaisan berkisah, "Aku pernah melihat ada seorang laki-laki yang shalat di bawah kubah . Masjidil Haram. Orang itu berdoa sambil menangis. Lalu aku mendatangi saat dia sudah selesai melaksanakan shalatnya. Ternyata orang itu adalah Ali bin Husain radhiyallahu 'anhu."

Aku berkata, "Wahai putera Rasulullah, aku melihatmu dalam kondisi seperti itu, padahal engkau adalah keturunan Rasulullah dan memiliki tiga kelebihan - merupakan anak cucu Rasulullah, sudah mendapatkan syafaat dari kakeknya (Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam) dan mendapatkan rahmat dari Allah. Aku berharap agar Allah memberikanmu kebebasan dari rasa takut."

Lalu Ali bin Husain berkata, "Wahai Thawus, meskipun aku anak dari cucu Rasulullah jangan anggap aku sudah aman dari siksa Allah, karena aku mendengar firman Allah, "...Pada hari Kiamat nanti, tidak ada hubungan nasab di antara manusia." (Al-Mukminun : 101)    

Engkau juga jangan menganggapku aman karena aku mendapat syafaat dari kakekku, sungguh aku mendengar Allah azza wa jalla berfirman, "...Dan mereka tidak mendapatkan syafaat, kecuali orang yang diridhai Allah..." (Al-Anbiya : 28)

Sedangkan tentang rahmat Allah yang mereka katakan kepadaku, juga tidak membuatku merasa aman. Sungguh aku mendengar Allah ta'ala berfirman, "...Sesungguhnya rahmat Allah sangatlah dekat dengan orang-orang yang baik." Padahal aku tidak tahu apakah aku termasuk orang yang baik." 

(disarikan dari Kitab Al Hilyah karya Abu Nu'aim) 
Rubrik hikmah hal. 92 Edisi 01 XXVIII Mei 2015/Rajab 1436 H 

Sejatinya, sebab kita hanya sanggup berusaha dan berharap kepada Allah sebenar-benarnya semoga Allah menjaga kondisi kita untuk senantiasa baik dan selalu berbuat baik..
Sebab kita tidak tahu akhir hidup kita, baikkah, atau bahkan buruk..
Sebab kepadaNya saja kita akan kembali, 
Sebab di hadapanNya lah nanti kita akan diadili..
Semoga Allah menjaga kita, supaya kita sanggup bertaqwa di manapun kita berada.. 

Ditulis ulang oleh Syafiq El quds

Saturday, 17 September 2016

Doa yang Berumur 4000 Tahun



Bulir Ibrah dan Hikmah

Dinukil dan diselia ulang dari “Doa Empat Ribu Tahun”
Salim A. Fillah, Majalah Ummi, Juni 2013

***

“Ya Rasulullah”, begitu suatu hari para sahabat bertabik saat mereka menatap wajah beliau yang purnama, “Ceritakanlah tentang dirimu.”

Dalam riwayat Ibn Ishaq sebagaimana direkam Ibn Hisyam di Kitab Sirah-nya; kala itu Sang Nabi _ShallaLlahu ‘Alaihi wa Sallam_ menjawab dengan beberapa kalimat. Pembukanya adalah senyum, yang disusul senarai kerendahan hati, “Aku hanyasanya doa yang dimunajatkan Ibrahim, ‘Alaihissalam..”

***

Doa itu, doa yang berumur 4000 tahun. Ia melintas mengarungi zaman, dari sejak lembah Makkah yang sunyi  hanya dihuni Isma’il dan Ibundanya hingga saat 360 berhala telah menyesaki Ka’bah di seluruh kelilingnya. Doa itu, adalah ketulusan seorang moyang untuk anak-cucu. Di dalamnya terkandung cinta agar orang-orang yang berhimpun bersama keturunannya di dekat rumah Allah itu terhubung dan terbimbing dari langit oleh cahayaNya.

_“Duhai Rabb kami, dan bangkitkan di antara mereka seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri; yang akan membacakan atas mereka ayat-ayatMu, mengajarkan Al Kitab dan Al Hikmah, serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”_ (QS Al Baqarah [2]: 129)

“Kata adalah sepotong hati”, ujar Abul Hasan ‘Ali An Nadwi, maka doa adalah setetes nurani. Ia disuling dari niat yang haru dan getar lisan yang syahdu. Ia dibisikkan dengan tadharru’ dan khufyah; dengan berrendah-rendah mengakui keagungan Allah dan berlirih-lirih menginsyafi kelemahan diri. Dalam diri Ibrahim, kekasih Ar Rahman itu, doanya mencekamkan gigil takut, gerisik harap, dan getar cinta.

Maka dari doa itu kita belajar; bahwa yang terpenting bukan seberapa cepat sebuah munajat dijawab, melainkan seberapa lama ia memberi manfaat. Empat ribu tahun itu memang panjang. Tapi bandingkanlah dengan hadirnya seorang Rasul yang tak hanya diutus untuk penduduk Makkah, tapi seluruh alam; menjadi rahmat bukan hanya bagi anak-turunnya, tapi semesta; membacakan ayatNya bukan hanya dalam kata, tapi dengan teladan cahaya; mensucikan jiwa bukan hanya bagi yang jumpa, tapi juga yang merindunya; dan mengajarkan Kitab serta Hikmah bukan hanya tuk zamannya, tapi hingga kiamat tiba.

Dari doa itu kita belajar; bahwa Allah Maha Pemurah; tak dimintaipun pasti memberi. Maka dalam permohonan kita, bersiaplah menerima berlipat dari yang kita duga. Allah Maha Tahu; maka berdoa bukanlah memberitahu Dia akan apa yang kita butuhkan. Doa adalah bincang mesra, agar Dia ridhai untuk kita segala yang dianugrahkanNya.

Dalam syukur pada 2 orang yang disebut ‘Uswatun Hasanah’ itu, kita teringat shalawat yang diajarkan Muhammad _ShallaLlahu ‘Alaihi wa Sallam_ dengan rendah hati; mengenang bapak para Nabi yang atas doanyalah beliau diutus. Maka tiap kebaikan yang dipancarkan Muhammad hingga hari kiamat, Ibrahim memegang sahamnya.

Dan kita yang rindu pada Sang Nabi untuk disambut di telaganya, diberi minum dengan tangannya, dinaungi bersamanya, dan beroleh syafa’atnya; mari tak bosan membaca, _“Allahumma shalli ‘ala Muhammad, wa ‘ala Ali Muhammad; kama shallaita ‘ala Ibrahim wa ‘ala Ali Ibrahim..”_

***

Monday, 6 June 2016

Selamat Datang di rumah kami, Ramadhan 1437


Malam ini, lelaki itu memandang siratan rembulan. Matanya terharu berkaca-kaca. Wajah mudanya menyiratkan kebahagiaan yang tak terkata. Bibirnya bergetar, mengucap syukur berulang kali. Seakan ia merasa bahagia terlahir di dunia ini. Ia tak mampu menahan segala rasa yang membuncah dalam dirinya. Sungguh, betapa menyenangkannya malam ini.

“Akhirnya aku bertemu dengannya kembali” ia bertutur di antara angin musim panas yang menderu. Tak hirau dengan sekitar, ia hanya ingin memandang langit, melantunkan doa-doa yang syukur yang tiada terkira. Sedang di dalam hatinya, ia ingin berdiri di sana, di dekat sungai tempat dahulu ia menghabiskan malam pertama dengannya, untuk selalu berpikir dan merenung, tentang segala yang akan ia lakukan dalam menghabiskan hari dan malam-malam berikutnya.

Malam itu adalah malam pertama ramadhan. Sebelas bulan penantiannya, syukurlah tak sia-sia. Allah masih memberikan kesempatan padanya, bersua. Maka, ia berucap janji dalam diri, untuk tak akan menyiakan kesempatan yang telah diberi, barangkali esok atau lusa ia tak pernah kembali.

Maka ia teringat segala sesuatu. Tentang ia, tentang ramadhan. Bulan yang kemuliaannya tak cukup hanya terangkum dalam kekata, tak akan habis keistimewaannya sekalipun dijelaskan oleh para cendekia. Hatinya bangga sejadi-jadinya, sungguh senang luar biasa. Ia berusaha mendekatkan segala ingatannya. Mengajaknya duduk bersama, berbicara nostalgia tentang masa lalu. Yang lebih banyak kurang daripada lebihnya.

Sejenak ia mengalihkan pandangnya, duduk di kursi panjang pinggir sungai. Ternyata Alquran itu masih di sana. Masih seperti dulu saat ia meninggalkannya. Sampai tiba-tiba segalanya berputar, mengejutkannya. Dan ayat itu masih jelas terngiang di telinganya. “Bulan Ramadhan yang di dalamnya diturunkan Alqur’an, sebagai petunjuk dan penjelasnya serta pembeda (segala yang salah dan benar)” (Al Baqarah : 185)

Tentang setiap malam Rasulullah bersama jibril membaca Al quran, “Adalah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam sebaik-baik manusia, dan sebaik-baik pula, saat Ramadhan ketika Jibril menyampaikan padanya Alquran. Dan dahulu Jibril membacakan padanya setiap malam ramadhan, maka ia mengajarkan padanya Alquran” (HR. Muttafaq ‘Alaih)  

Tentang para sahabat Rasulullah, orang-orang terbaik yang pernah hidup pada masanya, di antara mereka ada yang menyelesaikan Al quran dalam sepekan, adapula yang tiga hari, bahkan sehari pun khatam.

Az-Zuhri dulu pernah berkata, “Sungguh ramadhan itu tilawah Alquran dan saat memberikan makanan (pada mereka yang berpuasa)”

Juga sabda Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, ‘Puasa dan Alquran kelak sama-sama akan memberikan syafaat pada seorang hamba. Puasa berkata, “Wahai tuhanku, sungguh aku telah menahannya dari makanan dan syahwat di siang hari maka izinkanlah aku memberi syafaat padanya. Dan berkata pula Alquran, “Aku telah menahannya tidur di malam hari maka izinkanlah aku memberi syafaat padanya” maka keduanya diberi syafaat oleh Allah untuk seorang hamba itu’ (HR. Baihaqi)             

Semakin lama, semakin datang semua ingatan-ingatannya. Saat dahulu ia pernah mendengar seorang imam membaca dengan syahdu ayat 29 surat Fathir, “Sesungguhnya orang-orang yang membaca kitab Allah, mendirikan shalat, dan berinfak dari apa yang telah Kami anugerahkan pada mereka, secara diam-diam maupun terang-terangan, mereka mengharapkan perniagaan yang takkan pernah rugi”

Dan kini, ia tertegun. Ia raih alquran itu, mengamatinya dengan seksama. Di dalam alquran itu, betapa besar balasan yang diberikan Allah padanya. Sungguh, lebih dari itu, ia tak ingin merugi. Usianya sudah sekian lama. Hidup di dunia ini terasa begitu lelah pun melelahkan. Ia ingin kembali mengingat Allah di dalam tilawahnya. Sama seperti yang dahulu ia pernah lakukan. Tak peduli seberapa sibuk urusan dunianya, tak peduli seberapa banyak pekerjaannya dan segala yang ia lakukan di siang hari. Ia ingin meneladani mereka yang telah lama. Yang pernah meninggalkan teladan semangat membaca dan merenungi AlquranNya.

Dan adzan isya berkumandang, mengajaknya berdiri bersama orang-orang yang berdiri. Dan rukuk bersama mereka yang rukuk.

Ramadhan, selamat datang di rumah kami. Bimbinglah kami menjadi pribadi yang kian berbakti. Kepada Allah yang  mencipta diri ini dan Rasul yang menyayangi umatnya sepenuh hati.


Ghurratu Ramadhan 1437 H. (1 Ramadhan 1437 H)

Friday, 25 March 2016

Kisah sebuah Batu


Sore itu, tak banyak yang dilakukannya. Lelaki itu hanya berjalan di trotoar tepi jalan yang berdebu, menuju arah matahari terbenam. Dan waktu-waktu seperti inilah yang sering mendatangkan banyak ide tak terduga, pemikiran-pemikiran yang tak biasa. Namun sayangnya, ia bagai kuda liar, jika tak segera dijinakkan dan dikekang, ia akan lari dan takkan pernah kembali.

Seperti saat ini, dia berfikir dan mengisahkannya padaku, sembari tersenyum ia berujar, “Kawan, jika kita mau sedikit menelaah, sesuatu yang kecil di dekat kita terkadang luput dari perhatian kita. Terlebih jika hal itu merupakan sesuatu yang remeh temeh dan tak penting menurut kita”

Lalu ia berhenti sejenak di dekat sebuah batu seukuran genggaman tangan, mengambilnya dan memperlihatkan kepadaku, “Lihatlah, apa yang kau pikirkan tentang batu ini?”

Aku diam, tak menjawab. “Ah, kau tentu memikirkan hal yang kupikirkan bung, bukankah sejak kecil kita selalu bersama, membagi pikir yang tak sama. Kemudian seiring dengan berjalannya waktu sikap kita nampak sama, hingga orang-orang pun mengatakan bahwa kau dan aku, tak ubahnya dua orang yang terlahir dari rahim yang sama dan kembar tak ada bedanya”

Aku tetap diam. Sembari memandang garis wajahnya dan matanya. Guratan kerasnya hidup nampak di sana. Ia menghampiriku dan menepuk bahu, lantas berkata, “Kau tentu pernah mendengar bahwa kata ‘batu’ terlampau sering diungkapkan Alquran dalam beberapa tema. Makhluk ini bahkan berulang-ulang menjadi perumpamaan serta peringatan bagi orang-orang sebelum kita. Jika membaca Alquran dan tak sekedar membaca, kau akan mendapati di sana beberapa ungkapan yang berbicara tentang makhluk ini, di antaranya di surat Al Baqarah ayat 264, bacalah dan renungi, semoga itu menjadi sesuatu yang berarti. Di sana Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian merusak (menghilangkan) sedekah kalian dengan menyebutnya serta menyakiti (perasaan penerima), sebagaimana orang yang menginfakkan hartanya karena riya’ (ingin dilihat orang lain) dan ia tak beriman pada Allah serta hari akhir. Maka perumpamaan mereka itu seperti batu licin dengan tanah di atasnya, lantas batu itu ditimpa hujan lebat hingga bersih seakan-akan tak pernah ada di atasnya. Mereka tak memiliki sesuatupun dari apa yang mereka usahakan. Dan Allah tidak memberi orang-orang kafir satu petunjuk”

Aku sedikit tersenyum melihatnya berbicara. Menyitir salah satu ayat alquran. Di sana, matahari semakin menuju ke haribaan, aku pun berjalan mengikuti langkahnya yang semakin memelan. Ia melanjutkan, “Pernahkah kita benar-benar memiliki uang? Harta kekayaan? Apakah semua perabotan yang ada di rumah kita itu semuanya milik kita? Perkakas mewah yang ada di ruang tamu, gelas-gelas dan piring-piring antik di lemari dapur, apakah semua itu benar-benar milik kita? Aku rasa tidak, kita hanya sedikit tertipu, kemudian yang sedikit itu semakin lama menjadi banyak, sehingga kesimpulannya adalah kita benar-benar tertipu” Ia berhenti sesaat.

“Semua itu hanya dipinjamkan kepada kita untuk sementara waktu saja. Harta itu kelak akan habis, demi keperluan dan kebutuhan kita tiap harinya. Lalu kita mencari lagi, menghabiskan lagi, mencari lagi, menghabiskan lagi, dan begitu seterusnya. Sehingga harta kita bukanlah yang masih berbentuk uang, namun yang telah kita belanjakan, sedangkan yang kita belanjakan belum tentu milik kita selamanya, karena sewaktu-waktu ia akan tiada, ditelan banjir bandang, pecah terjatuh di atas lantai, atau rusak dimakan rayap. Artinya, jika kita menyimpan semua itu, lambat laun akan tiada, dengan berbagai cara. Ada satu cara yang menjadikan semua itu tersimpan, dalam makna yang sebenarnya. Tahukah engkau?” ia memandangiku, tersenyum pula.

Aku sedang memandang langit, menggambar semua penjelasannya.

“Kau, infakkanlah yang kau ‘miliki’ itu demi Dia. Kepada siapapun yang kau liat ia membutuhkan. Karena sebaik-baik pemberian adalah pemberian kepada orang yang sedang butuh. Bersihkan niatmu untuk memberikan ‘milikmu’ itu kepada orang lain, kepada mereka yang berjuang di jalan Allah dengan segala cara yang benar. Ubahlah hartamu menjadi amal jariyah, gunakanlah hartamu dengan cara yang tepat, sehingga kau kelak tak menyesal pernah hidup di dunia. Sehingga dengan niatmu yang murni dan jernih itu mengalir pula rahmat Allah kepadamu, bahkan saat Allah telah memisahkan jasad dari ruhmu, namun kau pun perlu ingat satu hal, kawan.” Ia berhenti, matanya sedikit memerah diterpa sinar matahari senja. Sendu.

“Jangan sampai semua infakmu itu tertimpa hujan lebat dan hanyut tak berbekas. Jangan sampai engkau biarkan batu itu kembali licin mengkilap setelah kau beri tanah di atasnya. Kau justru harus membangun di atas batu dan tanah tersebut sebuah rumah yang kelak akan kau tinggali di akhirat sana. Jangan sampai berinfak hanya karena supaya kau ingin disebut dermawan, dan terkenal dari mulut ke mulut. Sungguh rendah nian dirimu jika seperti itu. Tak ubahnya kau dengan mereka, yang merasa sudah berbuat baik di hidupnya namun nestapa pada akhirnya, di hadapan Allah yang Maha Kuasa, saat tiada kekuasaan yang ada melainkan kekuasaanNya”

Kulihat, matanya semakin memerah. Pantulan matahari nampak di pelupuknya, menetes dan laksana kristal berwarna merah senja, air itu membentur jalan yang berdebu. Bersatu dengan tanah, menjadi saksi atas jiwanya yang murni. Hingga aku tertegun dengan lamunanku, mengapa Allah mempertemukanku dengan orang-orang sepertinya, yang tanpa kuminta senantiasa mengajarkan hikmah tiada tara. Hingga saat ini, di usiaku yang senja, belum kutemukan orang lain sepertinya. Dan kau tahu? Senja itu mengembalikan segala ingatanku tentangnya, yang semakin dilupakan semakin nyata.

Setelah berlelah-lelah selama sepekan, teringat kawan lama di akhir pekan, di Suq Asyir, Hay Asyir, Madinat Nasr, Cairo, 24 Maret 2016

Sunday, 20 March 2016

Jangan Sampai Malasmu Mengalahkan Kegigihanmu



20 Maret 2016, Kairo, saat musim panas sedang bangun dari hibernasi ringannya

“Jangan sampai rasa malasmu mengalahkan kegigihan dan rencanamu” Ujarnya seraya memandang murid-murinya

Dia seorang pekerja keras. Itu jika yang ia lakukan pantas disebut pekerjaan. Dalam arti sebenarnya. Hari-hari yang dilewati jauh dari kata santai dan berpangku tangan. Setiap detik tidak akan ia biarkan berlalu tanpa sesuatu yang baru, pun bermutu. Ia selalu menggunakan rangkaian harinya untuk berfikir. Berfikir dalam arti yang luas. Dan merealisaikan fikirannya dalam bentuk langkah yang nyata.

Kisaran usianya sudah mencapai kepala lima, namun semangat hidupnya jauh di atas mereka yang 30an. Etos kerja dan berfikirnya patut ditiru. Sedang ilmu yang ia miliki sungguh benar-benar berarti, bagi kami, mereka, dan semua orang yang sedang belajar budi. Ia tersenyum di tiap kata yang mengalir dari lisannya. Memberikan sebuah hikmah dan kesadaran di tiap susunan katanya. Menjadikan kami yang mendengar menganggukkan kepada, mengiyakan.

Buku yang ditulisnya pernah menjadi buku bahasa Arab terbaik di dunia tahun 2008. Kalian bisa melihat di bukunya, mengapa bisa sampai seperti itu. Kemudian ia mengajar murid-muridnya dengan buku-buku yang ia tulis saat itu. Di antaranya, Nahwu Al Kafi, Syarh Al Ajurrumiyah Al Kafi, Sharf Al Kafi, Balaghah Al Kafi, Mulakkhos Qawaidil Lughah, Qawaidul Imla’. Dan sekarang ia sedang menyelesaikan buku berjilid-jilidnya dengan judul Tafsir dan I’rab Alquran.

Jika kau bertemu dengannya, kupikir kau akan setuju dengan yang kupikirkan. Atau setidaknya kita punya kesamaan berfikir dalam beberapa aspek tertentu tentangnya. Itu tidak masalah. Bagiku, ini hanya sebuah ungkapan tentang dirinya. Karena kulihat kesibukannya mengajarkan ilmu yang dimiliki sungguh tak bisa diremehkan. Hingga diundang ke Saudi beberapa kali dalam kurun setahun, begitupula dalam undangannya ke Kuwait serta negara-negara berbahasa Arab lainnya. Dan tahukah kau? sekarang ia sedang berada di Indonesia, terakhir kali kemarin 3 hari yang lalu ia berada di sekitar Tasikmalaya. Apa yang diperbuatnya? Ia ahli bahasa Arab, mengajarkan bahasa arab di beberapa tempat, memberikan metode yang sederhana dan mudah, bahkan untuk pemula dan anak-anak sekalipun. Kabarnya ia pun hafal Mu’jam al Wasith yang dijadikan kamus diktat di beberapa pesantren di Indonesia dan sering digunakan rujukan di berbagai penuisan karya ilmiah.

Kurasa tak perlu panjang lebar pendeskripsian tentangnya. Inti yang perlu diambil adalah, usaha yang dilakukannya dalam keseharian. Ia tidak pernah berhenti berdedikasi, untuk kemajuan ilmu bahasa Arab dan keterjagaannya.

Teringat perkataannya beberapa waktu silam, “Dulu saat saya masih bersekolah menengah, saya bahkan pernah menghafal buku IPA yang saya pelajari, sampai-sampai seakan ketika berfikir, saya membukanya halaman demi halaman, kata demi kata nampak jelas di benak saya. Ingatlah, bahwa saat kau ingin menghafal dan menguasai sesuatu, lakukanlah itu berulang-ulang. Sesering yang kau bisa, dan silakan rasa bosan itu menghampirimu namun jangan biarkan ia mengalahkanmu”

Kami terduduk, diam. Sulit wahai guru. Namun, kami takkan pernah melalaikan nasihatmu. Karena kesulitan datang bersama kemudahan, sungguh kemudahan akan datang saat ada kesulitan.

Beliau adalah Syekh Aiman Amin Abdul Ghani. Semoga Allah senantiasa menjagamu.

Wednesday, 16 March 2016

Hamparan Padi Dunia

sawah-ladang-wallpaper-485x728

“Ma ‘indakum yanfad wa ma ‘indallahi baaq” Segala yang kau miliki akan sirna, yang kekal adalah segala yang berada di sisi Allah saja (QS. An Nahl : 96).

Seorang kawanku mendekat, mengajakku berjalan di antara ilalang, terus ke pematang dan berhenti di bibir sungai. Ia duduk di atas batu besar ditemani purnama rembulan, dan ia mulai menggerakkan bibirnya, pertanda hikmah yang sejuk akan menemani malam yang syahdu, bersama aliran air yang terasa di jari kaki, lebih lembut dari beludru.

“Satu lagi daun pohon mangga itu jatuh malam ini, kemudian diterbangkan angin ke suatu tempat. Satu lagi ikan kecil di laut yang ditelan ikan besar hingga tulangnya pun tak bersisa. Satu lagi yang meninggal, kemudian keluarganya mendoakan semoga Allah mengampuninya dan menerima segala amal baik yang telah diperbuatnya. Satu lagi yang merasa rugi, telah dikhianati oleh kawannya sendiri setelah bertahun-tahun bersama membangun perusahaan yang mandiri. Satu lagi yang sakit, setelah suhu badannnya tak kunjung reda hingga tak sanggup memejamkan matanya beristirahat. Satu lagi yang menginjak usia tua, ia bergumam, “Andai dahulu aku gunakan masa muda dan sehatku untuk mengabdikan diri pada Allah, tentu aku tak semenyesal sekarang ini”. Satu persatu semuanya bergulir, berganti dari satu kondisi ke kondisi yang berbeda, dari satu detik ke detik yang lain. Hingga semuanya tak meninggalkan sisa.

Segala sesuatu memiliki waktunya. Batasnya ada yang terlihat, adapula yang tak sanggup diraba. Ketiadaan menjadi hal yang niscaya. Sekalipun seluruh makhluk bersatu menahan laju waktu untuk berhenti di antara detik-detiknya, walaupun satu. Kita takkan pernah sanggup. Sungguh tak akan.

Yang berjalan akan terus berjalan, yang berubah akan terus berubah dan yang telah ditetapkanNya hanya menunggu gilirannya. Segala yang kita lihat di dunia ini akan tiada saat waktu itu datang. Dan misterinya adalah, tak ada di antara kita yang mengetahui. Tapi kawan, tenanglah.

Jika kau seorang yang beriman pada Allah, malaikatNya, kitab-kitab yang diturunkan kepada utusanNya, nabi dan rasulNya, hari akhir, serta takdir, maka kau tak perlu risau. Pahamilah itu. Kau hanya butuh menjadi seorang yang bertanggungjawab. Saatnya kau sadar dari semua kelalaianmu bahwa telinga, mata, dan hatimu akan dimintai pertanggungjawaban, dan kau tak sanggup mengelak dari kejujuran mereka. Bahkan saat kulit mereka (orang-orang yang memusuhi agama Allah) berbicara atas segala yang telah mereka perbuat, mereka bertanya “Mengapa kalian menjadi saksi atas kami?” Kulit mereka menjawab, “Allah lah yang menjadikan kami sanggup berbicara, Dia menjadikan segala sesuatu mampu bertutur kata, Dialah yang telah menciptakan kamu pertama kali, dan kepadaNya kamu kembali” (lih. QS. Fushshilat : 21)

Ia menyapu pandangan ke sekitar, melanjutkan. Dan aku masih termenung, diam.

“Benarlah bahwa kesadaran untuk bertanggungjawab itu adalah salah satu cara kita untuk kembali merapikan buku amal harian kita, memberikan kita pena untuk mencatat sendiri langkah yang akan kita tempuh dalam lembaran hidup, menyediakan kita lentera untuk berjalan di gelapnya malam, menghadiahkan kita peta jalan istimewa yang tidak dilalui oleh orang-orang kebanyakan, menguatkan hati kita saat berusaha berlari menghindari hujan lebat diiringi halilintar dan angin kencang di tengah malam yang pekat. Hingga kita kelak tak menyesal pernah dilahirkan ke dunia dan menghabiskan waktu yang ada.

Ingat kawan, bersungguh-sungguhlah beramal dan berjuang demi Dia. Abaikan semua rasa letih dan bosan. Ketahuilah bahwa kepayahan saat kau taat pada Allah akan hilang dan pahala serta balasannya akan tercatat, sedangkan kesenangan saat kau bermaksiat pada Allah akan hilang dan dosanya lah yang akan tercatat.

Aku mengerti, bahkan engkau yang sudah berteman denganku bertahun-tahun pun akan meragukan perkataanku dan mempertanyakan apakah aku sudah sempurna, apalagi orang-orang di luar sana yang tak mengenaliku. Aku sadar, bahwa semua itu tak sesederhana kedengarannya. Namun ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu”

“A-p-p-a itu?” tanyaku tertegun,

Ia mengubah posisi duduknya, lantas berdiri dan berjalan ke depan, menuju ladang padi yang mulai menguning. Kau lihat, warna padi kuning yang diterangi sinar rembulan dan dihiasi kunang-kunang kuning terang, diapit oleh sungai kecil di kanan dan kirinya? Pantulan sinarnya bahkan terasa hingga ke pori-pori kulitku. Aku tercengang. Malam ini aku merasakan hal yang berbeda, bahkan seakan suara katak dan jaring yang beradu menjadi satu. Tunggu, bukan suara jangkrik dan katak saja yang aku dengar, itu semacam suara tasbih dalam nada dan irama mereka. Aku mengedipkan mata, tak percaya dengan yang ada di sekelilingku. Kaupun takkan percaya.

Dan langkah kaki itu mulai mendekat, ia menepuk bahuku, ‘Pertanyaanku adalah, percayakah engkau bahwa Allah menguasai segala sesuatu, bukan dalam arti yang sederhana, namun dalam bentuk yang sebenar-benarnya? Tenang, tak perlu kau jawab sekarang, pikirkan saja terlebih dahulu di antara hari-harimu. Dan yang kedua, percayakah engkau bahwa segala yang di sisinya tak akan pernah sirna dan benar-benar terjaga, ha? Baiklah, sampai jumpa kawan, kembalilah, dan jangan lupa jawablah pertanyaanku di antara hari-hari yang akan kau lewati”

Aku takjub, menelan ludah. Sedang ia menghembuskan nafas, pergi dengan langkah tenang. Benar apa yang dikatakan orang. Dia adalah seorang manusia yang berbeda. Benar, ia adalah seorang manusia yang sesungguhnya.


Kairo, di tengah ladang kemuning, di bawah purnama.
15 Maret 2016

Thursday, 22 October 2015

Sakit? Memang ada Hikmahnya?

sakit-ridho

Pagi hari yang menyejukkan untuk ke sekian kalinya.

“Dan jika aku sakit, maka Dialah yang menyembuhkanku” (QS. Asy Syu’ara : 80)

Hamdan lillah wa syukron lillah, atas semua karunia yang tak terhitung luasnya, anugerah yang telah diturunkanNya, hikmah yang telah diberikanNya dan hidayah yang telah dimudahkanNya pada orang-orang yang diberikan kebaikan padanya. Apapun yang terjadi pada kita hendaknya memang kita pahami dengan sebaik-baiknya, bahwa di balik semua hal pasti ada “sesuatu” yang sanggup kita pelajari.

Yang kedua setelah syukur pada Allah adalah Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi dan RasulNya yang mulia, yang berada di mata rantai terakhir dari perjalanan panjang para Nabi di muka bumi ini. Dia adalah sebaik-baik manusia di antara kita, sebaik-baik teladan yang patut dan harus kita tiru semampu kita.

Sakit, menurut definisi yang sederhana, berarti rasa tidak sehat yang dirasakan oleh seseorang. Artinya, dia sedang berada pada kondisi tidak fit ketika ingin melakukan suatu hal. Atau fungsi organ tubuh yang dimilikinya berkurang atau sedang tidak bekerja optimal, yang pada kondisi biasanya memang ia mampu bekerja secara optimal.

Menurut kadarnya, sakit dibagi menjadi dua jenis. Yang pertama, sakit ringan dan kedua, sakit berat. Sakit ringan kita bisa misalkan seperti flu, batuk, pilek, demam, keseleo, terkilir, pusing kepala, sakit perut, sakit leher, intinya adalah sakit yang tak terlalu berbahaya pada kondisi tubuh kita. Dan seringkali sembuh dengan meminum atau memakan jenis makanan tertentu atau bahkan hilang dengan sendirinya atau bisa kita katakan, ia sembuh karena antibodinya.

Lalu yang kedua, adalah sakit berat, misalkan, patah tulang, osteoporosis, demam berdarah, malaria, kanker, tumor, dan sebagainya. Yang jelas, kondisi yang dialami oleh si sakit memang sedikit berbahaya atau berbahaya sungguhan. Sehingga penanganannya memang berbeda dengan sakit ringan. Di fase sakit berat semacam ini, penanganannya memang harus ekstra hati-hati dan dilakukan oleh ahlinya dan tidak boleh menyepelekan keadaan itu. Karena sedikit kesalahan saja akan membawa dampak tertentu atas tubuh dan jiwa seorang yang sakit tersebut.

Penjelasan lebih detail dan lengkap memang akan didapatkan jika kita belajar tentang ilmu kedokteran atau kesehatan secara khusus. Namun, pembahasan kali ini memang hanya sebuah kilasan ide, yang bisa jadi nantinya akan menjadi sebuah ide karya tulis yang bisa dipertanggungjawabkan.

Kembali ke pembahasan sebelumnya, bahwa keadaan sakit memang pernah disampaikan oleh Rasulullah sebagai sebuah “pengampunan dosa” yang telah Allah tetapkan bagi hambaNya. Bahkan ada sebuah riwayat mengatakan bahwa terkena duri saja menggugurkan beberapa dosa yang pernah kita lakukan. Sehingga seorang mukmin yang benar-benar beriman akan berusaha bersabar atas takdir yang demikian ini. Bukan berarti yang tidak kita sukai adalah buruk dan tidak berarti yang kita sukai adalah baik. Karena baik buruknya pandangan kita terhadap sesuatu tentu jelas berbeda dengan pandangan Allah atas sesuatu itu. Sedangkan Dia adalah yang Maha mengetahui di atas orang-orang yang mengetahui. Wa fauqa kulli dzi ‘ilmin ‘aliim.

Secara umum maka kita melihat adanya “kesempatan” yang hilang di saat kita sakit. Maksud kesempatan di sini berupa waktu yang kita punya hanya kita habiskan di atas tempat tidur, hal-hal yang biasanya kita kerjakan dan menghasilkan uang atau hal berguna lainnya, untuk sementara waktu harus kita tunda dahulu hingga kondisi kembali membaik. Pembelajaran kita atas suatu ilmu, tatkala kita sakit, mau tidak mau, suka tidak suka, rela tidak rela memang sementara waktu perlu kita hentikan, dan begitulah nasib semua hal yang biasa kita lakukan untuk mengisi hari-hari kita, berganti dengan sebuah istirahat yang menunggu waktu kesembuhan kita. Sehingga kesadaran kita di saat sakit memang diuji. Kesadaran iman kita yang selama ini kita miliki, serta pembaharuan iman kita untuk waktu yang akan datang.

Memang tidak aneh, jika setelah seseorang sakit kemudian sembuh, kekuatan iman yang ada di dalam dirinya menjadi kuat, dan banyak memahami hikmah Allah lebih cepat daripada selain dia. Karena waktu-waktu yang berjalan saat dia sakit memberikan banyak pelajaran dan kesadaran tentang arti takdir Allah. Dan hanya kepadaNya kita memohon. Billahi taufiq wal hidayah.

Saat membuka lembaran-lembaran lama, dan menemukan sesuatu yang berharga.

Kamis, 22 Oktober 2015, di atas jalan yang berdebu.

Monday, 12 October 2015

Uji Tangguh Keimanan



Senin, 12 Oktober 2015

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ (٢٧) وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ (٢٨) يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ (٢٩

Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar. Wahai orang-orang beriman! Jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan Furqaan (kemampuan membedakan antara yang haq (benar) dan yang batil) kepadamu dan menghapus segala kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Allah memiliki karunia yang besar. (QS. Al Anfal : 27-29)

Sebuah perjalanan memang memiliki ciri khas yang berbeda. Ujung awal mula dan akhirnya pun tak sama. Mengapa? Karena semua itu berada di atas rencana dua zat yang berbeda. Pertama adalah rencana kita, lalu disempurnakan dengan rencana Yang Maha Kuasa.

Maka, tak heran jika kita menyaksikan ada orang yang dimuliakan di dunia. Segala hal yang ia inginkan cepat sekali terkabulnya, semua yang ia harapkan mudah benar mendekatnya, seluruh cita-cita dunianya terlaksana. Dan ketika orang lain melihatnya, lalu melihat harta kekayaannya, mereka bergumam, “Andai aku seperti dia”

Dan begitu pula sebaliknya dengan perbedaan yang benar-benar berbeda. Manajemen yang ia terapkan dalam kehidupannya sudah sedemikian tertata rapinya. Usaha yang ia lakukan sudah mencapai titik maksimalnya. Segala hal yang ia punya dipertaruhkan untuk mendapatkannya. Namun apa daya? Kehidupannya tak kunjung membaik. Bahkan dari tahun ke tahun demikianlah hasilnya.

Dua contoh di atas, kita menggambarkan dua keadaan muslim yang katakanlah sama-sama taat kepada Allah. Yang satu diuji dengan harta, kedudukan dan kemudahan yang berlimpah, sedangkan yang kedua diuji Allah dengan kemiskinan, tak ada yang peduli dengannya, namun ia tetap taat pada Allah. Hukum-hukum yang diajarkanNya ia patuhi, segala syariat yang telah digariskanNya ia jalani.

Terkadang, dan seringkali memang keadaan kita berbeda satu sama lain. Ada yang kaya, ada pula miskin, ada pula yang sedang-sedang saja. Semuanya beragam. Dan semua hal itu adalah ujian. Kenikmatan adalah ujian, kesengsaraan adalah ujian dan pertengahan antara keduanya adalah ujian. Bukan berarti orang yang selalu dimudahkan oleh Allah (secara lahir) pribadinya benar-benar dekat kepada Allah. Karena bisa jadi, kemudahan yang ia terima dari Allah adalah berkat doa atau usaha dari orang lain yang bertaqwa kepada Allah. Dan bisa jadi pula, seseorang yang selalu diberikan kesengsaraan padanya adalah bukan berarti orang yang tidak bertaqwa. Karena bisa jadi sebab ketaqwaannya yang mulia itulah yang menjadikannya diuji dengan ujian yang tak ditimpakan oleh Allah kepada selain dia. Bukankah semakin tinggi pohon, maka terpaan angin semakin kencang,

Sehingga, Sadar diri dan kembali kepada pelukan islam adalah sebuah amal yang mulia di zaman kita sekarang. Saat zaman semakin mendekati titik akhir sebuah perjalanan, ketika zaman menjadi semakin membingungkan, banyak hal yang menjadikan semuanya mudah namun terasa hampa. Nampak berisi namun kosong.

Keyakinan dan ketaatan kepada Allah yang sebenar-benarnya, adalah suatu hal yang mutlak harus kita pahami, kita tingkatkan dengan segala kemampuan yang kita miliki, karena hal itulah yang kebanyakan orang tak menyentuhnya. Menyentuh pun tidak, apalagi memahami? Karena, sebagai manusia kebanyakan, kita seringkali melihat sesuatu secara lahiriah saja, dan terburu-buru mengambil kesimpulan. Sedikit sekali di antara kita yang dengan sengaja berusaha menelaah sesuatu di balik segala hal yang terjadi di muka bumi. Hikmah yang ada di dalamnya, pelajaran mutiara yang sanggup disimpan. Karena Allah tidak akan menciptakan sesuatu yang tidak berguna. Tidak akan. Tidak pernah.

Dan semua ini saya tutup dengan. Mari kita sesering mungkin mengingat Allah, dengan cara apaun yang sanggup kita lakukan. Semoga kita kita mampu menjaga ingatan kita pada allah selalu, kita sanggup memahami hal-hal yang tak banyak orang lain pahami...

Yassarallahu lana. Semoga Allah memudahkan segala urusan kita.



Subuh menjelang pagi, sebelum kesibukan merenggut waktu.

District 6th, Nasr City, Cairo.

Saturday, 3 October 2015

Siluet Tengah Bulan

Setengah bulan yang terlampaui dengan cepat. Semua pujian memang milikNya, begitu pula semua kebaikan, hanya milikNya dari Nya dan kepadaNya bermuara. Maka, bersyukur pada Allah adalah hal yang mutlak. Tiba-tiba teringat sebuah hadits yang baru saja dilafalkan oleh seorang teman, “Ihfadzhillah Yahfadzhka” jagalah Allah maka Dia akan menjagamu.

Sebuah bentuk gabungan kalimat yang sederhana, hanya pengulangan kata dan beberapa perubahan serta imbuhan, namun kemuliaan perkataannya sungguh memukau. Makna yang dikandungnya demikian dalam dan mengena. Ia adalah sebuah perkataan yang butuh seorang ahli ilmu untuk menguraikannya, dengan jelas dan terperinci. Lalu bagi yang mendengarkan pula, butuh konsentrasi dan keikhlasan mendengarkan penjelasannya.

Semua perkataan yang keluar dari lisan Rasulullah, bukanlah hawa nafsu, tetapi ia adalah wahyu yang disampaikan oleh Allah kepadanya. Sehingga menjadikan keakuratan kalimat bentuknya, susunannya, serta  makna yang terkandung sungguh luar biasa. Benar-benar mengandung ilmu yang tajam dan mendalam sehingga bagi siapa saja yang mendengar tentu yakin bahwa ini memang sebuah kebenaran.

Jagalah Allah, maka ia menjagamu. Beberapa makna yang terdapat dalam lafaz ini adalah betapa jika kita menjaga Allah (hukum-hukumNya, kewajiban kita kepadaNya, aturan-aturanNya serta segala hal yang terkait dengan Dia) maka Allah berjanji, melalui lisan rasulNya bahwa Dia akan menjaga kita, di manapun kita berada, bagaimanapun saat itu kondisi kita. Yang kita perlukan untuk melaksanakan dan mengamalkan sebuah perintah adalah keyakinan. Yakni seberapa besar keyakinan kita terhadap perintah itu lah yang menjadikan terlihat seberapa persen kadar semangat kita melaksanakannya. Dan semanagt itu, nantinya akan berefek ke tindakan yang kita lakukan pasca itu. Dan ini sudah tidak perlu perdebatan lagi. Sudah jelas, dan terang.

Penjagaan terhadap hukum-hukum Allah itulah yang perlu kita cermati sebaik-baiknya. Karena seringkali manusia lalai dengan hal yang demikian ini. Karena dunia yang ada seringkali menjadikan “sedikit” lupa akan hukum Allah. Juga karena perkembanagan dan kompleksitas masalah yang kita kenal semakin banyak dan bervariasi. Semua ketergesaan dan kepentingan beradau di alam dunia. Menjadikan semuanya lupa dan abai terhadap hukum Allah. Yang ada di benak mereka adalah bagaimana mengejar dunia sekencang-kencangnya, lupa asal-usulnya, siapakah yang menciptakannya dan kebimbangan & kehampaan dunia yang dirasakannya selain itu.

Sebuah bentuk penjagaan yang semestinya pertama dilakukann adalah penjagaan terhadap ibadah, karena tidaklah jin dan manusia diciptakan melainkan demi ibadah. Dan sebaik-baik ibadah di antara semua ibadah adalah shalat. Dan di antara semua shalat, shalat lima waktu lah yang menempati urutan pertama dari semua shalat. Dia pula lah yang ditanyakan suatu saat nanti, saat tidak akan terulang kembali segala hal yang ada di dunia ini.

Maka, berusaha membaguskan shalat wajib adalah hal yang pertama kali seyogyanya diperbaiki oleh kita, sebagai manusia. Lima waktu yang telah ditetapkanNya hendaknya kita jaga betul, karena itulah tiang agama.

Akhir kalam, semoga Allah memudahkan diri kita untuk memaksimalkan waktu yang kita miliki sebaik-baiknya, semoga kita bukan termasuk orang-orang yang merugi.

Nasr city, Ahad, 16 November 2014