Showing posts with label Kisah. Show all posts
Showing posts with label Kisah. Show all posts

Monday, 7 November 2016

Kisah Arqam dan Uwais Al Qarni


Tahun ketiga Hijriyah, hidup seorang pemuda mulia. Dan ia mendapat kedudukan khusus di mata Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Begitu spesialnya, sehingga Rasulullah secara khusus berpesan kepada Umar bin Khattab agar meminta didoakan kepada pemuda tersebut apabila bertemu. 

Ketika Umar bertemu sang pemuda, tidak nampak dalam dirinya keunggulan spiritual yang tinggi. Sehingga Umar pun sempat berpikir. “Apa yang istimewa dari orang ini. Dia berjualan tidak sambil berdzikir ataupun membaca qur’an. Tapi mengapa Nabi menyuruhku meminta doa pada orang ini?”

Umar membuntunti Arqam sampai di rumahnya. Sesampai di rumah, ia melihat Arqam merebus dan membumbui daging. Setelah itu, daging tersebut diangkat dan dihidangkan pada ibunya. Arqam menyuapkan daging itu pada ibunya yang menderita lumpuh dengan sangat lembut. Ketika selesai menyuapi ibunya, Umar lantas menemui pemuda itu. 

Sahabat Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam ini pun bertanya, “Apakah setiap hari kamu melakukan ini?”

“Benar, tuan,” jawab Arqam.

“Sejak kapan?”

“Sejak saya mengenal ibu saya.”

Umar pun semakin takjub, ketika Rasulullah memberi tahu Umar, “Aku pernah bertemu pemuda itu saat akan haji. Dia pun haji sambil menggendong ibunya dari Kufah (Iraq) sampai Makkah.”

Bukan hanya Arqam saja yang seperti itu, Uwais Al Qarni pun demikian. Bahkan Rasulullah pernah bersabda yang diriwayatkan oleh Muslim kalau pemuda asal Yaman itu termasuk orang yang masyhur, disanjung penduduk langit.

Aktivitas Uwais setiap harinya bekerja dan merawat ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan. Ia tidak pernah mengeluh sedikit pun karena kondisi yang dialami ibunya. Sebaliknya, ia sangat fokus dan sungguh-sungguh memberikan pelayanan terbaik kepada orangtuanya. Demi baktinya pada sang ibu, sehingga ia berkali-kali mengurungkan niatnya berkunjung untuk melihat wajah Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam di Madinah.

Perlu dicatat, Arqam dan Uwais mendapat apresiasi setinggi itu, bukan lantaran mereka sahabat utama Rasulullah. Bukan pula dari garis keturunan ningrat. Namun apresiasi itu justru didapatnya karena dia membaktikan hidupnya mengurus orangtuanya tanpa menunggu hidupnya berkecukupan. Keadaan terbatasnya tak menghalangi berbakti kepada sang ibunda, sepenuh hati, sepenuh jiwa. 
          


Cuplikan kisah rubrik Tarbiyah, Hidayatullah edisi April 2015 / Jumadil Akhir 1436 H, dengan perubahan seperlunya.

Ditulis ulang oleh Syafiq Elquds

Saturday, 17 September 2016

Kisah Shuhaib ar-Rumy



Saudagar yang Beruntung 

Walaupun akhir namanya ar-Rumy, tapi sebenarnya Shuhaib bukanlah orang Romawi. DIa orang arab asli. Ayahnya dari Bani Numair, ibunya dari Bani Hamim. Gelar ar-Rumy tersebut mempunyai kisah tersendiri,  yang senantiasa dihafal oleh para ahli sejarah dan diceritakan oleh para pengarang. Begini kisahnya!

Dua periode sebelum diutusnya Muhammad sebagai Nabi, Bashrah diperintah oleh seorang raja bemama Sinan bin Malik an Numairy. Setelah itu negeri tersebut diperintah oleh Kisra, Raja Persia. Sinan bin Malik an Numairy mempunyai seorang putra berusia lebih kurang lima yang sangat ia sayangi. Namanya Shuhaib.

Shuhaib berwajah tampan, berambut merah memperlihatkan kesegaran, mempunyai sepasang mata yang memancarkan kecerdasan dan kepintaran. Di samping itu, dia periang, sehingga menjadi penawar hati yang menimbulkan kegembiraan serta menghilangkan segala rasa duka di hati sang ayah. 

Suatu Ketika ibu Shuhaib pergi berlibur bersama putranya yang masih kecil itu. Diiringi segenap inang pengasuh, para pembantu dan pengawal istana, dia pergi ke desa Tsaniya, Iraq. Tiba-tiba sebuah pasukan patroli tentara Romawi menyerang desa itu. Mereka membunuh para pengawal, merampas semua harta penduduk negeri itu dan menawan sejumlah wanita dan anak-anak. Di antara tawanan itu terdapat Shuhaib.  

Shuhaib diperjualbelikan oleh tentara yang menawannya di pasar budak, di wilayah Romawi. Shuhaib berpindah-pindah tangan dari satu majikan ke majikan yang lain, berkhidmat dari satu tuan ke tuan lainnya. Keadaannya sama dengan ribuan budak-budak yang memenuhi istana negeri Romawi ketika itu.

Sebagai budak, Shuhaib dapat melihat seterang-terangnya bagaimana gambaran masyarakat Romawi sebenarnya. Dia melihat dengan nyata kehidupan istana yang penuh dengan kekejian, kezaliman dan kepalsuan. Begitu bencinya melihat tenomena tersebut, dalam hati ia berkata, "Masyarakat seperti ini tidak akan dapat diperbaiki melainkan dengan angin topan." 

Shuhaib dibesarkan di negeri Romawi yang keadaannya seperti itu. Akibatnya ia hampir lupa berbahasa Arab. Namun demikian, satu hal yang tidak pernah hilang dari pikirannya, ia adalah bangsa Arab, putra bangsa padang pasir sahara. Keinginannya untuk bebas dari perbudakan dan bertemu kembali dengan putra-putra sebangsanya, tak pernah hilang dari hatinya, Bahkan, kerinduannya pada negeri Arab kembali bergejolak ketika mendengar seorang pendeta Nasrani berkata kepada majikannya, "Sesungguhnya telah dekat masanya akan muncul di Makkah, di Jazirah Arab, seorang Nabi yang mengakui kerasulan isa bin Maryam, dia menyelamatkan umat manusia dari kegelapan menuju cahaya yang terang."

Ketika mendapatkan kesempatan untuk lari dari perbudakan, Shuhaib kabur ke kota Makkah, ibukota dan pusat pemerintahan Arab, serta tempat Nabi yang ditunggu-tunggu nanti akan diutus. DI Makkah, orang-orang memanggilnya Shuhaib ar Rumy karena lidahnya yang berat berbahasa arab dan rambutnya yang merah. Mereka mengira bahwa ia adalah orang Romawi.

Shuhaib mengadakan kontrak kerja dengan Abdullah bin Jud'an, seorang pedagang Makkah, untuk membawa barang dagangannya ke pasar-pasar tertentu. Dari pekerjaannya itu ia memperoleh penghasilan yang cukup. Namun, bagaimanapun sibuknya ia bekerja, tetap tidakpernah melupakan berita gembira yang pernah disampaikan pendeta Nasrani itu. Karenanya setiap kali ucapan pendeta itu terlintas di benaknya, ia mengeluh tertahan, "Kapan Nabi itu akan muncul?"

Selang beberapa waktu kemudian, akhirnya pertanyaan itu terjawab. Setelah tiba di Makkah dari sebuah perjalanan niaganya, seseorang memberitakan bahwa Muhammad bin Abdullah telah diutus. Shuhaib bertanya kepada orang yang mengabarkan berita tersebut, "Apakah dia orang yang digelari al amin?"

"Ya, benar!"

"Di mana dia sekarang?" tanya Shuhaib.

"Di rumah al Arqam bin Abil Arqam, dekat bukit Shafa. Tapi hati-hati kalau anda pergi ke sana, jangan sampai terlihat oleh orang-orang Quraisy. Bila ada yang melihat, anda akan disiksa. Apalagi anda adalah orang asing di sini, tanpa sanak famili yang melindungi."

Dengan hati-hati Shuhaib pergi ke sana. Sesampainya di sana, ia menjumpai Amar bin Yasir yang sedang berada di dekat pintu. Kebetulan, ia telah mengenal sebelumnya. Shuhaib segera mendekati Amar seraya bertanya, "Wahai Amar, anda hendak ke mana?"

"Anda sendiri hendak ke mana?" Amar balik bertanya
   
 "Saya hendak masuk ke rumah orang ini," jawab Shuhaib

"Wah, kebetulan. Saya juga ingin masuk!" Ujar Amar 

"Kalau begitu, mari kita masuk bersama," ajak Shuhaib.

Shuhaib bin Sinan dan Amar bin Yasir masuk ke majelis Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam untuk menengarkan secara langsung dari beliau tentang Islam. Cahaya iman segera bersinar dari dada mereka. Keduanya berlomba mengulurkan tangan kepada Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam untuk berbaiat dan mengucapkan dua kalimat syahadat. Hari itu keduanya menghabiskan waktu di samping tinggal Rasulullah, karena dahaga akan petunjuknya dan merasa nikmat berada di sisi beliau.

Tatkala Rasulullah mengizinkan para sahabatnya hijrah ke Madinah, Shuhaib bertekad pergi bersama beliau dan para sahabatnya. Shuhaib menyiapkan kekayaanya berupa emas dan perak untuk dibawa hijrah. Namun, rencananya gagal karena dihalang-halangi orang-orang Quraisy.

Ketika Rasulullah dan para sahabatnya tiba di Madinah,  Shuhaib masih tertinggal di Makkah. Ia terus berusaha mencari menda kesempatan untuk menyusul. Sayang, pengawasan orang-orang kafir begitu ketat. Sepertinya tidak ada jalan lain baginya kecuali membuat tipu daya.

Pada suatu malam, ia pura-pura sakit perut dan pergi ke jamban. Orang-orang musyrikin tidak cunga. Bahkan, salah seorang di antara mereka berkata, "Tenangkan hati kalian Lata dan Uzza akan mengawasinya." Mereka pun pergi ke pembaringan dan tertidur pulas.
  
Kesempatan tersebut dipergunakan Shuhaib untuk melarikan diri. Buru-buru ia pergi ke arah Madinah. Belum begitu jauh Shuhaib berjalan, para penjaganya sadar apa yang telah terjadi. Mereka bangun dari tidur, lalu memacu kuda-kuda mereka untuk melacak kepergian Shuhaib. 

Ketika Shuhaib merasa ada yang mengejarnya, ia naik ke tempat yang lebih tinggi. Lalu diambil anak panah untuk dipasang pada busur. Ia berteriak kepada para pengejarnya, "Hai kaum Quraisy! Kalian tahu saya ini adalah pemanah yang paling jitu. Demi Allah! Kalian tidak akan dapat mendekati saya hingga setiap anak panah ini habis menewaskan kalian satu persatu. Saya juga akan mempergunakan pedang saya satu-satunya untuk membunuh kalian

"Demi Allah,  kami tidak akan membiarkanmu dan uangmu yang banyak itu lepas dari kami. Kamu datang ke Makkah dalam keadaan miskin. Kini kamu sudah kaya dan lebih dari cukup," jawab para pengejarnya. 

"Bagaimana kalau hartaku ini aku tinggalkan untuk kalian. Bersediakah kalian melepaskanku?" Shuhaib menawarkan hartanya 

"Ya, kami bersedia!" jawab orang-orang Quraisy. 

Shuhaib melemparkan kantong uangnya ke hadapan mereka. Dan, ia pun dibiarkan pergi ke Madinah. Shuhaib pergi ke Madinah untuk menyelamatkan agamanya, tanpa menyesal atas harta yang dikorbankannya,  demi untuk memetik kemuliaan dan kebahagiaan hidup. Ia rela menjual segala kekayaannya untuk mendapatkan keselamatan menjalanakan agamanya.

Jika dia merasa lelah dan letih dalam perjalanan, kerinduan kepada Rasulullah selalu membangkitkan semangatnya sehingga ia merasa kembali lega. Ia pun meneruskan perjalanannya dengan langkah tegap.  

Sampai di Quba Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam melihal kedatangan Shuhaib. Sambil tersenyum beliau berkata, "Perniagaan Anda beruntung, wahai Abu Yahya!"

Rasulullah mengatakan kata-kata itu sampai tiga kali. Padahal, tak seorang pun yang memberitahunya tentang apa yang menimpa Shuhaib. Mendengar ucapan beliau, wajah Shuhaib menjadi semakin cerah. "Demi Allah! Setahuku tidak ada orang yang mendahuluiku menemui anda. Tentu Jibril yang memberitahukan kepada anda perihal perniagaan itu." 

Memang benar. Perniagaan Shuhaib sungguh berlaba. Hal itu dibenarkan oleh wahyu dari langit dan disaksikan oleh malaikat Jibril. Allah berfirman, "Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah, dan Allah Maha Penyantun kepada hamba hambaNya." (QS.  Al-Baqarah : 207) 


Dinukil dari Rubrik Lentera, majalah Sabili no. 04 Tahun X 5 September 2002 / 27 Jumadil Akhir 1423 H
Ditulis ulang oleh Syafiq Elquds 

Friday, 16 September 2016

Kisah Secawan Air


Khalifah Harun Ar Rasyid terkenal dengan kebijakan dan kerendahan hatinya. Ia tidak hanya adil terhadap kawan, namun juga bijak kepada lawan. Dalam berbagai urusan pemerintahan dan kemasyarakatan, ia selalu bertanya kepada ahlinya. Selain dekat dengan bawahannya, ia juga akrab dengan ulama. Tak jarang ia meminta nasihat kepada mereka. Bukan sebagai pemimpin negara melainkan sebagai murid.

Pada suatu hari ia bertanya kepada salah seorang ulama yang telah diangkatnya menjadi penasihat. “Wahai guru, sudah banyak saran yang saya terima, telah banyak peringatan yang saya dengar. Namun, saya belum mendapatkan sedikitpun nasihat dari anda. Rasanya, saya belum puas kalau belum diberi nasihat,” Ujar Harun Ar Rasyid tersenyum

Sang Ulama diam sejenak. Sembari tersenyum ia berkata, “Bolehkah saya meminta dua cawan air putih. Secawan untuk tuan dan secawan untuk saya.”

Dengan sedikit keheranan Harun Ar Rasyid mengabulkan permintaannya. Begitu minuman tersebut tersedia di meja, Harun Ar Rasyid diperkenankan untuk meminumnya. Namun, sebelum cawan berisi air itu singgah di bibir khalifah, ulama tersebut tiba-tiba mencegahnya seraya berkata, “Maaf Amirul Mukminin, seandainya tuan berada di tengah padang pasir yang gersang, sinar matahari begitu terik membakar, sedang persediaan air tuan tidak ada lagi, dan diperkirakan tak lama lagi tuan akan mati kehausan, tiba-tiba datang seorang menawarkan secawan air, apakah tuan akan menerimanya?”

“Ya, saya akan menerimanya. Dalam keadaan seperti itu, separuh kerajaan pun akan saya berikan untuk menebus secawan air yang diberikannya kepadaku.”

“Tuan memang jujur,” ujar sang ulama. Lalu, ia mengajak Harun Ar Rasyid menghabiskan air di dalam cawan masing-masing.

“Kini air sudah tuan minum hingga tetes terakhir. Namun, masih ada kesulitan yang tuan alami. Seandainya air tersebut tidak bisa dikeluarkan dari tubuh tuan sampai berhari-hari, berapa tuan mau membayar supaya air tersebut bisa dikeluarkan?” tanya sang ulama kemudian.

Khalifah termenung sejenak. “Berapapun akan saya bayar!” ujarnya mantap

“Walaupun tuan diminta untuk membayar dengan separuh kerajaan milik tuan yang tersisa?” tanya sang ulama.

Tanpa berpikir lama, Harun Ar Rasyid menjawab lugas, “Ya, saya akan membayar sekalipun dengan sejaruh kerajaan.” 

Mendengar jawaban Khalifah, sang ulama menggunakan kesempatan itu untuk memberikan nasihatnya.

“Wahai Amirul Mukminin, ternyata harga kerajaan tuan sangat tidak berarti di sisi Allah. Seluruh kerajaan yang tuan banggakan, harganya tak lebih dari secawan air belaka. Separuhnya untuk menebus kehausan tuan dan separuh lagi untuk membayar agar tuan bisa mengeluarkan air dari tubuh tuan. Begitulah nilai kerajaan tuan di banding kekuasaan Allah. Dan, itulah nasihat saya.”


Dinukil dari rubrik Oase, Sabili Edisi September 2002 / 27 Jumadil Akhir 1423 H 
Ditulis ulang oleh Syafiq Elquds dengan perubahan seperlunya  

Friday, 2 September 2016

Kisah Pembangun Jiwa : Tukang Roti dan Istighfar


Kisah ini terjadi di zaman Imam Ahmad bin Hanbal. Suatu ketika Imam Ahmad ingin menghabiskan waktu malam di masjid. Tetapi, oleh penjaga masjid beliau dilarang menginap di dalam masjid. Imam Ahmad terus berusaha, akan tetapi sia-sia saja. Akhirnya, Imam Ahmad berkata, "Aku akan tidur di tempat berpijaknya telapak kakiku ini. Betul saja, Imam Ahmad bin Hanbal pun tidur di sana. Penjaga masjid kemudian menjauhkannya dari masjid.  

Imam Ahmad adalah seorang syaikh yang wajahnya berwibawa, di raut wajahnya terpancar keshalihan dan ketakwaan. Seorang tukang roti melihatnya dalam keadaan seperti itu, lantas menawarinya untuk menginap. Sehingga, pergilah Imam Ahmad bersama tukang roti itu dan beliau diterima dengan penuh penghormatan. Tiba di rumahnya, setelah mempersilahkan tamunya untuk beristirahat, tukang roti itu mulai membuat adoran untuk membuat roti.

Imam Ahmad mendengar tukang roti itu beristighfar dan terus beristighfar. Waktu berlalu, sedangkan tukang roti terus dalam keadaan seperti itu. Imam Ahmad bin Hanbal merasa takjub.  

Pagi harinya, Imam Ahmad bertanya kepada tukang roti itu tentang istighfar yang diucapkannya di malam hari. Tukang roti itu menjawab bahwa itu sudah dilakukannya sejak lama. Setiap kali membuat adonan, ia selalu beristighfar.  

Maka, Imam Ahmad bertanya kepadanya, "Apakah engkau mendapat manfaat dari istighfar yang kau ucapkan?"  Imam Ahmad bertanya demikian kepada tukang roti, meskipun beliau mengetahui manfaat dan keutamaan istighfar. Tukang roti itu menjawab, "Ya. Demi Allah, setiap kali aku memanjatkan doa kepada Allah, Allah selalu mengabulkan doaku. Kecuali satu saja."  

Imam Ahmad bertanya, "Apa itu?"  Tukang roti itu menjawab, "Melihat Imam Ahmad bin Hanbal,"  Maka,  Imam Ahmad bin Hanbal berkata,  "Aku adalah Ahmad bin Hanbal.  Demi Allah, aku benar-benar didatangkan oleh Allah kepadamu!"


Sumber : Kitab At Tadawi bil Istighfar, terbitan Darul Hadhoroh lin Nasyr wat Tauzi' 1427 H

Monday, 22 August 2016

Sebuah Kisah Pembangun Jiwa : Istighfar dan Gempa

Ya Rabbi, meski dosa-dosaku sangat banyak
Namun aku tahu bahwa ampunanMu jauh lebih besar
Jika hanya orang baik yang boleh berharap kepadaMu
Maka, kepada siapakah orang berdosa berlindung dan memohon keselamatan?
Tak ada perantara kepadaMu selain keridhoan
Juga kepemaafanMu dan bahwa aku seorang Muslim

"Perbanyaklah istighfar di rumah-rumah, perjamuan-perjamuan, jalan-jalan, pasar-pasar, dan forum-forum kalian, karena kalian tidak tahu kapan turunnya ampunan" (Hasan Al Bashri)

Simaklah, kisah yang disampaikan oleh Prof Dr Mubasyir Karal, anggota Dewan Penasihat Rumah Sakit Haros Wathoni.

Beberapa waktu silam, terjadi peristiwa gempa Pakistan yang sangat terkenal itu, di mana korbannya mencapai ribuan orang, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berkehendak menyelamatkan seseorang dari kematian yang sudah di depan mata.  

Ketika gempa terjadi, orang itu berada di dalam rumahnya, sedang menyantap makanannya. Kemudian ia pergi tidur untuk beristirahat sejenak. Ketika sedang berbaring di atas kasur, terjadilah gempa yang dahsyat.  Kamar berguncang dengan keras, bahkan seluruh penjuru rumah berguncang. Atap mulai retak dan ia menyaksikan peristiwa itu. Saking kagetnya dengan kejadian ini, ia tidak mampu bergerak dari tempat tidurnya. Tiang-tiang kamar pun mulai runtuh di depan mata kepalanya. Tidak ada yang dilakukannya selain beristighfar. Ia mengucapkan, "Astaghfirullah,  astaghfirullah!", terus-menerus.  Akhirnya atap rumahnya runtuh. Semua ini terjadi dalam waktu yang sangat singkat, hanya dalam hitungan yang tidak lebih dari beberapa menit.  

Ternyata Allah menghendaki keselamatan orang ini. Ia mengisahkan kejadian itu sendiri, katanya. "Benar saja, akhirnya atap rumah yang terbuat dari lapisan beton yang kuat itu runtuh. Tetapi alhamdulillah, bagian-bagian arap itu jatuh berpencar di seluruh sisi ruangan kecuali tempat di mana saya berada. Saya pun bangun dan segera keluar rumah. Lantas mengucapkan puji syukur kepada Allah 

Saya katakan, "Benarlah Rasulullah ketika bersabda, 'Barangsiapa yang selalu beristighfar niscaya Allah akan menjadikan untuknya kelapangan dari setiap kecemasan, jalan keluar dari setiap kesempitan,  dan rezeki dari arah yang tidak dia sangka-sangka"


Disarikan dari kitab Dahsyatnya Istighfar; dengan judul asli At Tadawi bil Istighfar karya Hasan bin Hasan Hamam, diterbitkan Darul Hadhoroh Lin Nasyr wat Tauzi' 1427 H

Dikembangkan oleh Syafiq Elquds

Kisah Suara dari Awan yang Mengejutkan

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Suatu ketika ada seorang lelaki berada di padang pasir, tiba-tiba ia mendengar suara dari awan : ‘Siramilah kebun si Fulan!’ Kemudian awan itu menjauh, lalu ia menurunkan airnya (hujan) di daerah yang dipenuhi batu hitam. Tiba-tiba cekungan dari cekungan-cekungan yang ada di sana semua penuh dengan air yang mengalir (dari hujan tersebut), sehingga laki-laki itu mengikuti aliran air, sampai tiba-tiba ada seorang lelaki berdiri di kebunnya, sedang mengarahkan aliran air dengan sekop di tangannya.

Lelaki (yang tadi mendengar suara dari awan) berkata kepada lelaki pemilik kebun, “Wahai Abdullah (Hamba Allah), siapakah namamu?”

Lelaki pemilik kebun menjawab, “Namaku Fulan” -sesuai dengan nama yang terdengar dari awan-

Maka pemilik kebun bertanya kepadanya, “Mengapa engkau menanyakan namaku?”   

Lelaki itu berkata, “Sesungguhnya aku mendengar suara dari awan, yang ini adalah airnya (sambil menunjuk air yang mengalir) suara itu berkata, ‘Siramilah kebun si Fulan”, sebenarnya apa yang telah kau perbuat?” 

Pemilik kebun itu menjawab, “Adapun jika engkau berkata demikian, maka sesungguhnya aku senantiasa menanti hasil yang keluar dari kebun ini, lalu aku bersedekah dengan sepertiganya, aku makan bersama keluargaku sepertiga lagi dan aku kembalikan sepertiga sisanya (untuk ditanam kembali)”

Dan dalam riwayat lain : “Aku peruntukkan untuk orang-orang miskin, orang yang meminta dan orang yang dalam perjalanan.”   

Petikan Hikmah 

1. Allah menundukkan malaikat dan hujan untuk hamba-hambaNya yang menyedekahkan hartanya yakni orang-orang yang memenuhi hak-hak orang fakir.

2. Sedekah kepada orang-orang fakir mendatangkan pertambahan rejeki, Allah ta’ala berfirman, “Jika kalian bersyukur sungguh Aku akan tambah untuk kalian“ dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu, jagalah Allah, engkau akan dapati Allah berada di hadapanmu (menyelesaikan segala urusanmu), ingatlah Allah saat lapang, niscaya Dia akan mengingatmu di saat sulit”

3. Seorang mukmin yang berakal senantiasa menjaga hak orang-orang fakir, hak keluarganya dan hak kebun yang ia miliki. 

Disarikan dari kitab Min Bada'i al Qasas An Nabawiy, karya Muhammad bin Jamil Zainu
Penerjemah : Syafiqul Lathif 

Wednesday, 17 August 2016

Kisah Seorang yang Menuju Bumi Pertaubatan


Dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam, bahwasanya beliau bersabda, “Dahulu ada orang sebelum kalian yang telah membunuh sembilan puluh sembilan orang, ia bertanya tentang siapa yang paling alim (memahami persoalan agama) di dunia ini. Maka ada yang menunjukkan kepada seorang rahib, datanglah ia kepadanya.”

Pembunuh itu berkata dengan menyesal, “Sesungguhnya aku telah membunuh sembilan puluh sembilan jiwa, bisakah aku bertaubat?”

Rahib itu berkata (dengan bodohnya), “Tidak”

Laki-laki itu lantas membunuh rahib tersebut, genaplah seratus.

Kemudian ia bertanya lagi tentang siapa yang paling pandai di muka bumi, maka mereka menunjukkan kepada seorang lelaki alim.

Pembunuh itu berkata, “Sesungguhnya aku telah membunuh seratus jiwa, apakah aku berhak bertaubat?”

Orang alim itu berkata (dengan yakin), “Iya, siapakah yang bisa menghalangi antara engkau dan taubat?! Bergegaslah kau pergi ke daerah seperti ini dan ini, sesungguhnya orang-orang di sana beribadah kepada Allah ta’ala maka beribadahlah bersama mereka, jangan kembali ke negerimu karena itu adalah negeri yang buruk”

Segeralah lelaki itu pergi, sampai ketika ia telah setengah jalan, maut menjemputnya. Maka malaikat rahmat dan malaikat azab berselisih mengenai lelaki itu.

Malaikat rahmat, “Ia datang bertaubat sepenuh hati kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala

Malaikat azab menukas, “Sesungguhnya ia belum mengerjakan satupun kebaikan.”

Tak berselang lama, datanglah malaikat lain dalam bentuk manusia, lalu mereka menginginkannya memutuskan perkara ini.

Malaikat itu berkata bijak, “Ukurlah antara dua bumi ini (jarak antara saat dia mati dihitung dari tempat ia memulai niat dan jarak ke tempat tujuan)! Maka, yang berhak mengambilnya (lelaki itu) adalah yang ukuran jaraknya yang paling pendek.”

Malaikat mengukur antara dua jarak itu, maka ia mendapati bahwa lelaki yang bertaubat ini lebih dekat sejengkal ke negeri orang-orang shalih (yang ingin ia tuju) maka malaikat rahmat pun mengambilnya.

Pelajaran Berharga :

Allah ta’ala berfirman, “Katakanlah wahai hamba-hambaKu yang melampaui batas atas dirinya sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”

1. Seorang yang berdosa hendaknya tidak berputus asa dari rahmat Allah, sekalipun ia memenuhi bumi dengan dosa, namun wajib baginya untuk bertaubat kepada Tuhannya sesegera mungkin, Allah ta’ala berfirman, “Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hambaNya, memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kalian lakukan”

2. Bagi orang yang tidak mengetahui, harus bertanya kepada seorang yang alim, yang mengerti kitab dan sunnah sehingga ia sanggup menyelesaikan masalah-masalahnya

3. Tidak boleh bagi seorang hamba untuk memberi fatwa kepada manusia ketika ia tak tahu, sekalipun ia berpenampilan ulama. Karena bahaya yang ditimbulkan lebih besar daripada manfaatnya. Terkadang akan kembali dengan kerusakan yang menimpanya sebagaimana yang terjadi di pada  kisah ini, sekalipun dia adalah seorang rahib yang mengetahui bahwa ada sesuatu yang menutup pintu taubat orang yang mengharapkannya, ia seakan menawarkan dirinya supaya dibunuh.
  
4. Seorang yang alim : adalah orang yang membuka pintu taubat bagi manusia, menutup pintu putus asa dan menggantinya dengan rahmat. Maka dia seakan seorang dokter yang mengambil tangan si sakit dengan obat (kesembuhan), serta membukakan baginya pintu harapan.

5. Wajib bagi orang yang berdosa jika ingin bertaubat supaya ia meninggalkan teman-teman yang pernah bersama-sama berbuat dosa dengannya, dan hendaknya ia meninggalkan tempat-tempat yang ia gunakan maksiat waktu itu.

6. Wajib bagi seorang yang bertaubat untuk membersamai orang-orang yang shalih supaya ia terbiasa melakukan berbagai ketaatan dan meninggalkan beragam keburukan. Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seseorang itu berada di atas agama kekasihnya (teman dekatnya)  maka hendaklah salah seorang kalian melihat dengan siapa ia berteman”

7. Disyariatkan meminta keputusan kepada seorang yang paham kitab dan sunnah saat terjadi perseteruan.

8. Jangan kau rendahkan seorang yang berdosa apapun keadaannya, karena engkau tak mengetahui bagaimana akhirnya. Maka di dalam hadts disebutkan “Sesungguhnya ada seorang lelaki yang benar-benar beramal dengan perbuatan surga di hadapan manusia sedangkan dia adalah penghuni neraka. Dan sungguh ada seseorang yang beramal dengan perbuatan neraka di hadapan manusia sedang ia termasuk penghuni surga” Al Bukhari menambahkan, “Sesungguhnya amal itu tergantung pada akhirnya”

Disarikan dari kitab Min Bada'i al Qasas An Nabawiy, karya Muhammad bin Jamil Zainu
Penerjemah : Syafiqul Lathif 

Tuesday, 16 August 2016

Kisah Sebuah Amanah dalam Sepotong Kayu yang Menakjubkan

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam, beliau menuturkan kisah seorang lelaki dari Bani Israil yang meminta pinjaman (hutang) kepada seorang Bani Israil yang lain, seribu dinar. 

Lelaki (pemberi hutang) itu berkata, “Datangkanlah kepadaku para saksi yang bisa aku mintai kesaksiannya”

Lelaki yang meminta hutang itu menjawab, “Cukuplah Allah sebagai saksiku” 

Lelaki pemberi hutang itu berkata lagi, “Maka hadirkanlah padaku seorang kafil (yang menanggung atau penjamin hutang ini) 

Lelaki yang berutang itu mengatakan, “Cukuplah Allah sebagai kafil

Lelaki pemberi hutang itu menjawab, “Engkau benar”

Dia memberikan seribu dinar kepada lelaki tersebut dengan batas tempo yang ditentukan, maka lelaki tersebut membawa seribu dinar itu menyeberangi lautan, sampai ketika kebutuhannya sudah terpenuhi, ia mencari kapal sehingga ia bisa menaikinya, membayar hutangnya, karena saat itu telah jatuh tempo. Namun ia tidak menemukan kapal ke sana, lalu ia mengambil sebuah kayu kemudian ia lubangi, lantas ia masukkan ke dalamnya seribu dinar dan secarik surat untuk pemilik uang tersebut, menutup lubangnya dan membawanya ke tepi laut.

Dia berdoa dengan penuh harap, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwasanya dulu aku berhutang seribu dinar kepada si Fulan. Ia memintaku untuk menghadirkan seorang kafil lalu kukatakan ‘Cukuplah Allah sebagai kafil, maka ia ridho denganMu. Ia meminta saksi, lalu kukatakan ‘Cukuplah Allah sebagai saksi’, dan ia ridho denganMu. Aku telah mengerahkan segala kemampuanku untuk mendapatkan kapal, mengantarkan kepadanya sesuatu yang menjadi haknya, namun aku tidak kuasa (mendapatkan kapal itu). Maka aku titipkan ini padaMu ya Allah”

Ia lantas melempar kayu itu ke laut sampai terbawa arus, kemudian ia pergi. Dan dalam waktu itu dia (penghutang tersebut) mencari-cari lalu menemukan kapal yang berlayar ke negerinya, harapannya menunggu. Semoga ada kapal yang datang dengan uang seribu dinarnya. Namun, tiba-tiba ada sepotong kayu yang di dalamnya terdapat uang (ia belum mengetahui). Lalu ia membawa itu kepada keluarganya untuk digunakan sebagai kayu bakar. Ketika ia membelahnya, ia menemukan uang dan secarik surat!! 

Tidak berselang lama setelah itu, lelaki yang berhutang tadi segera mendatangi pemberi hutang di seberang sana, dan ia datang dengan seribu dinar lagi. 

Lelaki yang berhutang berkata, “Demi Allah, aku masih terus berusaha mencari kapal supaya aku bisa datang kepadamu dengan membawa uang, namun tidak kudapati satu kapalpun sebelum kapal yang membawaku ke sini (kapal ini) 

Lelaki pemberi hutang berkata, “Apakah sebelum ini kau mengirimkan sesuatu?”

Lelaki yang berhutang menjawab, “Bukankah telah kukabarkan padamu bahwa aku tidak menjumpai satu kapalpun sebelum kapal ini?”

Lelaki pemberi hutang itu berkata, “Maka sungguh Allah telah melunasi hutangmu yang telah kau antarkan melalui kayu itu”

Kemudian ia pergi dengan seribu dinar itu, dengan semakin memahami (rahasiaNya).

Petikan Hikmah :

1. Disyariatkan hutang yang baik, dan bagi orang yang memberikan pinjaman mendapatkan pahala yang baik. 

2. Disyariatkannya penulisan hutang, waktu pelunasan, dan persaksian atas hutang tersebut demi menjaga hak-hak (masing-masing pihak)

3. Bagi orang yang memberikan pinjaman hendaknya mengambil jaminan atau kafil (seorang yang menjamin) dari orang yang meminjam, untuk menjaga dari kehilangan haknya.

4. Bagi pemberi hutang hendaknya ridho terhadap orang yang meminjam ketika ia menjadikan Allah sebagai saksi dan sebagai penjaminnya, jika ia tidak menemukan saksi atau penjamin.

5. Wajib bagi seorang muslim untuk melakukan sebab (usaha) dan bertawakkal pada Allah, sesuai dengan sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam, “Ikatlah ia dan bertawakkallah”

Maka orang yang meminjam tersebut melubangi kayu, menaruh uang di dalamnya, menutupnya, kemudian berdoa pada Allah, sebagai bentuk tawakkal pada Allah.
  
6. Barangsiapa yang ridho bahwa Allah sebagai saksi atau kafil maka Allah akan mencukupinya dan Dia akan menjaga haknya, ketika orang yang berhutang tersebut ridho terhadap Allah sebagai saksi dan kafilnya, maka Dia mengembalikan uang tersebut kepadanya.

7. Wajib atas seorang muslim yang berakal untuk tidak mencukupkan dengan asbab ghaibiyah (sebab-sebab tak terlihat) saja, namun ia juga perlu mengambil asbab hissiyah (sebab-sebab inderawi, mampu digapai oleh panca indera). Lihatlah! peminjam hutang tersebut tidak mencukupkan dengan apa yang dikirimkannya kepada si pemberi pinjaman dalam kayu itu, tetapi ia tetap datang dengan dinarnya lagi ketika ia menjumpai kapal yang sanggup mengantarkannya menemui pemberi hutang, namun akhirnya, orang yang memberikan pinjaman tersebut memberitahukannya bahwa Allah telah melunasi hutangnya dengan uang yang dikirimnya lewat kayu itu.

8. Wajib bagi seorang peminjam untuk mengerahkan segala kemampuan dan menempuh berbagai jalan untuk melunasi hutang pada waktu yang telah disepakati.

9. Jika seorang muslim membaguskan niatnya, Allah akan memudahkannya melunasi hutang itu. 

10. Penunaikan hak-hak serta pelunasan hutang itu wajib, tidak boleh diulur-ulur, jika ia tak melunasi di dunia, maka tetap akan ia bayar di akhirat yang diambil dari amal-amal baiknya, barangkali hal itu nantinya menjadi sebab ia memasuki neraka.

Disarikan dari kisah ke-7 dari kitab Min Bada'i al Qasas An Nabawiy, karya Muhammad bin Jamil Zainu
Penerjemah : Syafiqul Lathif 

Monday, 15 August 2016

Kisah Sebuah Periuk Emas yang Menggemparkan

Dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam : “Ada seorang lelaki membeli sepetak tanah dari seseorang, dan lelaki itu (yang membeli tanah tersebut) menemukan sebuah periuk dengan emas di dalamnya.” 

Pembeli itu berkata pada si pemilik tanah pertama, “Ambillah emasmu ini, karena aku hanya membeli darimu sepetak tanah ini saja, dan tidak membeli emas!!”

Pemilik tanah (menolak), “Sungguh aku menjual tanah itu dengan segala yang ada di dalamnya” Lalu mereka menghadap seorang hakim untuk menyelesaikan perkara ini.

Hakim itu berkata, “Apakah masing-masing kalian berdua memiliki anak?”

Lelaki yang pertama menjawab, “Aku memiliki seorang anak laki-laki yang beranjak dewasa”

Lelaki yang kedua menjawab, “Aku memiliki seorang jariyah (budak wanita)” 

Hakim itu memutuskan, “Nikahkanlah pemuda itu dengan jariyah itu, berinfaklah kalian dari harta tersebut dan bersedekahlah!”
     

Petikan Hikmah :

1. Melaksanakan amanah yang telah diberikan, karena Allah ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menunaikan amanah kepada yang berhak” 

2. Sikap qona’ah adalah harta simpanan yang tak pernah sirna, ia kembali dengan membawa kebaikan dan berkah kepada empunya.

3. Disyariatkan meminta penyelesaian masalah kepada seorang yang memahami Al Quran dan sunnah, bukan pergi kepada hakim kekinian yang hanya membuang-buang uang dan waktu. Sebagaimana firman Allah ta’ala, “Maka jika kalian berselisih dalam suatu urusan, kembalilah kepada Allah dan Rasul”      

4. Barangsiapa yang ridho terhadap segala yang Allah berikan padanya, ia termasuk seorang manusia yang paling kaya, karena Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Dan ridho lah dengan segala yang telah Allah bagikan untukmu, niscaya engkau menjadi manusia yang paling kaya.”

Juga sabdanya, “Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta, sesungguhnya kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan jiwa.”

5. Harta itu telah dibagiNya, dan niscaya akan sampai kepadamu sesuai kadar dan pada waktu yang tepat. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Sekalipun manusia itu lari dari jatah rejekinya seperti ia lari dari kematian, sungguh rejeki itu akan mengetahui keberadaaannya sebagaimana kematian pun mengetahuinya.”
     
6. Wajib bagi seorang muslim mencukupkan diri dengan segala yang halal, meninggalkan segala yang haram serta sifat tamak terhadap segala yang bukan miliknya, dan melakukan sebab-sebab (usaha-usaha) sesuai syariat untuk mencari rejeki. Sesungguhnya amal shalih itu mendatangkan kebahagiaan di dunia dan akhirat, Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Bertaqwalah pada Allah dan perbaguslah usahamu” 

7. Seorang hakim yang adil adalah yang menjadikan orang-orang merasa ridho terhadap apa yang ia putuskan.

8. Tidak pantas bersikap tamak terhadap yang tidak dimiliki. 

Disarikan dari kisah ke-6 dari kitab Min Bada'i al Qasas An Nabawiy, karya Muhammad bin Jamil Zainu
Penerjemah : Syafiqul Lathif 

Wednesday, 10 August 2016

Kisah Rasa Lapar Para Sahabat dan Rasul

Suatu saat Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam keluar di waktu yang tidak biasa, tidak ada seorang pun yang bertemu dengannya, sampai ia bertemu dengan Abu Bakar.

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam : “Apa yang terjadi denganmu wahai Abu Bakar?”

Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu : “Aku keluar untuk bertemu Rasulullah, aku melihat sesuatu di wajahnya, lalu aku mengucapkan salam padanya” (Tidak lama kemudian Umar datang)

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam : “Apa yang terjadi padamu Umar?”

Umar Radhiyallahu ‘Anhu : “Aku lapar, Rasulullah”

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa sallam : “Aku juga mendapati sedikit hal itu (sedikit lapar)”

Kemudian mereka bertolak ke rumah Abu Haitsam bin At Tiihan Al Anshariy, ia adalah seorang yang memiliki banyak pohon kurma dan kambing, sedangkan ia tak memiliki pembantu seorangpun. Saat itu, mereka (Rasulullah, Abu Bakar dan Umar) tak menjumpainya.

Mereka bertanya kepada istrinya : “Di mana suamimu?”

Istri : “Ia pergi mengambilkan air untuk kami”

Tidak berselang lama, Abu Haitsam datang membawa seember air jernih dan meletakkannya, kemudian ia datang mendekat lalu membersamai Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam, mengagungkan beliau dengan mengatakan bahwa ayah dan ibunya (Abu Al Haitsam) menjadi tebusan (sebagai wujud kekuatan imannya pada Rasul), lalu pergi bersama mereka ke kebun kurma, menyajikan setangkai balah (kurma basah) dan meletakkannya.

Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam (berkata) : “Tidakkah kau memilihkan ruthab (kurma merah, sebelum menjadi balah) saja untuk kami?”

Abu Al Haitsam (menjawab) : “Wahai Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam, sungguh aku ingin memilihkanmu sebagian ruthab yang berasa manis dan muda”
Kemudian Rasulullah dan kedua sahabatnya memakan itu serta minum di sana pula.

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam : “Demi jiwaku yang berada di tanganNya, ini adalah bagian dari kenikmatan yang kelak akan kalian minta pada hari kiamat, yakni naungan yang sejuk, ruthab yang baik, serta minuman yang dingin.”

Lalu Abu Al Haitsam pergi, membuatkan makanan untuk mereka.

Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam : “Tidak perlu kau ambilkan susu untuk kami!”
Abu Al Haitsam menyembelih ‘inaq (anak domba betina usia setahun) atau jadyan (anak domba jantan) dan menyajikan kepada mereka, lalu mereka makan.

Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam : “Apakah engkau memiliki pembantu?” 

Abu Al Haitsam : “Tidak”

Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam : “Jika ada tawanan yang datang, perlihatkanlah pada kami!”

Tidak berselang lama, ia mendatangkan dua pembantu kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam, lalu Nabi menghampirinya.

Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam : “Pilihlah di antara keduanya!”

Abu Al Haitsam : “Wahai Rasulullah, pilihkanlah untukku”

Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam : “Sesungguhnya aku adalah penasihat yang dipercaya, ambillah yang ini, sungguh aku telah melihat dia shalat dan aku menginginkan kebaikan baginya dan perbuatannya” 

Abu Al Haitsam pergi, lalu mengabari istrinya tentang perkataan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam.

Istri : “Tidaklah engkau menyampaikan kebenaran apa-apa yang dikatakan Rasulullah, kecuali engkau harus membebaskannya (dari status budak)”

Abu Al Haitsam : “Dia sudah bebas!”

Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam : “Sesungguhnya Allah tidak mengutus seorang Nabi dan khalifah melainkan ia memiliki dua jenis keluarga. Pertama, yang memerintahkan berbuat kebajikan dan mencegah dari yang mungkar. Kedua, keluarga yang tak henti-hentinya mengantarkan pada kerusakan. Barangsiapa yang menjauhkan diri dari keluarga yang buruk, maka sungguh ia telah selamat”

Petikan Hikmah Kisah :

1. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan para sahabatnya saling tolong menolong saat lapar, berusaha mengatasinya dengan cara yang disyariatkan.

2. Bolehnya seseorang pergi ke rumah sahabatnya untuk mencari makanan tanpa undangan jika ia diketahui memiliki keadaan yang lapang dan perangai diri yang baik.      

3. Perhatian tentang keutamaan suatu nikmat bagaimanapun keadaannya, motivasi bersyukur kepada penciptanya (nikmat tersebut), serta tidak tersibukkan dengan nikmat itu dari Sang Pemberi nikmat (Allah), Allah ta’ala berfirman, “Sungguh jika kalian bersyukur maka Aku akan tambah (nikmat) kalian”

4. Jika seorang tamu melihat penghormatan yang lebih dari tuan rumah, dan ia takut terjatuh dalam kesalahan. Hendaknya ia menasihatnya dengan lemah lembut, sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam, “Jangan kau sembelihkan untuk kami (hewan) yang memiliki susu (kambing)!” 

5. Kesetaraan mengimbangi perbuatan baik adalah sesuatu yang diperkenankan, seperti Rasulullah yang mulia mengimbangi tuan rumah dan menyediakan pembantu buatnya.

6. Abu Haitsam sebenarnya tidak membutuhkan perantara untuk meminta pembantu, maka ketika Rasulullah bertemu dengannya dan mendatangkan dua pembantu, segera beliau mengatakan, “Pilihlah di antara keduanya!” 

Seorang penyair berkata :
Andai engkau meminta suatu kebutuhan pada seorang yang mulia 
Cukuplah bagimu bertemu dan menyampaikan salam padanya 

7. Seorang yang cerdas meminta suatu nasihat pada orang yang sempurna pemahamannya, “Wahai Rasulullah, pilihkanlah untukku!”

8. Shalat adalah ciri ketakwaan, “Ambillah yang ini! Sesungguhnya aku melihatnya menunaikan shalat”

9. Wasiat Rasul Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam untuk memilih pembantu, khususnya (untuk memilih) orang-orang yang rajin menunaikan shalat, “Mintalah kepadanya suatu wasiat yang baik!”

10. Rasa cinta para sahabat untuk memerdekakan budak, dan persetujuan sang istri shalihah atas pemerdekaan tersebut.

11. Seorang muslim yang cerdas wajib memilih para sahabatnya dari orang-orang shalih untuk senantiasa mengingatkannya dalam kebaikan, menyemangati untuk itu, serta menjauhi teman-teman yang buruk, supaya mereka tidak mengingatkannya kepada keburukan dan menjadikan yang buruk itu seakan-akan suatu yang baik, begitu pula keadaan seorang istri yang shalihah ataupun buruk, masing-masing memiliki pengaruh kepada suaminya.

12. Bolehnya saling berpelukan (sesama muslim) sekalipun tidak datang dari perjalanan jauh.


Disarikan dari kitab Min Bada'i al Qasas An Nabawiy karya Muhammad bin Jamil Az Zainu
Penerjemah : Syafiqul Lathif

Tuesday, 9 August 2016

Kisah Jamuan Makan Jabir Radhiyallahu 'Anhu yang Diberkahi


Dari Jabir Radhiyallahu ‘Anhu berkata, “Kami dulu pernah menggali parit saat perang khandaq, kemudian tampak di sana ada batu cadas besar, sehingga mereka datang kepada Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam, dan berkata, “Batu cadas ini ada di parit” 

Rasul Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam berkata, “Aku saja yang turun” (Rasul Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam berdiri sedang di perutnya diganjal dengan batu)

Jabir berkata, “Dan kami tinggal di sana selama tiga hari tidak merasakan suatu makanan pun (Nabi mengambil godam lalu memukul (batu tersebut) lalu ia hancur berkeping-keping)

Jabir berkata, “Wahai Rasulullah izinkan aku pulang ke rumah”

Jabir (merasa lelah) berkata kepada istrinya, “Aku melihat rasa lapar pada diri nabi, namun beliau bersabar, apakah engkau memiliki sesuatu?”  

Istri Jabir, “Aku memiliki gandum dan ‘inaq (anak domba yang betina)”

Jabir menyembelih anak domba itu sedang istrinya menggiling syair (gandum yang belum halus) lalu ia datang kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam.

Jabir (berkata), “Aku memiliki sedikit makanan, maka datanglah engkau bersama satu atau dua orang saja”

Rasul Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam berkata, “Seberapa?”

Jabir menjawab, “Seekor anak domba dan sedikit gandum”

Rasul Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam membalas, “Semoga menjadi banyak lagi baik, katakan padanya (istrimu) supaya tidak mengangkat periuk serta masakan itu dari perapian sampai aku datang”

Rasul Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam berkata kepada sahabat-sahabatnya, “Berdirilah kalian!” Maka orang-orang Muhajirin dan Anshar berdiri.

Jabir berkata kepada istrinya (diliputi rasa bingung) , “Celaka! Rasul Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah datang bersama orang-orang Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang bersama mereka”

Istrinya (terkejut) berkata, “Apakah dia telah bertanya padamu?”

Jabir : “Iya”

Rasul Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam : “Masuklah kalian dan janganlah berdesak-desakan”
Rasulullah memotong al khubr (menjadi beberapa bagian) tersebut lalu meletakkan daging di atasnya dan menutup periuk serta perapian jika ia mengambil darinya, dan mendekatkan kepada para sahabatnya, kemudian menurunkan, maka ia terus menerus memotong dan mencincang, hingga mereka semua kenyang dan masih tersisa dari makanan tersebut.

Rasul Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam berkata pada istri Jabir, “Makanlah ini dan hadiahkanlah kepada orang-orang, sesungguhnya kelaparan sedang menimpa mereka” 

Pelajaran yang dapat diambil dari Kisah : 

1. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam ikut serta dalam perang sebagai seorang pemimpin saat menggali parit, dan tidak ada perbedaan di antara mereka.

2. Keluhan sahabat-sahabat -yang telah diketahui betapa kuat mereka- kepada Rasulullah tentang batu besar yang sulit mereka pecahkan, sehingga Rasulullah heran pada mereka, namun akhirnya pecah juga batu tersebut sekalipun saat itu pun Rasulullah sangat lapar.

3. Kecintaan para sahabat terhadap pemimpin mereka, dan usaha mereka untuk mempersembahkan makanan guna menutupi rasa lapar itu.

4. Para sahabat senantiasa menjaga aturan yang ada, mereka tidak pergi tanpa izin dari sang pemimpin.

5. Istri-istri sahabat pun disifati dengan itsar (mengutamakan orang lain di atas dirinya sendiri), dermawan, serta cinta kepada Rasul Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam.

6. Seorang pemimpin yang jernih hatinya tidak rela kenyang seorang diri, tetapi ia mengundang para sahabat bersamanya.

7. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam memerintahkan para sahabat untuk tertib (masuklah dan jangan saling berdesakan)

8. Pemuliaan Allah terhadap RasulNya Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam dengan mukjizat, dengan menjadikan makanan itu bertambah banyak hingga mereka semua merasa kenyang. Saat itu, beliau menutup periuk dan perapian sehingga nampak barakah tersebut bukanlah sebuah bentuk penciptaan atau pewujudan, karena kedua hal itu berasal dari Allah semata yang merupakan sebuah penjagaan terhadap aqidah tauhid.

9. Panglima yang agung di mata pasukannya adalah seorang yang laksana ayah di dalam sebuah keluarganya, menyiapkan makanan dengan tangannya sendiri serta mempersilahkan mereka makan pun dengan dirinya sendiri.

10. Perhatian Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam terhadap umatnya yang lain seperti perhatiannya terhadap pasukan (Makanlah ini dan berikanlah pada yang lain, sesungguhnya kelaparan sedang menimpa mereka)


Disarikan dari kitab Min Bada'i al Qasas An Nabawiy karya Muhammad bin Jamil Az Zainu
Penerjemah : Syafiqul Lathif