Showing posts with label Idea. Show all posts
Showing posts with label Idea. Show all posts

Sunday, 19 June 2016

Kumpulan Kata Bijak Bahasa Jawa dan Terjemahannya



Berikut kumpulan Kata Bijak Bahasa Jawa. Semoga menambah wawasan.. 

"Seng penting dudu sepira suwene uripmu, nanging kepriye anggonmu nglakoni urip kanthi becik"
(Yang penting bukan seberapa lama hidupmu, tetapi bagaimana kau menjalani hidup dengan baik)


"Rupamu elek ra masalah, sing penting tumindakmu becik"
(Wajahmu tidak bagus tak masalah, yang penting tindakanmu baik)


"Wong menang iku wong seng bisa ngasorake priyanggane dhewe"
(Pemenang adalah orang yang bisa mengalahkan dirinya sendiri)


"Ambeg utomo, andhap asor"
(Selalu menjadi yang utama, namun selalu rendah hati)

"Yen urip mung isine isih nuruti nepsu, seng jenenge mulya seti soyo angel ketemu"
(Jika hidup saja masih menuruti hawa nafsu, yang namanya kemuliaan hidup akan semakin sulit ditemukan)


"Gusti paring dalan kanggo uwong sing gelem ndalan"
(Tuhan memberi jalan untuk orang yang mau mengikuti jalan, kebenaran)

"Menungso mung ngunduh wohing pakarti"
(Manusia hanya memetik hasil dari perbuatannya, baik atau buruk)

"Urip iku terus mlaku, bebarengan karo wektu, seng bisa gawa lakumu, supaya apik nasibmu"
(Hidup itu terus berjalan, bersama dengan waktu, yang bisa membawa tingkah lakumu, supaya baik nasibmu)


"Sabar iku ingaran mustikaning laku"
(Sabar itu ibarat mutiara dalam tingkah laku hidup)

"Memayu hayuning pribadi, memayu hayuning kulawarga, memayu hayuning sesama, memayu hayuning buwana"
(Berbuat baik bagi diri sendiri, keluarga, sesama manusia, dan seluruh dunia)

"Narimo ing pandum"
(Menerima pemberian dengan ikhlas)

"Alam iki sejatining guru"
(Alam adalah guru sejati)

"Menang ora umuk, kalah ora ngamuk"
(Jika menang tidak sombong, jika kalah tidak marah)

"Sakpinter-pintere manungso, ora ono sing bisa gawe utek dhewe. Mula ojo ngaku-ngaku paling pinter. Kapinteran kuwi paringane Gusti Allah"
(Sepintar-pintarnya manusia, tidak ada yang bisa membuat otaknya sendiri. Maka dari itu jangan mengaku paling pintar. Kepintaran itu anugerah dari Allah)

"Pusaka kang paling sekti iku dudu tombak, pedang, keris. Pusaka paling sekti iku dumunung ing jati diri"
(Pusaka paling sakti itu bukan tombak, pedang, keris. Pusaka paling sakti itu berada di dalam jati diri)

"Jaman saiki akeh sing padha kleru. Duit dianggep kanca, lan kekancan mung dadi srana golek duit"
(Zaman sekarang banyak yang keliru. Uang dianggap teman, dan berteman hanya sebagai sarana mencari uang)

"Ngudi laku utomo kanti sentoso ing budi"
(Menghayati perilaku mulia, dengan budi pekerti yang luhur)

"Jer Basuki Mawa Bea"
(Setiap usaha membutuhkan biaya)

"Becik ketitik ala ketara"
(Yang baik akan tampak, dan yang buruk akan terungkap)

"Dalane waskita saka niteni"
(Cara agar menjadi awas adalah dengan mencermati)

Semoga berkesan dan bermakna..

Kata Bijak Serial Dragon Ball


Bagi yang suka mengikuti serial Dragon Ball, tentu tak asing dengan semua perkataan ini. Semoga bermanfaat...

"Kau tidak akan pernah menang jika kau bergantung pada teknik orang lain, dan itu sangat tidak berguna bagi musuhmu"
(Goku)

"Orang lemah tidak bisa memaafkan, hanya orang kuat yang bisa melakukannya"
(Gohan)

"Kita tidak bisa melawan seorang musuh dengan kebencian, lakukanlah dengan kebaikan"
(Gohan)

"Diam lebih baik daripada menguapkan kata-kata omong kosong"
(Picollo)

"Saiya 1, 2, 3, itu hanyalah sebuah tingkatan, kekuatan terpendammu hanya ada di dalam hatimu sendiri" 
(Goku)

"Walaupun tubuh dan hatiku kau kuasai, kau tak mungkin menguasai harga diriku!!!"
(Bezita)

"Manusia hanya bisa terus menilai. Tanpa tahu arti dari usaha seseorang"
(Kuririn) 

"Aku tidak ingin jadi yang terkuat, aku hanya ingin menang" 
(Goku)

Kumpulan Kata Bijak Detective Conan


Berikut kumpulan perkataan tokoh-tokoh dalam Detective Conan, semoga menginspirasi... 

"Kehidupan nyata tidaklah sesederhana dengan kehidupan di dalam game"
(Sawada Hiroki)

"Aku tidak keberatan bila harus menunggu. Karena semakin lama kau menunggu, maka kau akan semakin bahagiabila bertemu"
(Ran Mouri)

"Setiap orang bisa berubah. Ketika mereka jauh dari orang lain, hati mereka akan berubah"
(Ran Mouri)

"Seseorang yang tahu isinya sebelum membuka itulah detektif"
(Conan)

"Keberanian adalah kata kebenaran untuk membangkitkan semangat diri, tidak boleh digunakan sebagai alasan untuk membunuh orang"
(Ran Mouri)

"Uang tak bisa membeli hati manusia"
(Ai Haibara)

"Tentara yang kuat seperti apapun, saat kesulitan pasti akan melihat kearah komandannya"
(Kaito Kid)

"Sekalipun itu ditempatkan di telapak tangan kita, bukan berarti kita dapat menggenggamnya"
(Conan) 

"Yang bisa membuat tendangan penalti meleset, hanyalah orang yang mempunyai keberanian untuk melakukan tendangan penalti"
(Conan)

"Hidup itu pendek. Tidak ada yang tahu kapan manusia akan mati"
(Heiji Hattori)  

"Trik adalah teka-teki yang dibuat manusia. Jika manusia mau mengolah otaknya, suatu saat pasti seseorang bisa mendapat jawaban logisnya."
(Shinichi Kudo)

"Aku tahu itu sulit untuk diungkapkan, tapi sebagai pria, kau harus berani dan kau harus mengatakannya" 
(Ran Mouri)

"Kalau lari terus, aku tak akan menang"
Ayumi Yoshida

"Seorang pengkhianat tak akan punya tempat"
(Ai Haibara)

"Alasan untuk membunuh orang itu banyak, tapi untuk menolong seseorang tidak perlu alasan"
(Shinichi Kudo)

"Nyawa manusia itu berharga karena ada batasnya. Batasan itulah yang bisa membuat seseorang berjuang dalam hidupnya"
(Heiji Hattori)

"Jika kita bisa menang karena ini, kita bisa jadi legenda"
(Shinichi Kudo)

"Kata-kata adalah pedang. Jika salah menggunakannya akan mengubahnya menjadi senjata yang tajam"
(Shakuren)

"Yang kuat bukanlah yang menang, yang menanglah yang kuat"
(Conan)

"Jangan percaya pada kesan umum, tetapi berkonsentrasilah pada ciri-cirinya"
(Shinichi Kudo)

Selamat berdinamika...!!!

Kumpulan Kata Bijak Sherlock Holmes


Dia adalah tokoh fiksi karangan Sir Arthur Conan Doyle. Kemampuan analisa dan berfikirnya dalam setiap novel dan filmnya sungguh memukau..

Berikut ini kutipan beberapa kata Sherlock Holmes

"Kau hanya melihat, tapi tidak mengamati"

"Terkadang hal yang terlalu biasa-biasa saja itu adalah hal yang aneh. Hal yang aneh adalah hal yang biasa"

"Aku tidak suka bila hidupku biasa-biasa saja"

"Namaku Sherlock Holmes. Sudah menjadi tugasku untuk mengetahui apa yang tidak diketahui orang lain"

"Untuk mengungkap suatu kasus pembunuhan, berpikirlah seperti pembunuhnya"

"Pendidikan tidak akan pernah berakhir, itu adalah kelanjutan dari belajar. Dengan akhir yang luar biasa"

"Untuk bisa berpikir luar biasa bukanlah hal yang mudah"

"Kejahatan itu umum. Logika itu kebalikannya. Lebih baik berprinsip pada logika daripada berprinsip pada kejahatan yang dilakukan"

"Hal-hal kecil yang tidak terbatas adalah yang paling penting"

"Lebih baik terlambat belajar dengan bijak, daripada tidak sama sekali"

"Setiap kejadian selau terdapat benang merahnya"


 Cara berpikir yang menarik, bukan?

Kumpulan Perkataan Mutiara Buya Hamka




Berikut ini kutipan perkataan Buya Hamka. Cerdas, logis, menyentuh, serta aplikatif.

"Tiga rukun benar dan perlu dalam mencapai utama yaitu dengan tabiat, dengan pengalaman, dan dengan pelajaran"

"Hidup ini bukanlah satu jalan yang datar dan ditaburi bunga melainkan adakalanya disirami air mata dan juga darah"

"Berkisar dan berpaling dari keadilan karena dorongan hawa nafsu hanyalah mempersulitkan diri sendiri"

"Kecantikan yang abadi terletak pada keelokan adab dan ketinggian ilmu seseorang bukan terletak pada wajah dan pakaiannya"

"Cinta itu adalah perasaan yang mesti ada pada tiap tiap diri manusia ia laksana setitis embun yang turun dari langit bersih dan suci. Cuma tanahnyalah yang berlain-lainan menerimanya"

"Cinta bukan mengajar kita menghinakan diri tetapi menghembuskan kegagahan"

"Cinta bukan mengajar kita lemah tetapi membangkitkan kekuatan"

"Kehidupan ini seumpama bunga, maka cinta adalah madunya"

"Bahwasanya cinta yang bersih dan suci murni itu tidaklah tumbuh dengan sendirinya"

"Kegunaan harta tidak dimungkiri tetapi ingatlah yang lebih tinggi ialah cita-cita yang mulia"

"Tahan menderita kepahitan hidup sehingga penderitaan menjadi kekayaan adalah bahagia"

"Iman tanpa ilmu bagaikan lentera di tangan bayi namun ilmu tanpa iman bagaikan lentera di tangan pencuri"

"kenal akan keindahan dan sanggup menyatakan keindahan itu kepada orang lain adalah bahagia"

"JIka anda sedang benar jangan terlalu berani dan bila anda sedang takut jangan terlalu takut. Karena keseimbangan sikap adalah penentu ketepatan perjalanan kesuksesan anda"

"Yang benar tetap benar, yang salah tetap salah, kaya dan miskin di hadapan keadilan adalah sama"

"Kehidupan itu laksana lautan. Orang yang tiada berhati-hati dalam mengayuh perahu, memegang kemudi dan menjaga layar maka karamlah ia digulung oleh ombak dan gelombang. Hilang di tengah samudera yang luas, tiada akan tercapai olehnya tanah tepi"

"Satu hati lebih mahal daripada senyuman, satu jiwa lebih berharga daripada sebentuk cincin"

"Kata-kata yang lembut dan beradab dapat melembutkan hati dan manusia yang keras"

"Musuh yang sentiasa menghaangi menusia mencapai keutamaan ialah hawa nafsu, yang menyebabkan marah dan dengki"

"Berani menegakkan keadilan walaupun mengenai diri sendiri adalah puncak segala keberanian"

"Supaya engkau beroleh sahabat, hendaklah diri engkau sendiri sanggup menyempurnakan menjadi sahabat orang"

"Ikhlas dan sejati akan bertemu di dalam senyuman anak kecil. Senyum yang sebenarnya senyum, senyum yang tidak disertai apa-apa"

"Kalau hidup sekedar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau bekerja sekedar bekerja kera juga bekerja"

"Ketepatan sikap adalah dasar semua ketepatan. Tidak ada penghalang keberhasilan bila sikap anda tepat dan tidak ada yang bisa menoong bila sikap anda salah. 

"Emas tak setara dengan loyang, sutra tak sebangsa dengan benang"

"Hanya orang takut yang bisa berani. Karena keberanian adalah melakukan sesuatu yang ditakutinya. Maka bila merasa takut, anda punya kesempatan untuk bersikap berani"

"Tugas kita bukanlah untuk berhasil. Tugas kita adalah untuk mencoba. Karena di dalam mencoba itulah kita menemukan dan belajar membangun kesempatan untuk berhasil"      

(dari berbagai sumber)

Kumpulan Perkataan Mutiara (Buku Sastra)


Berikut ini kutipan berbagai perkataan mutiara dari berbagai novel

"Begitu juga hidup ini, Thomas. Kepedulian kita hari ini akan memberikan perbedaan berarti pada masa depan. Kecil saja, sepertinya sepele, tapi bisa besar dampaknya pada masa mendatang. Apalagi jika kepeduian itu besar, seperti yang dilakukan opamu terhadapku, lebih besar lagi bedanya pada masa mendatang."

"Selalulah menjadi seperti opamu, Nak. Selalulah menjadi anak muda yang peduli, memilih jalan suci penuh kemuliaan. Kau akan menjalani kehidupan ini penuh dengan kehormatan. Kehormatan seorang petarung." 
(Tere Liye, Negeri di Ujung Tanduk) 


"Kesulitan akan mudah dipecahkan dengan mengubah cara pandang"
(Andrea Hirata, Maryamah Karpov)


"Man Jadda Wajada" (Siapa yang bersungguh-sungguh, niscaya ia mendapatkannya )
(Alif, Ahmad Fuadi, Ranah 3 Warna)

"Daun yang jatuh tak pernah membenci angin. Dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan. Mengikhlaskan semuanya."
(Tere Liye, Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin)

"Bahwa hidup harus menerima, penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti, pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami, pemahaman yang tulus. Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian dan pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan"
(Tere Liye, Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin)

"Musuh terbesarku adalah rasa malas. Kalau aku bisa mengalahkannya, aku bisa mengalahkan apapun selain itu"
(Rival)

"Jika harapan dan keinginan memiliki itu belum tergapai, belum terwujud, maka teruslah memperbaiki diri sendiri, sibukkan dengan belajar. Sekali kau bisa mengendalikan harapan dan keinginan memiliki, maka sebesar apa pun wujud kehilangan, kau akan siap menghadapinya. Jika kau akhirnya tidak memiliki, besok lusa kau akan memperoleh yang lebih baik." 
(Tere Liye, Rindu)

"Tidak ada kehilangan yang paling menyedihkan di dunia ini selain kehilangan kejujuran, harga diri dan martabat"
(Tere Liye, Pukat)

"Saat kita memutuskan untuk memaafkan orang lain, bukan semata-mata karena orang tersebut layak untuk dimaafkan. Melainkan kita selalu layak untuk memiliki kedamaian dan ketenangan di dalam hati. Memafkan itu dekat sekali dengan damai."
(Tere Liye, Rindu)

"Sepotong intan terbaik dihasilkan dari dua hal, yaitu suhu dan tekanan di perut bumi. Semakin tinggi suhu yang diterimanya, semakin tinggi tekanan yang diperolehnya, maka jika dia bisa bertahan, tidak hancur, dia justru berubah menjadi intan yang berkilau tiada tara. Keras. Kokoh. Mahal harganya. 
"Sama halnya dengan kehidupan, seluruh kejadian menyakitkan yang kita alami, semakin dalam dan menyedihkan rasanya, jika kita bisa bertahan, tidak hancur, maka kita akan tumbuh menjadi seseorang yang berkarakter laksana intan. Keras. Kokoh."
(Tere Liye, Negeri Para Bedebah)

"Anak perempuan itu harus gesit, Eli. Besok lusa kau akan mengurus keluarga sendiri, anak-anak. Berapa kali kau lupa meletakkan barang milik sendiri? Berteriak-teriak mencarinya? Membuat ribut sekeluarga? Bagaimana coba kalau besok kau lupa di mana meletakkan anak sendiri"
(Tere Liye, Novel Eliana)     

"Tidak semua luka harus dibayar dengan luka"
(Tere Liye, Rembulan Tenggelam di Wajahmu)

"Tidak semua orang mendapatkan pilihan pertama dalam hidup ini. Tapi kita bisa hidup sama bahagianya dengan mereka, meski hanya mendapatkan pilihan kedua, ketiga, atau bahkan keseratus-satu"
(Tere Liye, Berjuta Rasanya) 

"Masalahnya penerimaan itu bukan sesuatu yang sederhana. Banyak sekali orang-orang di dunia ini yang selalu berpura-pura. Berpura-pura menerima tapi hatinya berdusta. Kita semua harus berlatih susah payah untuk belajar menerima"
(Tere Liye, Sang Penandai)


Tuesday, 15 March 2016

Bahasa Arab Pondasi Peradaban Yang Perlu Direnovasi

perjalanan_ini




Secara kasat mata, bumi yang kita tinggali sekarang ini masih bumi yang sama dengan bumi orang-orang sebelum kita, kemudian terus ke atas hingga Nabi Adam. Beberapa elemennya mungkin saja berubah seiring dengan berjalannya waktu, dan itu bukan sebuah kemustahilan. Mengingat telah berlalu sekian kurun sebelum kita, yang secara matematis usia bumi sungguh teramat tua.

Sejarah mengisahkan kejadian-kejadian penting masa lalu dengan rapi dan tertata. Dikisahkan dalam bentuk irama dan susunan kata yang memukau. Sehingga menarik minat mereka yang haus akan penelusuran jejak-jejak masa lalu umat terdahulu. Beberapa di antaranya adalah alquran dan buku-buku para ilmuwan yang sampai detik ini masih bisa kita buka kembali lembaran-lembaran kertasnya, sekalipun terdapat robekan di beberapa titik yang sering dibuka dan dibaca. Tetap saja itu memiliki daya magis yang luar biasa di mata mereka yang mencintai hikmah dan karya masa lalu.

Al Quran. Yang pertama dan paling utama dalam menelaah berbagai pelajaran dan kisah peradaban umat-umat masa silam. Kekuatan bahasanya yang tiada tara itu seakan menjaga keilmuan yang membumi lagi tak tertandingi. Keilmiahan yang dipaparkan Alquran bahkan beberapa di antaranya menjadi rujukan keilmuan masa kini. Dunia kedokteran mengaguminya, dan takjub atas redaksional bahasa sederhana namun penuh ilmu kekinian, tentang fase pertumbuhan janin misalnya. Tengok saja alquran bagaimana menjelaskannya. Itu hanya contoh kecil di antara cabang keilmuan kontemporer.

Adapun yang berkisah tentang peradaban manusia, Alquran juga menyajikan kisah-kisah peradaban kaum-kaum masa silam, di antaranya kisah kaum Tsamud di surat Al A’raf ayat 74 dan Asy Syu’ara ayat 149, yang sanggup memahat gunung menjadi rumah-rumah berteduh mereka, kisah tentang pembangunan tembok besi oleh Dzulkarnain di dalam surat Al Kahfi ayat 96. Dan kisah-kisah yang lain pula telah dikemas Alquran secara menarik dan penuh perenungan, menjelaskan tentang karunia Allah yang dianugerahkan kepada manusia untuk melahirkan peradaban-peradaban yang membuat kita menatap tak berkedip. Singkatnya, mau tidak mau kita perlu menundukkan kepala, mengakui bahwa Alquran, kitab suci terakhir yang diturunkanNya telah berperan penting dalam mengokohkan pondasi pembangunan peradaban dunia.

Berbicara mengenai peradaban, agaknya kita perlu sedikit banyak membahas tentang buku-buku para ilmuwan terdahulu. Karena dari semua ini kita mampu mendengar kisah-kisah itu bercerita tentang dirinya masing-masing dengan elegan. Tanpa perlu susah payah kita berharap memiliki mesin waktu. Di antaranya peradaban persia yang unik, tentang penggalian parit di saat-saat tertentu saat perang, kemudian ide itu dibawa Salman Al Farisi ke Madinah dan dipraktekkan saat perang khandaq terjadi. Kisah ini kemudian tercatat di dalam berbagai literatur, di antaranya kitab Al Bidayah wa An Nihayah karya Ibn Katsir. Dan kisah-kisah tentang kemasyhuran Damaskus dalam karya Ibn ‘Asakir yang berjudul Tahdzib Tarikh Dimasq. Kisah-kisah tentang rakyat dan raja-rajanya serta berbagai persoalan yang terjadi di dalamnya disajikan secara spesial oleh Imam At Thabari dalam bukunya yang berjudul Tarikh Al Umam wal Muluk. Sederetan kitab-kitab klasik kemudian mengikuti di belakangnya dengan berbagai titik pembahasan yang berbeda-beda.

Peradaban secara umum seringkali dimaknai dengan pemaknaan di atas. Menggambarkan kehebatan tata pemerintahan, kemajuan keilmuan, serta banyaknya perkembangan teknologi yang melesat cepat. Begitupula hal senada yang termaktub dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, bahwa peradaban adalah kemajuan (kecerdasan, kebudayaan) lahir batin, hal yang menyangkut sopan santun, budi bahasa, dan kebudayaan suatu bangsa. Atau jika kita ingin merujuk ke makna yang lain, Arnol Tynbee pernah menyatakan dalam bukunya The Disintegrations of Civilization dalam bab Theoris of Society (New York, The Free Press, 1965) menyatakan peradaban adalah kebudayaan yang telah mencapai taraf perkembangan teknologi yang sudah lebih tinggi.

Salah satu elemen penting peradaban manusia adalah bahasa. Ia menjadi saksi tentang tersebarnya berbagai informasi di belahan bumi. Dengan dialek dan sususan kata yang berbeda antar umat manusia, menjadikannya menempati posisi penting yang mengawal kebudayaan dan kemajuan ilmu pengetahuan dari masa ke masa. Menjaga keilmuan yang ada supaya tetap terbaca oleh orang-orang yang datang dari berbagai kurun setelahnya. Dan semua itu karena salah satu peran bahasa yang mampu mengabadikan warisan tak ternilai untuk dipelajari kembali. Beberapa di antaranya bertahan, berkembang dan melegenda hingga saat ini. Di antaranya adalah bahasa arab.

Sungguh beruntung orang-orang yang pernah bersentuhan langsung dengan bahasa arab, baik itu berbicara, membaca, mendengar, menulis, memahami, meneliti dan berkarya dengannya. Karena sadar ataupun tidak, dia adalah bahasa yang memiliki sejarah panjang. Berbagai generasi pernah menggunakannya sebagai alat komunikasi utama dalam keseharian mereka. Kita tentu masih ingat tentang 3 pembagian bangsa yang berbicara bahasa arab. Berawal dari al ‘arab al baadiah. Mereka adalah orang-orang arab terlama yang pernah tercatat dan dikisahkan bahwa mereka telah punah, seperti kaum Ad, Tsamud, Thasm, Jadis, ‘Imlaq, Umaim, Jurhum, Hadhur, Wabar, ‘Abil dan sebagainya. Kedua, adalah mereka yang dijuluki al ‘arab al ‘aaribah. Mereka inilah yang sering disebut al ‘arab al qahthaniyah sebab mereka adalah keturunan Yasyjub bin Ya’rub bin Qahthan. Mereka adalah bangsa yang diyakini sebagai bangsa arab yang memang benar-benar arab. Sedangkan yang ketiga, adalah al ‘arab al musta’ribah yang bermula dari Nabi Ismail alaihissalam serta berlanjut ke keturunan-keturunannya hingga Nabi Muhammad serta Quraisy pada umumnya. Dia dijuluki dengan al ‘arab al ‘adnaaniyah, diambil dari nama salah seorang keturunan Nabi Ismail alaihissalam. Kisah yang terkenal bahwa dahulu Ismail kecil tinggal bersama kabilah-kabilah bangsa arab sejak Allah menakdirkan air zam-zam mengalir di tanah gersang mekah. Sehingga ia terbiasa berbahasa arab dan fasih seakan-akan ia berasal dari arab[1]. Sekalipun saat itu bahasa arab belum terbagi menjadi 13 bagian (as Sharf, an Nahwu, ar Rasm, al Ma’ani, al Bayan, al Badii’, al ‘Arudh, Al Qawafii, Qardhus syi’r, Al Insya’, Al Khithabah, Tarikhul Adab, Matn al Lughah)[2]

Pertanyaannya adalah, apa hubungan semua ini? Mungkin itu yang terlintas di benak kita secara sepihak. Maka lihatlah sekitar, lihat dengan jeli, bahwa bahasa arab dan peradaban merupakan dua hal yang berkaitan erat. Khususnya di bumi yang sekarang ini sedang kita pijak dan di atasnya langit kita junjung. Mesir menjadi salah satu saksi perkembangan peradaban dunia. Dengan ahli bahasa arab yang pernah hidup dan berjuang dengan peluh mengalir membasahi idenya, maka sepenuh tenaga pula mereka mengkodifikasikan bahasa arab dalam berbagai bentuk kaidah. Salah satu ahli bahasa saat itu adalah Ibn Hisyam[3].

Kitab terkenal dan fenomenal yang pernah beliau tulis adalah Syarh Qatrun Nada wa Balush shada. Di dalamnya beliau menulis matan sekaligus syarhnya dengan tangan beliau. Dan syarh seperti ini (penulisan matan kemudian dijelaskan dengan orang yang sama) adalah syarh yang lebih kuat dari segi ilmiah di banding matan yang ditulis oleh fulan A lalu di jelaskan oleh fulan B. Dan ini termasuk kitab turats di antara berbagai kitab turats yang ada dari berbagai cabang ilmu.

Titik pembahasan kitab ini bertopang pada nahwu hampir secara keseluruhan. Hanya sedikit sekali yang menjelaskan tentang sharf. Adapun dalam menjelaskan nahwu, beliau memaparkan berbagai pendapat para ahli nahwu yang lain, baik yang hidup di masanya ataupun sebelumnya, seperti al Farisy, Al Akhfasy, al Kisa’i, Sibawaih, maupun kabilah-kabilah arab seperti Ahlu Hijaz, Bani Tamim, Thayyi’, Himyar dan sebagainya. Dan diakhir pembahasan, beliau selalu menjelaskan yang Al Ashah (paling shahih) atau Al Arjah (paling rajih) sehingga tidak terkesan membingungkan. Di dalamnya beliau juga mengatakan, bahwa kitab ini pada masanya, diperuntukkan kepada para pemula yang sedang belajar bahasa arab.

Para sahabat dahulu, sangat memperhatikan bahasa arab. Di antaranya adalah Umar bin Khattab yang mengatakan bahwa bahasa arab adalah setengah dari agama, dan beliau enggan mendengar jika ada yang memiliki lahn (kesalahan) saat berbicara. Ali bin Abi Thalib, bahkan dikisahkan beliau memerintahkan Abu Aswad Ad du’aliy untuk menuliskan ilmu nahwu dan syakl di dalam Al quran. Dan begitulah mereka memperhatikan bahasa arab dengan sungguh-sungguh.

Mengapa nahwu berhubungan peradaban? Karena nahwu itu bagai kepala dalam bahasa arab. Dia adalah inti dari kesemua tiga belas cabang ilmu bahasa itu. Dan bahasa arab adalah salah satu bahasa yang ikut andil dalam memajukan peradaban dari masa ke masa. Saat pusat pemerintahan berada di Baghdad, dan dibangun perpustakaan yang bernama Baitul Hikmah di sana, para ulama dari berbagai bidang berkumpul di sana untuk mengajar orang-orang dari penjuru dunia manapun. Baik itu berasal dari tanah arab, tetangga-tetangga negara mereka, maupun dari barat dan dari negara yang tidak terkenal sekalipun. Mengambil ilmu dari mereka dan saat kembali ke tanah air mereka, diajarkan dengan bentuk yang serupa. Dan para ulama tersebut pun menuliskan segala ide keilmuan mereka di kertas-kertas yang kemudian diikat menjadi buku, disimpan di perpustakaan. Dengan bahasa apa? Arab tentunya. Dan mustahil rasanya jika mereka tidak menuliskan ide mereka dengan nahwu yang benar serta susunan kalimat yang teratur sehingga memudahkan penyerapan informasi dari berbagai segi.

Sehingga kesimpulan dari semua pembahasan di atas adalah pentingnya belajar bahasa arab secara umum dan nahwu secara khusus serta kembali merevitalisasi paradigma yang ada di benak kita jika kita masih berfikir bahwa ilmu nahwu tidak sepenting ilmu-ilmu islam yang lain, justru nahwu dan bahasa arab inilah yang aula an yu’lama (lebih pertama untuk dipelajari) sehingga di akhir kata nanti, sedikit demi sedikit, sejengkal demi sejengkal peradaban islam yang ada di hadapan kita ini sanggup kembali berdiri tanpa malu di hadapan bangsa-bangsa lainnya. Biarkan saja mereka menggerutu.



Ditulis saat mengejar batas akhir pengumpulan Essai

14 Maret 2016, di tengah malam yang tenang.

[1] Rahiqul Makhtum, karya Shafiyurrahman Al Mubarakfury

[2] Jami ad durus al ‘arabiyah, karya Mustafa Al Ghalainiy

[3] Nama lengkap beliau adalah Abu Muhammad Abdullah Jamaluddin bin Yusuf bin Ahmad bin Abdullah bin Hisyam Al Anshary Al Mishriy. Dikatakan oleh Ibn Khaldun bahwa ia diakui lebih menguasai ilmu nahwu di banding Sibawaih. Meninggal pada tahun 761 H.

Friday, 16 October 2015

Segelas ide tentang Memulai..



Jumat. 16 Oktober 2015

Segala puji bagi Allah, Dia lah yang Maha Mengetahui junlah daun yang jatuh di atas permukaan bumi. Dia lah yang Maha Mendengar tasbih dan tahmid ikan di samudera dan sungai-sungai. Dan terhadap seluruh bahasa makhluk di muka bumi, hanya Dia lah Yang Maha Memahami. Maka, di manakah kita akan sembunyi, ketika tidak ada tempat berlari? Melainkan hanya kepadaNya lah kita kembali, berserah diri, sepenuh hati.

Kita sama-sama mengetahui, segala hal ada permulaannya dan yang memulai. Sehingga kita dapati bahwa memulai adalah hal yang paling penting dalam rangkaian bertindak atau mencapai suatu tujuan. Dan biasanya memulai adalah hal yang gampang-gampang susah. Gampangnya karena hanya tinggal memulai (biasanya untuk hal yang sepele atau sederhana) sedangkan susahnya adalah ketika yang dimulai bukan sesuatu yang sederhana dan memperoleh pertentangan dari berbagai pihak di sekitarnya, atau yang akan dimulai itu adalah sebagai perlawanan atas kehendak diri sendiri, artinya ia berusaha melawan ego lain yang ada dalam dirinya.

Permasalahan memulai seringkali tidak terpikirkan oleh orang kebanyakan karena hal ini termasuk yang tidak bisa terlihat, hanya segelintir orang saja yang sanggup memanage perkara memulai ini. Oh ya sebentar, dalam hal ini kita akan berbicara tentang memulai suatu hal yang baik atau memulai kebaikan.

1. Dimulai dari hal yang kecil terlebih dahulu.

Perkara kecil selalu lebih enteng dibanding yang besar, kecuali jika ada beberapa pengecualian, yang jelas jika kecil berarti ringan dan tak berat. Maka melatih diri untuk memulai suatu kebaikan adalah dengan memulai hal baik yang kecil, yang sepele, yang bahkan kadang-kadang tidak diperhatikan oleh orang umum. Jika yang kecil sudah tercapai maka berusahalah untuk memulai sesuatu yang lebih besar dari yang pertama. Demikian jika berlanjut maka akan berujung pada pencapaian langkah memulai yang efisien dan tepat.

2. Dimulai dari hal yang paling mudah

Sudut pandang “mudah” ini bisa dibagi menjadi beberapa view; Pertama, dari sudut pandang pribadi, apakah itu mudah jika kita lakukan oleh diri sendiri, ataukah sebaliknya? Kedua, sudut pandang orang lain, apakah mudah kita lakukan menurut oranglain, hanya saja dalam hal ini ada dua kemungkinan, bisa jadi yang mudah bagi orang lain berarti mudah pula bagi kita, atau bisa jadi yang mudah bagi orang lain berarti tidak mudah bagi kita. Ketiga, sudut pandang keumuman masalah, apakah perkara “memulai” itu adalah suatu hal yang benar-benar harus disegerakan, atau hanya sekedarnya saja, artinya tidak terlalu menuntut untuk dilaksanakan.

3. Dimulai dari yang paling dekat

Memulai “memulai” bisa juga kita mulai dari hal yang paling dekat dengan diri kita. Karena sesuatu yang dekat biasanya mudah kita raih, dan yang bisa kita raih dengan mudah berarti tidak ada halangan yang berarti di dalam pemulaiannya itu. Yakni sesuatu yang familiar di sekitar kita, atau suatu hal yang memang menyatu dalam diri kita.

Tiga hal pembagian ini, sekilas memang sederhana. Karena memang benar-benar sederhana. Yang jadi titik tekan dalam hal ini adalah keefektifan “memulai” berdasar pengalaman. Karena kepekaan melihat situasi atas suatu hal bukan hanya didasari teori hitam di atas putih semata, namun karena seringnya ia mengamati fenomena sosial di sekitarnya. Sehingga kebijaksanaan dan keefektifan melangkah akan terlihat berbeda antara seorang yang peka terhadap sekitar dan yang tidak berusaha peka.

Akhir kalam, semoga hari-hari kita semakin bermanfaat dan semakin lebih berkualitas di banding orang-orang kebanyakan. Dan semakin mudah kita memulai sesuatu yang terpuji, yang berbeda dengan kebanyakan, sesuatu yang lebih baik daripada yang dimulai oleh orang selain kita.

Ditulis menjelang shalat Jum’at, dengan hati yang penuh harap.

Thursday, 15 October 2015

Sekeping Renungan tentang Waktu




Kamis, 15 Oktober 2015

Ba’da subuh setelah rehat sejenak

Kita melihat bahwa waktu yang singkat seringkali merupakan alasan bagi orang-orang yang sibuk, lantas mereka mengulur-ulur waktu salat mereka atau enggan melaksanakan ketaatan kepadaNya, maka bisa jadi alasan yang demikian ini adalah akal-akalan pembenaran mereka saja. Mengapa? Karena kita tahu, bahwa waktu satu hari yang diberikan kepada masing-masing manusia adalah sama. Berputarnya satu hari adalah dua puluh empat jam. Tidak kurang tidak pernah lebih.

Sehingga dalam satu hari itu, ada seseorang yang mendapatkan 90% manfaat dari satu hari itu, ada yang memanfaatkan 75% dari sehari itu, ada yang 50% bahkan kurang dari itu. Ironisnya, di beberapa situasi bahkan tidak ada pemanfaatan sama sekali, yang terjadi malah minus atau pengurangan.

Dan semua ritme yang dilakukan orang-orang di sekitar kita berbeda satu sama lain, kadar manfaat yang didapat oleh masing-masing mereka pun berbeda.

Cara dan metode pemanfaatan waktu telah berulangkali menjadi perhatian agama kita, islam. Sekalipun tidak secara detail matematis, namun “perkataan” itu cukup menjadi panduan kita sebagai muslim. Kita masih ingat perkataan salah seorang sahabat yang mulia, Umar bin Al Khattab “Sibukkanlah dirimu dengan hal-hal yang manfaat, jika tidak, maka waktumu akan habis tapi bukan untuk kemanfaatan” Dan perkataan ini memang sering terjadi aplikasinya di dalam diri kita, maupun sekitar kita.

Kelihaian memanfaatkan waktu demi kebaikan pun berbeda satu sama lain. Tergantung kesibukan masing-masing, bahwa semakin sibuk seseorang maka semakin cermat pula ia membagi waktu, sekalipun tidak selamanya demikian.

Contoh kongkretnya, orang yang berorganisasi atau sibuk menimba ilmu pasti akan merasa rugi dan kurang jika ia duduk tanpa melakukan apapun sama sekali. Berbeda dengan orang lain yang biasanya menganggur atau tidak memiliki suatu kesibukan yang tetap, maka diam tanpa bertindak pun bukan sesuatu yang merugikan, ya biasa saja baginya.

Waktu memang harus diatur dan dimanage. Harus diusahakan sebisa mungkin menjadi fasilitas yang meraup manfaat semaksimal dan sebanyak yang kita bisa. Bisa tidak bisa harus bisa, dan mau tidak mau harus mau, karena kerugian atau kegagalan hidup kita bisa jadi bersumber dari waktu, dan keberhasilan para tokoh-tokoh terdahulu seringkali karena pemanfaatan waktu mereka yang baik dan maksimal. Mereka berusaha sebagus dan sekuat mungkin untuk memaksimalkan waktu tiap detik mereka hingga tak ada celah sedikitpun untuk bermalas-malasan  dan tidak melakukan apapun.

Ini memang tidak semudah yang termaktub dalam teori, namun bukan tidak mungkin untuk dilakukan. Terlebih biasanya agak merasa berat jika orang tersebut telah terbiasa bermalas-malasan dan sering melakukan hal yang sia-sia. Ya, mari kita berusaha, dan tetap selalu memohon pada Allah supaya kita mampu memaksimalkan hari-hari kita serta waktu-waktu yang ada di dalamnya. Semoga kita termasuk golongan hambaNya yang bersyukur, dengan memaksimalkan potensi yang Dia berikan sebagus yang kita bisa. 

Barakallahu fiina wa ayyamina.

Tepi sungai nil, perjalanan menuju perjuangan.

Wednesday, 14 October 2015

Berbuahnya Pohon Harapan dan Cita-cita



Rabu, 14 Oktober 2015

... Katakanlah, “apakah sama orang yang buta dan orang yang melihat, atau apakah sama antara kegelapan dan cahaya?...” (QS. Ar Ra’d : 16)

Paparan ini bukan tafsir dari ayat tersebut. Namun hanya sekedar inspirasi yang didapat penulis dari pembacaan ayat yang mulia ini. Setelahnya, pengalaman dan waktu yang pernah dilewati lah yang meneruskan susunan katanya.

Segenggam harapan seringkali musnah seiring dengan berjalannya waktu. Bukan waktu yang menjadi penyebab, akan tetapi karena ketidak-kuatan kita dalam menggenggamnya dalam rentang waktu yang tidak sebentar. Fluktuasi semangat dan tekad yang berubah-ubah dari waktu ke waktu. Hantaman dari dinding luar idealisme kita. Benturan realitas yang membuat kepala pusing, serta umpatan-celaan yang bukan pada tempatnya telah kita dengar dan kita anggap itu lebih masuk akal.

Baiklah, kita mulai dengan suatu permisalan yang sederhana. Tentu ketika SD dulu kita pernah memiliki cita-cita. Menjadi guru umpamanya. Dan cita-cita itu kita tanam dalam hati kita saat ditanya orang lain lantas menjawab, “aku ingin menjadi seorang guru”. Kemudian dari hari ke hari cita-cita itu tumbuh semakin besar, tinggi, layaknya pohon yang rajin disirami oleh pemiliknya. Waktu SMP kita masih tetap ingin menjadi guru. Lingkungan sekitar kita pun mendukungnya, ditambah waktu itu kita masih memiliki lebih banyak kawan yang baik dibanding yang sontholoyo. Saat SMA ternyata lebih banyak kawan yang berubah haluan, mereka berlari ke kehidupan yang ‘menyenangkan’. Kita lupa cita-cita masa kecil kita. Kadang kita terikut arus mereka, sekedar bersenang-senang atau ingin mendapatkan pengakuan. Kadang juga kembali ke jalan yang semestinya dilalui oleh pelajar dan rajin mengerjakan tugas, walaupun ke-rajin-an itu hanya saat ada PR dan mendekati ulangan harian. Maka, di antara mereka yang dulu pernah memiliki cita-cita, pupus, lupa pernah mengucapkan dengan semangat cita-cita tersebut, adapun yang lain, masih kuat memegang cita-cita nya walaupun sekelilingnya berubah. Ia tidak peduli tentang seberapa ‘gila’ kehidupan di kanan kirinya. Ia tetap mengikat cita-cita itu di tangannya. Kuat. Teramat kuat.

Memasuki dunia kuliah, hidup semakin nampak ‘nyata’. Tidak sama dengan jenjang pendidikan sebelum-sebelumnya. Kalian pahamlah sendiri. Sehingga cita-cita itu hanya menjadi cita-cita kosong. Atau beralih ke cita-cita yang lain yang lebih sesuai dan mudah. Atau semakin kuat untuk diangkat ke dunia nyata.

Dunia yang semakin kotor dengan sampah kelakuan dan perkataan manusia. Dan semakin bising dengan hiruk pikuk kendaraan pemikiran orang-orang tidak jelas mana yang mau kita ikuti. Menjadikan orang yang buta mata kepalanya tidak mesti seratus persen buta. Dan tidak mesti mereka yang mempunyai mata, menggunakannya untuk melihat realita dan kepekaan sekitarnya. Karena orang yang buta mata kepalanya bisa jadi memiliki mata hati yang kuat, memiliki pemahaman yang jauh lebih baik, bijak dan mulia di atas rata-rata. Sedang mereka yang memiliki mata kepala, sepertinya dunia membuatnya sudah lupa bahwa dia memiliki mata hati, sehingga sudah lama dia tidak pernah bertafakur, takzim menekuri keadaan diri. Lupa cita-cita mulianya. Cita-citanya di dunia dan akhiratnya pula.

Beberapa kasus yang lain, cita-cita dan harapan ingin sukses di dunia semakin kuat terpatri sedangkan untuk akhirat, terlupakan, pecah berkeping-keping. Kepingan itu hanyut dibawa arus sungai saat banjir bandang. Hilang. Tidak ada yang tersisa. Sekepingpun.

Lalu apa intinya? Tidak ada. Tidak ada yang boleh memusnahkan harapan dan cita-cita kita yang mulia. Semua itu tetap harus terpatri kuat dalam hati dan tak lupa kita pupuk dengan ketaqwaan pada Allah dari waktu ke waktu, selalu mendoakannya supaya tumbuh sehat dan kokoh, akar-akarnya sanggup mengakar kuat dan mencari mata air hingga ke dasarnya, tak roboh sekalipun badai angin menerpa, tidak akan hanyut walaupun banjir bandang merobohkan pohon-pohon sekeliling kita. Hingga setelah demikian lama kita menjaga, akhirnya semoga Allah menganugerahkan buah-buahan yang manis, menyegarkan, menghilangkan rasa lapar dan haus kita, menetralkan seluruh keluh kesah lelah kita. Buah-buah yang sanggup berlipat ganda, tujuh ratus kali jumlahnya. Sehingga, kita bisa membagi buah itu ke tetangga-tetangga, teman sejawat, karib kerabat, handai taulan, dan orang lain yang sedang kelaparan, dan pejalan yang berhenti sejenak melepas rasa lelah di bawah rindangnya pohon kita. Ah, betapa indahnya!

Di Minyah, pagi hari yang syahdu, di bawah pohon rindang, yang enggan disebut namanya.

Sunday, 11 October 2015

Peristiwa Yang Mendewasakan



Dhuha yang tenang

Ahad, 11 Oktober 2015

Agaknya siang memang belum muncul. Suasana memang telah cerah, namun matahari sepertinya enggan bergabung. Dia seringkali bersembunyi di balik awan akhir-akhir ini. Mungkin pertanda sebentar lagi masuk musim dingin. Namun ‘ala kulli hal, semoga kita senantiasa tetap bersyukur pada Allah dan semakin bersyukur. Semoga Dia pun mencerahkan pikiran kita dan memberikan ketenangan serta ketepatan dalam bertindak, hari ini.

Manusia, jika semakin lama ia hidup -secara nalar- seharusnya akan semakin bernilai dan makin memberikan manfaat bagi sekitarnya. Karena waktu ke waktu yang di laluinya, dan hari hari yang telah ia tempuh tentu berisi banyak sekali pelajaran-pelajaran dan hikmah yang ia dapati. Secara lisan maupun tulisan. Secara lahir begitupula batin. Dan secara aspek yang lain yang hanya dia lah yang sanggup menangkap sisi itu.

Peristiwa-peristiwa, serta kejadian-kejadian yang terjadi dan berulang di dunia ini bisa menjadi biasa dan bisa pula menjadi sesuatu yang bermakna. Tergantung dengan mata yang mana seseorang itu melihat. Begitupula banyak sedikitnya seseorang bertemu dengan peristiwa ataupun mendengarnya menjadikan tingkat kebijaksanaannya pun berbeda dengan yang lain.

Kadang-kadang, seseorang yang sudah berusia sekian banyak bisa jadi kedewasaannya kalah dengan yang masih belia. Kebijaksanaan dalam tindak-tanduknya pun nampak tidak sama, unggul yang masih belia terkadang. Mengapa? Banyak faktor yang mendasarinya, di antaranya peristiwa dan kejadian yang mereka hadapi tidaklah sama. Kuantitas pertemuan dengan hal-hal yang ‘rekoso lan nelongso’ masing-masing mereka pun berbeda. Setelah itu, faktor yang paling urgen adalah apakah seseorang tersebut belajar dari pengalaman atau tidak. Itu yang paling penting. Faktor tentang sedikit banyak pengalaman seseorang itu memang berpengaruh terhadap kepribadian dan kedewasaan, namun aktivitas belajar dari pengalaman itu jauh lebih berharga dan berefek daripada banyak peristiwa yang telah dialami namun enggan belajar darinya.

Maka, Salah satu cara yang lebih mudah dan cepat menempuh kedewasaan berfikir dan kebijaksanaan dalam bertindak adalah dengan mempelajari pengalaman dan peristiwa yang telah dialami oleh orang lain. Karena hidup dan waktu kita tidaklah cukup jika harus melakukan semua hal yang telah dialami orang lain. Dan belum tentu juga kita kuat jika Allah memberikan dan menurunkan peristiwa itu kepada kita. Sehingga solusi paling logis adalah belajar dari peristiwa orang-orang di sekitar kita maupun yang hidup sebelum kita.

Semoga kita sanggup senantiasa belajar, dan tidak berhenti. Semangat selalu sobat!

Baitul Muttaqin, Cairo. Sembari bersiap-siap menghadapi hari.

Sunday, 4 October 2015

Kenangan



Selasa, 04 November 2014

Selepas mendengar doa qunut yang memukau, di masjid nurul huda

Beberapa waktu memang memiliki kenangan tertentu. Sehingga masing-masing kesempatan yang pernah kita lalui memiliki ciri khusus dan jarang sekali tertukar dengan yang lain. Maka di sana, kita melihat bahwa kita punya kenangan indah terhadap sesuatu atau seseorang, maka seringkali tersenyumlah kita ketika mengingatnya, kadang terbahak. Dan di sana pula kita mempunyai satu kenangan pahit tentang sesuatu dan tak ingin sekali-kali menguak kembali yang telah kita tutup, serapat mungkin, dan tak boleh ada yang tau.

Lintasan kenangan itu bolehlah menjadi pelipur lara ketika kita jatuh dan jauh dari sesuatu. Yang dengan mengingatnya hati dan pikiran kita sanggup bernostalgia ke waktu itu, ke peristiwa menyenangkan itu, sehingga mengeluarkan letupan api semangat kembali dalam hidup kita yang mulai meredup. Semua kelebat kenangan-kenangan itu menempati posisi khusus di hati dan pikiran kita dan tentunya bukan sesuatu yang bisa disebut hal “biasa”. Karena kenangan adalah sesuatu yang istimewa, mengalahkan seluruh yang istimewa di alam nyata.

Tempatnya kenangan adalah di alam fikiran. Di sanalah ia tersimpan rapat dan seringkali detail peristiwanya pun turut tersimpan rapi bak brangkas emas di tiap bank, yang memiliki banyak kode untuk membuka satu kuncinya, yang tidak akan sanggup dibuka oleh semua orang, hanya orang-orang khusus dan di kondisi yang khusus, bukan di semua kondisi. Maka, momentum-momentum yang tepat bisa jadi memicu suatu kenangan terngiang kembali, lantas sanggup menguap begitu saja atau bahkan menguat tak tertahankan, tak terperi. Tergantung sang pengendali kenangan itu.

Yang disebut pengendali adalah masing-masing orang dari kumpulan manusia di muka bumi. Ianya memang memiliki kecenderungan untuk mengingat hal yang menyenangkan, yang menjadikan dirinya bisa berubah tanpa diubah, yang membuat hatinya menangis tanpa dipancing, yang bisa pula meretas perasaannya dengan sedahsyat-dahsyatnya. Dan ia juga memiliki kecenderungan untuk “tidak sengaja” mengingat memoriam masa lalu yang pilu dan memuakkan. Yang enggan baginya sekali-kali untuk mengingatnya, sedikitpun.

Hal ini menjadi salah satu “benda” manusia yang tak terlihat di samping banyaknya benda yang dimiliki manusia dan tak terlihat. Ia hanya bisa diketahui oleh si empunya dan yang Maha menciptakan empunya itu. Porosnya berputar di dua itu saja, tidak lebih, kecuali memang jika ia melibatkan seseorang atau lebih dalam menguak kembali memori terpendam itu semua. Karena sifatnya tak terlihat inilah yang bisa mempengaruhi jiwa manusia tanpa sadar, tanpa terasa, tiba-tiba muncul begitu saja, tak tertahankan, membuat tangisan kian menjadi.

Tindakan manajemen terhadap semua hal ini bisa menjadi sebuah pedang yang sangat tajam atau senjata api terbaik yang pernah ada di muka bumi. Sebab, jika ia mengasah pedang yang ia miliki dengan baik maka itu akan membantunya mengatasi berbagai masalah yang menimpanya sewaktu-waktu. Jika ia berlatih untuk memainkan pedang itu dengan baik dan gaya yang indah, maka itu akan menjadikan semua musuh yang ia hadapi akan lari bahkan ketika hanya mendengar namanya disebut. Pedang itu, ia bisa membentuknya sendiri sesuka dia, gagangnya, pedang utamanya dari besi ataukah dicampur tembaga atau dilapisi baja yang tak terkalahkan dan sulit sekali patah di peperangan yang “rush” sekalipun.

Akhir kalam, dengan berharap pada Allah azza wa jalla, dengan mengharap segala ridhoNya dan karunia terbaikNya, kita memohon, supaya masing-masing kenangan kita menguatkan jiwa dan raga kita ketika jatuh, serta mengukuhkan keimanan kita di hadapanNya, selalu. Di saat yang lain lalai, maupun di saat yang lain semangat. Ya Rabb, kuatkanlah jiwa dan raga kami. Amin.

Saturday, 3 October 2015

New Year, kata mereka

Kamis, 1 Januari 2015

Sepertinya, orang-orang mengatakan bahwa semalam adalah tahun baru. Ya, itu menurut mereka, jadi terserah mereka. Juga dari berbagai instansi pemerintahan mendukung adanya pesta malam tahun baru ini sehingga membuat lebih “semarak”. Dan semalam itu bisa jadi menentukan rentetan peristiwa setelah-setelahnya, bahkan beberapa jam dari semalam itu memiliki efek terhadap yang datang setelahnya. Dan kita tidak akan membahas rentetan atau efek peristiwa dari pesta tahun baru, karena semua itu bahkan sudah jelas dan kita pahami sebelum kita membahasnya secara pribadi dan khusus.

Pada asalnya, kita sama-sama mengetahui dan menyadari bahwa pesta tahun baru memiliki lebih banyak efek negatif dibanding efek positifnya. Kejelasannya sebagai berikut, pertama, dari segi ekonomi. Tentu untuk menyelenggarakan sebuah pesta dan kemeriahannya membutuhkan dana, dan dana yang dibutuhkan untuk kemeriahan tahun baru tidak akan mungkin sedikit. Tidak akan. Karena persiapan yang dibutuhkan pun tidak sederhana. Berapa banyak kembang api dan petasan yang dinyalakan pada malam itu di sebuah alun-alun kota, dengan dalih pesta rakyat.

Menurut hemat penulis, alokasi pengeluaran jika untuk pesta semacam ini pasti tidak akan pernah diungkit oleh rakyat, berbeda dengan dana pembangunan gedung ini, rehabilitasi sebuah rumah sakit dan yang semisalnya, sehingga memungkinkan adanya beberapa persen penyelundupan dana kas daerah atau provinsi atau bahkan pusat. Padahal ketika melihat kondisi negara kita yang seperti ini, seyogyanya kita sadar diri tentang perekonomian rakyat kita yang masih rendah, banyak sekali rakyat yang berada di bawah garis kemiskinan, bahkan hingga menjadikan mental mereka miskin.

Sehingga Idealnya, pengalokasian yang terarah dan berdaya guna lebih diutamakan daripada sebuah penghamburan dan pembakaran uang untuk sebuah acara yang sia-sia, atau jikapun ada manfaatnya tidak akan berguna kecuali sesaat dan selesai.

Lalu yang kedua, yang lebih riskan adalah tentang islam dan tahun baru. Kedua hal ini tidak akan bisa berkaitan sekalipun kita memaksakan untuk menyambungkan di antara keduanya. Sejak awal mula, tidak pernah ada hari besar kecuali dua, idul fitri dan idul adha, tidak lebih. Arti sederhana dari hari besar adalah, kita memaksimalkan pendanaan dan kemampuan demi hari itu. Dan memang begitulah adanya, ketika kita menganggap sesuatu itu besar maka kita memaksimalkan atau seminimal mungkin untuk hadir di hari besar itu dengan hal yang baik dan terpuji.

Dan tahun baru tidak ada dalam kamus islam. Lalu muncul statemen beberapa orang, apakah karena dalam islam tidak ada perayaan tahun baru lantas kita tidak boleh merayakannya? Bukankah ada hal-hal lain juga yang tidak dilakukan di masa nabi tapi kita lakukan di masa sekarang?

Iya benar. Tidak semua yang tidak ada pada masa nabi, dilarang untuk dilakukan di masa sekarang. Namun yang perlu kita ketahui adalah pembolehan untuk melakukannya diperlukan syarat-syarat tertentu dan tidak serampangan. Karena semua itu ada ilmunya. Ada landasan benar untuk melakukan semua itu. Lalu landasan benar yang mana yang melegalkan perayaan tahun baru, yang di indonesia kekinian banyak diikuti juga oleh orang islam negeri kita?

Ah, tentu jika yang penanya lebih cerdas –oh maaf, lebih tepatnya pendebat- pasti akan memaksimalkan otaknya untuk membenarkan semua itu. Dan itu wajar, kita memiliki kecenderungan membela diri sekalipun tidak berada di atas kebenaran. Dan kita berusaha memberikan pembenaran atas sesuatu yang tidak benar, sehingga terlihat seakan-akan benar.

Bung, masalahnya ini bukan berasal dari sesuatu yang netral, seperti sepeda motor. Kalau sepeda motor itu netral kan? tergantung yang memakai. Jika si pemakai memakai untuk menuju hal baik dan benar maka beruntunglah ia, namun jika sebaliknya ya akan menimbulkan hal yang selaras dengan yang dilakukannya.

Di sisi lain, tahun baru ini berasal dari budaya mereka yang bukan islam. Dan itu termasuk salah satu hari raya mereka. Dan cerdasnya mereka, mereka mengemas seakan-akan ini memang bagus dan diperuntukkan seluruh umat manusia. Dari berbagai kalangan tanpa sekat.

Kita sama-sama mengetahui jika Rasulullah pernah mengingatkan kita, barangsiapa yang meniru suatu kaum, maka ia bagian dari kaum tersebut. Dan sebait kalimat ini mengandung arti yang kompleks sekalipun dengan bahasa yang sederhana. Dari segi arti sebab akibat terutama. Dan kita tidak perlu membahas persoalan ini panjang lebar, karena hal ini merupakan suatu hal yang sudah kita pahami pada hakekatnya, hanya saja kita belum menyadari sepenuhnya.

Sebenarnya lebih banyak lagi pembahasan mengenai efek negatif yang ada pada tahun baru. Namun, pembahasan itu silakan kalian bahas sendiri :)  

Nashrun minallah wa fathun qarib.