Showing posts with label Kisah Nabi. Show all posts
Showing posts with label Kisah Nabi. Show all posts

Saturday, 3 September 2016

Serial Kisah Adam Alaihi As Salam (Bagian 3 - Habis)



Hawa Nafsu Qabil Mendorong untuk Membunuh Saudaranya 

Setelah rangkaian percakapan antara Habil dan saudaranya, rangkaian pesan-pesan nasihat yang sebenarnya meninggalkan bekas makna keimanan dalam jiwa, rasa takut kepada Allah dari hukumanNya di akhirat kelak, sebuah rasa sayang persaudaraan, rasa mencintai seorang saudara yang memberikan nasihat, yang menolak jika keburukan berhak dibalas dengan keburukan, sekalipun itu adalah membunuhnya. Lalu Allah melanjutkan di baris berikutnya.

 فَطَوَّعَتۡ لَهُۥ نَفۡسُهُۥ قَتۡلَ أَخِيهِ فَقَتَلَهُۥ فَأَصۡبَحَ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ   [سورة المائدة,٣٠]

Maka hawa nafsu Qabil mendorong membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang diantara orang-orang yang merugi [Al Ma’idah : 30]   

Yakni : Hawa nafsunya membuat (perbuatan membunuh itu) tampak baik, serta menyemangatinya untuk membunuh saudaranya. Sehingga ia membunuhnya.

فَأَصۡبَحَ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ

Maka jadilah ia seorang diantara orang-orang yang merugi 

Yakni : di dunia dan di akhirat (Ibn Katsir : 2/45) 

Sayyid Quthub mengatakan tentang makna ayat ini, “Ia merugikan dirinya, maka ia mendatangkan jalan masuk kehancuran dalam dirinya, ia merugikan saudaranya, maka ia kehilangan seorang penolong dan seorang karib, ia merugikan dunianya, maka kehidupan tak akan membuat seorang pembunuh merasa tenang, dan ia merugikan akhiratnya, maka ia kembali kepada Allah dengan membawa dosanya serta dosa membunuh saudaranya.” (Azh Zhilal : 2/876)

Burung Gagak Mengajarkan Qabil Cara Mengubur Saudaranya

Setelah Qabil membunuh saudaranya, ia meninggalkannya, tidak tahu apa yang harus diperbuatnya. Kemudian karena khawatir akan dimangsa hewan buas, ia membawa jasad saudaranya di atas punggungnya, sampai Allah mengutus burung gagak; supaya menunjukkan padanya cara mengubur saudaranya, Allah berfirman :

فَبَعَثَ ٱللَّهُ غُرَابٗا يَبۡحَثُ فِي ٱلۡأَرۡضِ لِيُرِيَهُۥ كَيۡفَ يُوَٰرِي سَوۡءَةَ أَخِيهِۚ قَالَ يَٰوَيۡلَتَىٰٓ أَعَجَزۡتُ أَنۡ أَكُونَ مِثۡلَ هَٰذَا ٱلۡغُرَابِ فَأُوَٰرِيَ سَوۡءَةَ أَخِيۖ فَأَصۡبَحَ مِنَ ٱلنَّٰدِمِينَ    [سورة المائدة,٣١]

Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qabil: "Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?" Karena itu jadilah dia seorang diantara orang-orang yang menyesal [Al Ma’idah : 31]   

Terdapat tafsir ayat ini bahwa Allah mengutus dua ekor gagak yang bersaudara, lalu mereka saling membunuh, maka salah satunya terbunuh. Kemudian ia menggali sebuah lubang untuknya, lalu menimbun tanah di atasnya. Sedangkan Ibn Abbas mengatakan, “Seekor gagak mendatangi gagak yang telah mati, maka ia mencari tanah untuk menguburkannya. 

Tatkala melihat hal itu, ia berkata :

يَٰوَيۡلَتَىٰٓ أَعَجَزۡتُ أَنۡ أَكُونَ مِثۡلَ هَٰذَا ٱلۡغُرَابِ فَأُوَٰرِيَ سَوۡءَةَ أَخِيۖ فَأَصۡبَحَ مِنَ ٱلنَّٰدِمِينَ

"Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?" Karena itu jadilah dia seorang diantara orang-orang yang menyesal 

Yakni : Ketika ia melihat apa yang diperbuat gagak tersebut ia berkata,      

يَٰوَيۡلَتَىٰٓ

"Aduhai celaka aku” 

Sebuah pengakuan akan terjadinya azab yang menimpa dirinya. Ini adalah perkataan yang dilontarkan ketika terjadi sebuah musibah yang besar, lafalnya berbentuk panggilan, seakan kecelakaan itu belum datang kepadanya maka ia memanggilnya supaya datang. 

Yakni : Wahai celaka datanglah! Ini adalah saat kedatanganmu. Kemudian Qabil berdiri, menguburkan saudaranya.

Setelah kejadian ini Qabil menjadi salah satu orang yang menyesal karena telah membunuh saudaranya: Karena pembunuhan atas saudaranya itu tidak berguna, karena hal tersebut membuat murka kedua orang tuanya dan saudara-saudaranya, maka penyesalan itu dikarenakan hal-hal ini bukan karena maksiat itu sendiri dan penyesalan itu tidak mendatangkan taubat sehingga tiada berguna penyesalannya. (Ar Razi : 11/209-210) 

Hasad, Sebuah Penyakit Lama

Hasad adalah salah satu penyakit manusia yang sudah sejak lama, bahkan itu menjadi bagian yang dibawa manusia sejak penciptaannya. Penyakit ini bisa dicabut dari akar-akarnya dengan iman yang mantap dan pengetahuan islam yang baik. Bukti yang menunjukkan bahwa ini adalah penyakit lama dan kemungkinannya menjangkiti manusia manapun, kisah hasad Qabil terhadap saudaranya, Habil, serta hasad saudara-saudara Yusuf. 

Pengetian Hasad

Dalam Mu’jam Mufradaat Alfadz Al Quran karya Ar Raghib hal. 116, hasad adalah berangan-angan akan lenyapnya nikmat pada orang yang berhak menerimanya dan kemungkinan sekaligus berusaha untuk melenyapkannya. Sedangkan dalam Tafsir Ath Thabari (20/259) hasad adalah berangan-angan atas lenyapnya nikmat pada orang yang ia dengki sekalipun ia tidak tertarik memiliki nikmat yang semisal.   

Bahaya Hasad

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Berhati-hatilah terhadap hasad, sesungguhnya hasad itu memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar” (HR. Abu Dawud 4903)

Dari Dhamrah bin Tsa’labah Radhiyallahu ‘Anhu berkata, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Manusia senantiasa dalam kebaikan selama mereka tidak saling mendengki (hasad)” (HR. Ath Thabrani, Majma’ Zawaid 8/78, wa rijaaluhu tsiqah)


Dinukil dari kitab Al Qasas Al Quraniy karya Dr. Shalah Al Khalidiy terbitan Darul Qolam, Damaskus.
Penerjemah : Syafiq Elquds

Serial Kisah Adam Alaihi As Salam (Bagian 2)




Sikap Habil Melihat Tekad Seorang Saudara yang Ingin Membunuhnya

Tatkala Habil mendengar sumpah saudaranya dan tekadnya ingin membunuh, ia menjawab sebagaimana yang dikisahkan Allah dalam Al Qur’anNya :

لَئِنۢ بَسَطتَ إِلَيَّ يَدَكَ لِتَقۡتُلَنِي مَآ أَنَا۠ بِبَاسِطٖ يَدِيَ إِلَيۡكَ لِأَقۡتُلَكَۖ إِنِّيٓ أَخَافُ ٱللَّهَ رَبَّ ٱلۡعَٰلَمِينَ [سورة المائدة,٢٨] 


"Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seluruh alam" [Al Ma’idah : 28]           

Yakni : Andaikata engkau menggerakkan tanganmu untuk membunuhku secara dhalim (karena Habil tak bersalah), aku takkan menggerakkan tanganku untuk membunuhmu. Aku bukan orang yang memiliki sifat buruk seperti itu, sifat yang melenyapkan ketaqwaan dalam diri. Aku takkan membalas perbuatan merusak dengan perbuatan yang sama, sehingga aku menjadi sepertimu dalam kesalahan yang sama.

إِنِّيٓ أَخَافُ ٱللَّهَ رَبَّ ٱلۡعَٰلَمِينَ

Yakni : Sesungguhnya aku takut berbuat seperti yang akan engkau perbuat. Namun aku akan bersabar dan tak mengharap apapun dari dunia ini. (Ibn Katsir : 2/43, Al Manar : 6/343, Al Qasimy : 6/159)

Dan dalam kitab Shahihain (Shahih Bukhari dan Muslim) dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Jika dua orang muslim berhadapan dengan pedang di tangan masing-masing, maka si pembunuh dan si terbunuh akan masuk neraka” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, pembunuh ini wajar (jika masuk neraka) lalu mengapa si terbunuh juga?” Beliau bersabda, “Karena ia sesungguhnya berniat kuat untuk membunuh lawannya” 

Habil Menasehati Saudaranya

Ketika perkataan kepada Qabil (sebelumnya) tidak mempan, maka demi mencegahnya berbuat keji, Habil mengingatkannya dengan azab akhirat. Allah berfirman melalui lisan Habil, 

إِنِّيٓ أُرِيدُ أَن تَبُوٓأَ بِإِثۡمِي وَإِثۡمِكَ فَتَكُونَ مِنۡ أَصۡحَٰبِ ٱلنَّارِۚ وَذَٰلِكَ جَزَٰٓؤُاْ ٱلظَّٰلِمِينَ [سورة المائدة,٢٩]   


"Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zalim" [Al Ma'idah : 29]

Yakni : Aku ingin supaya engkau kelak kembali (kepada Allah) dengan membawa dosa membunuhku dan dosamu sendiri yang telah kau lakukan sebelumnya.
     
فَتَكُونَ مِنۡ أَصۡحَٰبِ ٱلنَّارِۚ وَذَٰلِكَ جَزَٰٓؤُاْ ٱلظَّٰلِمِينَ

Yakni : menjadi –dengan membawa dua jenis dosa : dosa karena telah membunuhku dan dosamu sendiri sebelum membunuhku- termasuk golongan penghuni neraka di akhirat, sebab engkau telah berbuat dhalim dengan membunuhku, dan neraka merupakan balasan bagi setiap orang dhalim (Ibn Katsir : 2/42, Al Manar : 6/344)


Dinukil dari kitab Al Qasas Al Quraniy karya Dr. Shalah Al Khalidiy terbitan Darul Qolam, Damaskus.

Penerjemah : Syafiq Elquds

Serial Kisah Adam Alaihi As Salam (Bagian 1)



Kisah dua putera Nabi Adam Alaihis As Salam

Rangkuman Kisah :

Allah mengisahkan pada kita cerita dua putera Adam (Habil dan Qabil) sebagaimana yang telah disebutkan oleh para ahli terdahulu dan kontemporer. Di antara kisah tersebut, bahwasanya Allah mensyariatkan kepada Nabi Adam alaihis salam untuk menikahkan anak-anaknya karena keadaan darurat saat itu (tidak ada manusia kecuali mereka). Dan setiap kelahiran, Allah mengaruniakan sepasang (laki-laki dan perempuan). Oleh karena itu Adam menikahkan puterinya dari perut yang satu (kelahiran) dengan puteranya dari perut yang lain (kelahiran berikutnya atau sebelumnya), dan dikisahkan bahwa saudari Habil itu nampak tak begitu cantik sedangkan saudari Qabil berparas cantik menawan. Maka Qabil menginginkan saudarinya (yang terlahir berbarengan dengannya) untuk dijadikan istrinya. Namun Nabi Adam menolak hal itu, kecuali Habil dan Qabil mempersembahkan kurban masing-masing. Barangsiapa yang kurbannya diterima oleh Allah, maka dialah yang berhak menikahi saudari kandung Qabil. Lalu Allah menerima kurban Habil, tidak demikian dengan Habil. Kemudian perihal keduanya dikisahkan oleh Allah dalam Al QuranNya (Tafsir Ibn Katsir : 2/41)


Hasad Saudaranya dan Tekadnya Membunuh 
Allah berfirman :

وَٱتۡلُ عَلَيۡهِمۡ نَبَأَ ٱبۡنَيۡ ءَادَمَ بِٱلۡحَقِّ إِذۡ قَرَّبَا قُرۡبَانٗا فَتُقُبِّلَ مِنۡ أَحَدِهِمَا وَلَمۡ يُتَقَبَّلۡ مِنَ ٱلۡأٓخَرِ قَالَ لَأَقۡتُلَنَّكَۖ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ ٱللَّهُ مِنَ ٱلۡمُتَّقِينَ  
[سورة المائدة,٢٧]

Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): "Aku pasti membunuhmu!". Habil berkata : "Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa" [Al Ma"idah : 27]   

Kurban adalah sebutan untuk sesuatu yang mendekatkan kepada Allah, dari jenis sembelihan atau sedekah (Ar Razi : 11/205)

Ahli tafsir mengatakan : Kedua putera Adam ini salah satunya adalah pemilik perkebunan dan pertanian (Qabil), sedangkan yang satunya adalah Habil, pemilik peternakan domba. Keduanya diperintahkan untuk mempersembahkan kurban. Habil mempersembahkan domba yang paling tinggi kualitasnya, paling gemuk dan paling bagus, sedangkan Qabil mempersembahkan hasil ladangnya yang paling buruk. Kemudian Allah menerima kurban pemilik domba (Habil) dan tidak menerima kurban si pemilik ladang (Qabil) (Ibn Katsir : 2/42)

Qabil berkata pada saudaranya, “Ternyata kurbanmu diterima, sedangkan kurbanku tidak, demi Allah, aku akan membunuhmu!” Ia marah padanya, serta berhasad dalam hatinya; sebab diterimanya kurban Habil. Maka Habil berkata kepada saudaranya, “Apa salahku?! Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertaqwa” Artinya : dari orang yang bertaqwa pada Allah dalam perbuatannya. Yakni, Allah ta’ala tidak menerima sedekah dan yang sejenisnya dari amal-amal yang berkaitan dengan ridho pemiliknya kecuali dari orang yang mengalir sifat taqwa dalam darahnya. (Ibn Katsir : 2/43, Al Manar : 6/342)


Dinukil dari kitab Al Qasas Al Quraniy karya Dr. Shalah Al Khalidiy terbitan Darul Qolam, Damaskus.

Penerjemah : Syafiq Elquds

Tuesday, 23 August 2016

Kisah Ibrahim dan Ismail Alaihima As-Salam (part 2-Habis)

Ibrahim dan Istri Ismail yang Pertama

Pasca bermukimnya Kabilah Jurhum di sekitar Hajar, Ismail tumbuh berkembang di antara mereka, dan ia belajar bahasa arab dari mereka. Mereka kagum padanya saat remaja. Ketika beranjak dewasa, mereka menikahkannya dengan seorang wanita dari kalangan mereka, dan Ibu Ismail telah meninggal.

Ibrahim datang setelah Ismail menikah, namun ia tak ada di sana, sehingga ia tak menjumpai Ismail di rumahnya, akan tetapi menjumpai istrinya di sana.

Ibrahim bertanya, “Di mana Ismail?”

Istri Ismail menjawab, “Ia keluar, sedang mencari rizki untuk kami”

Ibrahim melanjutkan, “Bagaimana kehidupan dan keadaan kalian?”

Istri Ismail (merasa sempit hati dan membencinya), “Kami dalam keadaan buruk!! Susah dan miskin!!” Dan dia mengeluh di hadapannya.

Ibrahim berkata, “Jika suamimu datang, sampaikan salamku padanya dan katakanlah, ‘Ganti daun pintu rumahnya!’”

Lalu Ismail datang seakan-akan merasa ada sesuatu yang telah terjadi di rumahnya.

Ismail (heran, merasa aneh) bertanya, “Apakah ada seseorang datang kepadamu?”

Istrinya (dengan menghina, berkata), “Iya, telah datang seorang lelaki tua seperti ini dan ini, lalu ia bertanya tentang kita, maka aku memberitahunya, bertanya pula padaku bagaimana kehidupan kita, aku memberitahunya bahwa aku dalam keadaan susah dalam berjuang (bertahan hidup)!”

Ismail bertanya, “Apakah ia mewasiatkan sesuatu?”

Istrinya menjawab, “Iya, dia memerintahkan padaku untuk menyampaikan salam padamu, dan ia berkata, ‘Gantilah daun pintu rumahmu.’”

Ismail melanjutkan, “Dia ayahku, dan engkaulah daun pintu itu. Ia menyuruhku untuk menceraikanmu, kembalilah kepada keluargamu!” 

Dan Ia mentalaknya.

Ibrahim dan dan Istri Kedua Ismail

Ismail menikah dengan seorang wanita dari kabilah Jurhum untuk kedua kalinya, kemudian Ibrahim tinggal jauh dari mereka selama yang Allah kehendaki (berwaktu-waktu setelahnya). Kemudian ia mendatangi mereka, namun tak juga dijumpainya Ismail di sana. Ia mendatangi istrinya dan bertanya tentang Ismail.

Ibrahim bertanya, “Di manakah Ismail?”

Istri Ismail menjawab, “Ia pergi mencari makan” (dari berburu dan sejenisnya)

“Bagaimana hidup kalian?” Lanjut Ibrahim

“Kami dalam keadaan baik dan lapang” Jawab Istri Ismail

Ibrahim bertanya lagi, “Bagaimana makan dan minum kalian?”

Istrinya menjawab, “Makanan kami daging dan minuman kami air putih”

Ibrahim berdoa, “Ya Allah berkahilah mereka di dalam daging dan air mereka, jika nanti datang suamimu, sampaikan salamku dan suruh ia untuk mengukuhkan daun pintu rumahnya”

Rasul Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Berkahlah doa Ibrahim” –Shalallahu ‘Alaihima as Salam- lalu datanglah Ismail.   

Ismail (heran), “Apakah seseorang yang datang?”

Istrinya (dalam keadaan bahagia), “Ya, telah datang kepada kita seorang lelaki tua yang bagus penampilannya –dan ia memuji keadaannya- lalu ia bertanya kepadaku tentangmu maka aku memberitahunya, ia juga bertanya tentang hidup kita. Dan aku memberitahukannya bahwa keadaanku baik-baik saja.”

Ismail bertanya, “Apakah ia mewasiatkan sesuatu kepadamu?”

Istrinya menjelaskan, “Iya, ia menyampaikan salam kepadamu, dan memerintahkanmu untuk mengukuhkan daun pintu rumahmu”

Ismail mengatakan, “Itu adalah ayahku, engkau daun pintu itu dan aku diperintahkannya untuk tidak menceraikanmu.”

Al Khalil (Ibrahim) Bertemu dengan Ismail

Ibrahim meninggalkan mereka dalam waktu yang dikehendaki Allah (beberapa waktu yang Allah tentukan), kemudian ia datang dan Ismail sedang meraut anak panah, di bawah sebuah pohon dekat dengan sumur zam-zam. Ismail melihatnya,  berdiri lalu menyongsongnya dan mereka haru berpelukan.

Mendirikan Ka’bah

Ibrahim (dengan tekad) berkata, “Wahai Ismail, Sesungguhnya Allah memerintahkan kepadaku sebuah perintah”

Ismail menjawab, “Kerjakanlah apa yang telah diperintah Allah”

Ibrahim melanjutkan, “Kau membantuku?”

Ismail berujar, “Iya, aku akan membantu”

“Maka sesungguhnya Allah memerintahkan padaku untuk membangun sebuah rumah (ka’bah) tepat di sini, lalu ia menunjuk ke bukit yang lebih tinggi daripada sekitarnya.” Jelas Ibrahim

Di sanalah, keduanya meninggikan pondasi-pondasi ka’bah dan mulailah Ismail mengambil batu sedangkan Ibrahim membangunnya, sampai saat bangunan itu telah tinggi ia datang membawa sebuah batu (maqam) dan meletakkannya di sana, lalu ia berdiri dan membangun, dan ismail menyediakan bebatuan yang lain. 

Ibrahim  dan Ismail berdoa, “Wahai Tuhan kami, terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”

Pelajaran Berharga :

1. Seorang muslim hendaknya tunduk pada perintah-perintah Allah, mengutamakan ketaatan atasNya dan cinta padaNya di atas yang lain-lain, sekalipun itu cinta kepada istri yang shalihah atau seorang anak tunggal.

Maka Ibrahim melaksanakan perintah Allah ketika diperintahkan untuk membawa istrinya (Hajar) dan seorang anak yang masih dalam susuan (Ismail) ke suatu lembah yang tiada tanaman, air dan seorang manusia pun.

2. Seorang istri yang shalihah memenuhi perintah Allah, serta patuh kepada suaminya yang sabar dan beriman kepada Allah, seraya berkata, “Maka, Allah takkan pernah menyiakan kita”

3. Ibrahim meninggalkan istrinya yang (memenuhi perintah Allah), serta putera kecilnya di suatu lembah setelah membekali mereka dengan sekantong kurma, satu bejana berisi air, kemudian mendoakan mereka, “Ya Tuhan kami, Sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak ada tanaman, di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati”. Dengan hal ini, Ibrahim mengajarkan kepada kita untuk menggabungkan antara doa dan mengambil sebab (berusaha).

4. Ibu Ismail mencari air ketika habis, ia berusaha dan berlari-lari kecil antara bukit shafa dan marwah berulang kali sampai ia menemukan air (zam-zam)

5. Boleh bagi seseorang, ketika ia mendengar suara (manusia lain), untuk meminta tolong. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh ibunda Ismail. Ini adalah hal yang boleh dilakukan dari seorang makhluk, lain lagi jika halnya meminta tolong kepada mayit atau sesuatu yang gaib

6. Sesungguhnya Allah memilih keluarga Ibrahim, dan menjadikan sebagiannya keturunan para Nabi dan para Rasul, maka bagaimana mungkin Ibrahim ridha terhadap istri Ismail (yang pertama) yang keadaan jiwanya kering seperti itu, sebab ia hanya hidup demi tubuhnya saja, tidak memerdulikan melainkan makanan dan minuman saja, lalu menjelekkan tamunya yang notabenenya adalah ayah suaminya, ia tidak mengakui nikmat tuhannya, mengeluh tentang buruknya hidup yang dialami. Oleh sebab itu, Ibrahim mengisyaratkan kepada anaknya untuk menceraikannya dan berlepas diri darinya.

7. Adapun istri Ismail yang kedua adalah seorang yang shalihah, memuliakan tamunya, dan bersyukur atas nikmat tuhannya, oleh sebab itu Ibrahim mengisyaratkan supaya Ismail mempertahankannya dan menjaganya.

8. Ketaatan dan kesabaran memiliki akhir yang baik, juga sebuah pengingat yang abadi. Tempat yang liar dan keras, tempat bermuqimnya Hajar, Ibunda Ismail, yang awalnya kering datarannya, menjadi sebuah tempat yang dihormati dan aman, dan sebuah daerah menetap yang ditinggali. Di dalamnya terdapat air yang diberkahi (zam-zam). Pikiran-pikiran manusia tertuju ke sana, buah-buahan tumbuh di sana, dan datangpula berbagai bangsa untuk menunaikan ibadah haji dari tempat yang jauh, supaya mereka mampu mengambil manfaat dalam penyelesaian masalah mereka dan supaya mereka menyaksikan manfaat baik dunia maupun akhirat di sana.



Disarikan dari kitab Min Bada'i al Qasas An Nabawiy, karya Muhammad bin Jamil Zainu
Penerjemah : Syafiqul Lathif 

Kisah Ibrahim dan Ismail Alaihima as-Salam (part 1)

Hajar dan putranya, Ismail

Ketika suatu masalah terjadi antara Ibrahim dan keluarganya (kecemburuan antara istrinya –Sarah- yang tidak memiliki putra dengan Hajar, ibunda Ismail), Allah memerintahkan Ibrahim untuk memindahkan Hajar dan anaknya di Hijaz. Pergilah Ibrahim bersama Hajar yang sedang dalam masa menyusui Ismail, kemudian meletakkan mereka di dekat al bait (lokasi ka’bah) di bawah rimbunnya pohon di atas mata air zam-zam dari masjid tertinggi, dan saat itu tidak ada seorangpun berada di Mekah, tidak pula ada air di sana, maka ia meletakkan di sisi mereka satu wadah dengan kurma di dalamnya dan bejana dengan air di dalamnya. 

(Ibrahim kembali bertolak, maka Ibunda Ismail mengikutinya)

Hajar berkata, “Kemana engkau akan pergi, meninggalkan kami di lembah, yang tidak ada seorang manusiapun, pun tak ada sesuatu di sini?”

(Hingga Hajar berkata seperti itu berulang kali, sedang Ibrahim tak sedikitpun menoleh kepadanya)

Hajar berujar, “Apakah Allah yang memerintahkanmu ini?” 

Ibrahim mejawab, “Iya”

Hajar, “Baiklah, (aku yakin) Allah takkan menyia-nyiakan kami”

Hajar kembali ke tempatnya semula, dan Ibrahim Alaihi Sholatu Wa Sallam bertolak, sampai ketika ia tiba di Tsaniyah (suatu tempat di Mekah), yang tidak ada melihatnya di sana, ia menghadap wajahnya ke kiblat

Ibrahim berdoa, “Wahai tuhan kami, sesungguhnya aku menempatkan keturunanku di lembah yang tidak ada tanaman di sana, di sisi Baitul Haram-Mu, Wahai tuhan kami, supaya mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah pikiran dari manusia mengarah ke sana, dan berilah mereka rizki dari buah-buahan, semoga mereka bersyukur” 

Ibunda Ismail Mencari Air

Mulailah Hajar menyusui Ismail dan meminum dari air itu (air yang di dalam bejana) sampai tatkala air itu habis dan ia haus, begitupula puteranya. Ia melihat putranya tiba-tiba rewel, sehingga ia enggan memandang putranya. Sedangkan puteranya hampir mati kehausan. Akhirnya Hajar mendapati ada shafa, bukit terdekat dari tempat ia berpijak saat itu. Kemudian ia menaikinya dan menghadap suatu lembah, memeriksa apakah terlihat seseorang di sana, dan ternyata ia tidak menjumpai seorangpun. Maka ia turun dari shafa, sampai ketika ia sampai ke lembah lain, ia mengangkat salah satu sisi pakaiannya kemudian berjalan cepat, berlari kecil-kecil seperti seorang yang lelah, sampai ia melewati lembah itu, kemudian ia mendatangi bukit marwah dan menaikinya untuk melihat sesuatu, namun ia tak melihat suatu apapun. Dan ia melakukan itu sebanyak tujuh kali.

Ibn Abbas berkata, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Maka itulah Sa’i manusia di antara keduanya (bukit shafa dan marwah)” 

Memancarnya Air Zam-Zam 

Hajar menyapu pandangan ke marwah untuk terakhir kalinya, dan ia mendengar suara. Maka ia berkata dalam hatinya kepada dirinya sendiri, “Diamlah!” kemudian ia berusaha mendengarkan dengan seksama, maka hatinya juga mendengar suara itu.

Hajar berkata pada dirinya (dalam hatinya), “Aku dengar juga jika engkau memiliki suatu permohonan, maka memohonlah, wahai jiwaku”. Sejenak, tiba-tiba muncul malaikat di dekat (tempat akan munculnya air zam-zam), menggali dengan sayapnya sehingga menyemburlah air. Dan ia (Hajar) mulai menampung air itu, membentuk telaga dan ia berkata dengan tangannya seperti ini, lalu ia menciduk dan menuangkan air itu dalam wadah persediaan airnya, dan segera meminum air itu lalu menyusui puteranya kembali. 

Ibn Abbas Radhiyallahu ‘Anhu berkata bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Semoga Allah merahmati Ibunda Ismail, jika ia meninggalkan zam-zam, maka zam-zam akan menjadi air yang terus mengaliri seluruh dunia”

Malaikat itu berkata, “Kalian tidak perlu takut akan binasa, karena tepat di sini adalah baitullah yang akan dibangun oleh anak ini bersama ayahnya, dan Allah takkan menyia-nyiakan ahluNya (orang yang dekat denganNya). (Dan adalah ka’bah itu terletak tinggi daripada tanah seperti daerah Rabiyah yang datang padanya aliran air yang besar dari berbagai arah, kanan dan kiri)     

Kabilah Jurhum singgah di dekat air zam-zam : 

Hajar tinggal di sana sampai ada rombongan Kabilah Jurhum yang lewat dan singgah di daerah Makah, lalu mereka melihat ada burung yang berputar-putar di atas. Mereka berkata, “Sesungguhnya burung di atas ini berputar-putar di atas sumber air, padahal kita sudah sering melewati lembah ini dan tidak pernah menjumpai ada air di sini." Maka mereka mengutus penyelidik (mata-mata), ternyata mereka menemukan air, sehingga mereka kembali dan mengabarkan tentang air itu. Kemudian mereka ke sana dan lihatlah, Ibunda Ismail berada di samping air itu.

Jurhum berkata, “Apakah engkau mengizinkan kami untuk singgah dan tinggal di sini?”

Hajar menjawab, “Baiklah, akan tetapi kalian tidak punya hak terhadap air ini (artinya jika menginginkan air itu, harus izin terlebih dahulu).”

Jurhum membalas, “Ya”

Maka tinggallah Jurhum di sana dan mereka mengirimkan kabar kepada keluarga-keluarga mereka, sehingga keluarga mereka semua tinggal di sekitar mereka

Ibn Abbas Radhiyallahu ‘Anhu berkata, bahwa Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Maka, akhirnya terbentuklah pemukiman dan Ibunda Ismail disayangi orang-orang di sana”


Disarikan dari kitab Min Bada'i al Qasas An Nabawiy, karya Muhammad bin Jamil Zainu
Penerjemah : Syafiqul Lathif