Sunday, 7 August 2016

Kisah Si Kusta, Si Botak dan Si Buta


Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasanya ia mendengar Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya ada tiga orang dari kaum Bani Israil (Si Kusta, Si Botak, dan Si Buta), Allah ingin menguji mereka, lalu Allah mengutus seorang malaikat kepada mereka”

Malaikat itu mendatangi lelaki yang berpenyakit kusta

Malaikat : “Sesuatu seperti apa yang paling engkau sukai?”

Si Kusta : “Warna (kulit) yang bagus, kulit yang baik, dan juga dihilangkan segala hal yang membuatku dicela orang-orang.”

Lalu Malaikat itu mengusapnya, maka hilanglah cela di tubuhnya, dan ia kini memiliki warna dan kulit yang bagus.

Malaikat : “Harta apa yang kamu suka?”

Si Kusta : “Onta”

Maka malaikat itu memberinya onta yang sedang bunting

Malaikat : “Semoga Allah memberkahi segala yang ada padamu ini”

Lalu malaikat itu mendatangi lelaki yang botak.

Malaikat : “Sesuatu seperti apa yang paling engkau sukai?”

Si Botak : “Rambut yang bagus serta dihilangkan segala hal yang telah membuatku dicela orang-orang.”

Malaikat mengusapnya, hilanglah penyakitnya serta ia diberi rambut yang indah.

Malaikat : “Harta apa yang kamu suka?”

Si Botak : “Sapi”

Sehingga malaikat memberinya sapi yang bunting

Malaikat : “Semoga Allah memberkahi segala yang ada padamu ini”

Kemudian malaikat itu mendatangi lelaki buta.

Malaikat : “Sesuatu seperti apa yang paling engkau sukai?”

Si Buta : “Aku ingin supaya Allah mengembalikan penglihatanku, sehingga aku mampu melihat orang-orang dengannya.”

Malaikat mengusapnya, maka Allah mengembalikan penglihatan kepadanya.

Malaikat : “Harta apa yang kamu suka?”

Si Buta : “Kambing”

Lalu Malaikat itu memberinya domba yang sudah bunting.

Hingga di sana terdapat suatu lembah yang berisi banyak onta (milik orang yang awalnya kusta), di ujung sana ada lembah yang ramai sapi di dalamnya (milik si botak), dan di sini ada lembah dengan banyak domba (milik si buta)

Suatu saat malaikat itu mendatangi si kusta dengan wujud lelaki yang berpenyakit kusta pula.

Malaikat : “Saya adalah seorang lelaki yang nelangsa, sesuatu yang buruk telah menimpa saya dalam perjalanan, hingga sudah tidak ada lagi pertolongan pada hari ini kecuali dari Allah kemudian dari engkau. Kepada engkau yang telah diberi warna yang baik serta kulit yang rupawan, saya meminta seekor ontamu supaya saya bisa kembali kepada keluargaku.”

Si Kusta (dengan berat hati) berkata : “Hak-hak (yang perlu kutunaikan) banyak sekali.”

Malaikat (heran dan merasa aneh) berucap : “Sepertinya aku tahu siapa engkau, bukankah engkau dulu seorang yang berpenyakit kusta, dicela orang-orang, fakir, lalu Allah memberi rizki kepadamu?”

Si Kusta (mengingkari) : “Sesungguhnya aku mewarisi semua harta ini dari nenek moyangku (dari ayah dari kakekku)”
Malaikat : “Jika engkau berdusta, semoga Allah mengembalikanmu seperti keadaanmu yang dahulu.”

Kemudian Malaikat itu mendatangi si Botak dengan wujud lelaki yang botak.

Malaikat : “Saya adalah seorang lelaki miskin, sesuatu yang buruk telah menimpa saya dalam perjalanan, hingga sudah tidak ada lagi pertolongan pada hari ini kecuali dari Allah kemudian dari engkau. Kepada engkau yang telah diberi rambut yang baik, penampilan yang rupawan serta harta ini, saya meminta seekor sapimu, supaya saya bisa melanjutkan perjalanan ini dengannya.”

Si botak (menghardik) : “Hak-hak (yang perlu kutunaikan) banyak sekali.”
Malaikat (heran sekaligus terkejut) : “Sepertinya aku tahu siapa engkau, bukankah engkau dulu seorang yang botak, lalu dicela orang-orang?”     

Si Botak (menyombongkan diri) : “Sesungguhnya aku mewarisi semua harta ini dari nenek moyangku (dari ayah dari kakekku).”

Malaikat : “Jika engkau berdusta, semoga Allah mengembalikanmu seperti keadaanmu yang dahulu.”

Kemudian Malaikat itu mendatangi si buta dengan wujud lelaki yang buta.

Malaikat : “Saya adalah seorang lelaki miskin, sesuatu yang buruk telah menimpa saya dalam perjalanan, hingga sudah tidak ada lagi pertolongan pada hari ini kecuali dari Allah kemudian dari engkau. Kepada engkau yang telah dikembalikan penglihatannya, saya meminta seekor dombamu, supaya saya bisa melanjutkan perjalanan ini dengannya.”

Si Buta (bersyukur dan mengakui butanya yang dahulu) : “Sungguh dahulu aku adalah seorang yang buta lalu Allah mengembalikan penglihatanku, maka ambillah segala sesuatu yang engkau inginkan dan tinggal saja sesuai keinginanmu, maka demi Allah, aku tidak akan menghalangimu dari sesuatu yang akan engkau ambil demi Allah.”

Malaikat : “Peganglah semua hartamu ini, sesungguhnya aku menguji kalian, maka Allah telah meridhoi engkau dan membenci dua orang kawanmu (si Kusta dan si Botak)”

Pelajaran-pelajaran Kisah :

1. Ujian Allah kepada para hambaNya merupakan sunnatullah di muka bumi ini, sebagaimana telah Allah kabarkan di dalam kitabNya.

2. Sebuah ujian bisa berkaitan dengan badan, harta, anak-anak serta yang lainnya.

3. Malaikat mengubah wujudnya di beberapa kesempatan, sebagai manusia, berbicara, mengusap orang yang sakit lalu sembuh dengan izin Allah.

4. Tidak ada sesuatu yang lebih dicintai oleh orang yang sedang diuji dengan sakit kecuali dengan hilangnya penyakitnya serta diberikan kesembuhan. 

5. Allah Maha pemberi, juga yang menahan sesuatu, memberikan kekayaan, pun menjadikan fakir, dengan takdirNya serta hikmahNya.

6. Dari salah satu tanda tauhid dan etika, adalah engkau menasabkan (mengaitkan) kesembuhan dan kekayaan kepada Allah semata “Sungguh dahulu aku buta, lalu Allah mengembalikan penglihatanku”

7. Seorang manusia yang bodoh adalah yang kikir ketika ia kaya, sedang orang yang berakal adalah yang memberi waktu lapang, sebagaimana sabda Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam, “Tidaklah dari suatu pagi hari para hamba, kecuali ada dua malaikat yang turun, maka berkata salah satu dari keduanya, “Ya Allah, berilah orang yang berinfak itu ganti yang baik ” dan yang lain berkata, “Ya Allah berilah orang yang kikir itu kehancuran“

8. Beberapa orang kaya lupa masa lalu mereka yang fakir dan marah jika mereka diingatkan dengannya.

9. Barangsiapa yang mensyukuri nikmat dan memberikan kelebihan hartanya kepada para fakir, semoga Allah memberkahi ia dan barangsiapa yang kikir maka dia telah menjerumuskan dirinya kepada hilangnya nikmat dan kemarahan Allah yang berfirman, “Sungguh jika kalian bersyukur maka akan aku tambah (nikmat) kalian, dan jika kalian kufur (nikmat) maka sesungguhnya azabKu sangatlah pedih”

10. Mengingkari nikmat sama saja mencari celaka, dan itu adalah sebab kesempitan hidup.

11. Kedermawanan membuat kita mendapat nikmat dan mengenyahkan celaka, menjadikan Allah ridho. Sedangkan kekikiran membuat kita memperoleh keburukan dan kemarahan Tuhan.

12. Seorang yang beriman menepati segala yang telah ia janjikan dan tidak kikir, sedang orang munafik berjanji namun tidak menepati janjinya, sebagaimana Allah berfirman tentang orang-orang munafik itu, “Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah, ‘Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karuniaNya kepada kami, niscaya kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang shalih’”. Dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Ada tiga tanda orang munafik, yakni jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia ingkar, dan jika diberi amanah ia berkhianat”
                
Disarikan dari kisah kedua kitab Min Bada'i al Qasas An Nabawiy karya Muhammad bin Jamil Az Zainu
Penerjemah : Syafiqul Lathif

Saturday, 6 August 2016

Kisah Pemuda Beriman dan Seorang Penyihir

Dari Shuhaib Radhiyallahu ‘Anhu, dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam

Dahulu kala sebelum kalian terdapat seorang raja, dan ia memiliki seorang penyihir. Ketika penyihir tersebut menua, ia berkata kepada raja, “Sesungguhnya aku telah tua, maka utuslah seorang pemuda supaya aku mengajarinya sihir ini” Maka diutuslah seorang pemuda kepadanya supaya ia mengajarinya. 

Dan di jalan yang dilalui pemuda itu ia bertemu dengan seorang rahib, sehingga ia duduk dengannya dan mendengarkan perkataan (ilmu)nya, hal itu membuatnya takjub. Maka setiap kali ia akan mendatangi penyihir, ia melewati rahib dan duduk dengannya. Sehingga tatkala ia sampai ke tempat penyihir, ia memukulinya (karena terlambat), lalu ia mengadu kepada rahib, dan rahib tersebut berkata, “Jika kau takut kepada penyihir, katakanlah ‘keluargaku menahanku’ dan jika kau takut kepada keluargamu, katakanlah ‘Penyihir itu menahanku”

Pemuda itu dan Seekor Ular

Suatu saat ketika pemuda itu berjalan, ia melihat seekor hewan besar (ular) yang menghalangi orang-orang. Pemuda itu berkata dalam hatinya, “Hari ini aku akan mengetahui penyihir ataukah rahib yang lebih hebat?” 

Pemuda itu mengambil batu, “Ya Allah jika perkara rahib lebih Engkau cintai dari penyihir maka bunuhlah hewan ini sehingga orang-orang bisa melewati jalan ini” Lalu pemuda itu melempar hewan tersebut dan mati, hingga orang-orang bisa melewati.

Pemuda itu datang kepada rahib dan menceritakan yang terjadi.

Rahib takjub, “Wahai anakku, hari ini kau lebih hebat daripada aku, aku melihat bahwa ilmumu telah mumpuni, nanti engkau akan diuji, ketika diuji janganlah kau menunjukku”
Pemuda itu mampu menyembuhkan orang yang buta (sejak lahir) dan orang berpenyakit kusta, serta mengobati orang-orang dari segala penyakit.

Pemuda dan Seorang Buta

Penasihat raja mendengar berita itu dan ia adalah seorang buta, maka ia mempersiapkan banyak hadiah untuk pemuda tersebut.

Ia berharap, “Semua hadiah ini akan menjadi milikmu jika kau sanggup menyembuhkanku”

Pemuda itu berkata bijak, “Sesungguhnya aku tidak mampu menyembuhkan seorangpun, hanya Allah semata yang sanggup menyembuhkan, jikalau engkau beriman pada Allah, aku akan berdoa pada Allah supaya kau sembuh”. 

Berimanlah penasihat raja dan Allah menyembuhkan butanya.

Penasihat itu datang kepada raja, kemudian ia duduk di tempatnya semula (sebagaimana ia duduk biasanya)

Raja itu takjub, “Siapa yang mengembalikan penglihatanmu?”

Penasihat itu tersenyum gembira, “Tuhanku”

Raja itu menukas, “Apakah kau memiliki tuhan selain aku?”

Penasihat itu tetap tersenyum, “Tuhanku dan tuhanmu adalah Allah”

Maka raja itu menyiksanya dan terus menyiksa hingga ia menunjukkan kepada pemuda tersebut.

Raja menghardik, “Wahai anakku, nampaknya telah hebat ilmu sihirmu sampai bisa menyembuhkan orang buta dan kusta, dan kau melakukan ini dan itu”

Pemuda berkata, “Sesungguhnya aku tidak menyembuhkan seorangpun, hanya Allah semata lah yang sanggup menyembuhkan”

Adzab Orang yang Beriman

Raja menyiksa pemuda itu, dan terus menyiksanya hingga ia menunjuk sang rahib, maka didatangkan rahib itu, lalu dikatakan padanya, “Kembalilah kepada agamamu! (nenek moyang)” ia menolak. Maka raja mengambil gergaji, kemudian diletakkan di tengah kepala rahib, membelahnya hingga menjadi dua bagian, hingga tergeletak di lantai.

Kemudian didatangkan pula penasihat tadi, lantas dikatakan padanya, “Kembalilah kepada agamamu” ia menolak. Maka sama dengan rahib tadi, badannya dibelah menjadi dua bagian, dan terjatuh di lantai. 

Pemuda itu Diadzab

Pemuda itu didatangkan kepada raja, lalu dikatakan kepadanya, “Kembalilah kepada agamamu” maka ia menolak. Kemudian raja menyerahkan ia kepada sekelompok pasukannya.

Raja marah, “Pergilah kalian ke gunung ini dan ini, naiklah dengan membawanya, kemudian jika kalian sudah sampai puncaknya, paksalah ia supaya kembali ke agamanya, jika ia menolak, lemparkan saja!”

Mereka pergi membawa pemuda itu, dan menaiki gunung.

Pemuda itu mendoakan keburukan atas mereka, “Ya Allah, selamatkanlah aku dari mereka dengan kehendakMu” 

Gunung yang mereka naiki bergoncang keras, sehingga mereka terjatuh. Pemuda tadi datang kepada raja dengan berjalan.

Raja (dalam kebingungan dan tidak percaya), “Apa yang telah diperbuat orang-orang yang bersamamu?” 

Pemuda menjawab (dengan keberanian dan keimanan), “Allah telah menyelamatkanku dari mereka” 

Lalu raja menyerahkan ia kepada sekelompak pasukannya yang lain.

Raja berkata, “Pergilah kalian dengannya, bawalah ia dengan perahu ke tengah laut, paksalah ia untuk kembali ke agamanya, jika enggan, buanglah ia ke laut!” Lantas mereka pergi membawa pemuda itu.

Pemuda itu berdoa, “Ya Allah, jagalah aku dari mereka dengan kehendakMu”

Perahu itu terbalik lalu tenggelamlah mereka, lalu pemuda itu datang kepada raja dengan berjalan kaki.

Raja (marah dan merasa terhina) berkata, “Apa yang diperbuat orang-orang yang bersamamu?” 

Pemuda (dengan tenang dan keteguhan hati) menjawab, “Allah telah menjagaku dari mereka”

Pemuda itu Mengorbankan Dirinya

Pemuda berkata kepada raja, “Sesungguhnya engkau takkan mampu membunuhku sampai engkau melakukan apa yang kupinta”

Raja (dalam keadaan lemah dan putus asa) menjawab, “Apa itu?”

Pemuda itu berkata, “Engkau kumpulkan orang-orang di suatu tanah lapang, kemudian engkau saliblah aku di atas sebatang kayu, lalu ambil panah dari kinanah ku, kemudian letakkan panah pada tali busurnya, katakanlah, “Dengan menyebut nama Allah tuhan pemuda ini”. Lalu panahlah aku, jika kau melakukan itu niscaya kau sanggup membunuhku.

Raja kemudian mengumpulkan orang-orang di tanah lapang, menyalib pemuda itu di atas sebatang kayu, lalu mengambil sebuah panah dari kinanah pemuda tersebut, kemudian meletakkan panah di tengah tali busur itu, menariknya seraya berkata, “Dengan menyebut nama Allah, tuhan pemuda ini” lalu melepaskan panahnya, dan mengenai tepat di pelipisnya. Pemuda itu menggerakkan tangannya, meletakkan di pelipis, tepat di tempat panah itu kemudian meninggal.

Orang-orang kemudian berkata lantang, “Kami beriman dengan tuhan pemuda ini, kami beriman dengan tuhan pemuda ini!!”

Seorang pasukan datang menghadap raja

Pasukan itu (menyesal) berkata, “Apakah kau melihat sekarang, yang sering kau takutkan dahulu? Sungguh demi Allah telah terjadi apa yang kau takutkan itu, orang-orang sungguh telah beriman”
Raja (menjaga kedaulatannya) memerintah, “Kalian galilah parit-parit dengan jalan yang sempit di pinggirnya  dan nyalakan api di dalamnya, dan siapa saja yang enggan kembali kepada agamanya lemparkan ke dalamnya!” 

Para pasukan berdiri di tepi-tepi parit, memperlihatkan api itu kepada orang-orang beriman, dan memaksa mereka kembali kepada agama mereka, maka siapa saja yang enggan kembali, mereka jatuhkan ke dalam api.

Di salah satu tepi api yang menyala itu, seorang wanita berdiri bersama bayi susuannya, takut dan ragu-ragu, ingin mundur ke belakang, khawatir terjatuh ke dalam api. 
Hingga bayi susuannya itu berujar, “Wahai ibunda, bersabarlah, sesungguhnya engkau berada di atas kebenaran”

Orang-orang Kafir itu Terbakar

Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang yang beriman baik laki-laki maupun perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab jahannam, dan bagi mereka azab yang membakar”

1. Ibn Jarir berkata setelah menyebutkan kisah Ashabul Ukhdud, “Saya katakan bahwa itu lebih dekat dengan kebenaran bagi yang kami sebut dari Rabi’, alasannya : bahwasanya Allah mengabarkan bahwa bagi mereka azab yang membakar bersamaan dengan azab jahannam, dan jika mereka tidak diazab di dunia, maka itu tidak sesuai dengan firmanNya, “Dan bagi mereka azab yang membakar” Makna yang dipahami dari kabar itu bahwasanya bagi mereka azab jahannam, karena azab jahannam adalah azab yang membakar bersamaan dengan seluruh jenis azab di akhirat.

2. Al Qurthubi dalam tafsir firman Allah ta’ala, “Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan bagi orang-orang beriman laki-laki dan perempuan” yakni mereka (orang kafir) membakar mereka (orang-orang beriman) dengan api, maka bagi mereka azab jahannam sebab kekafiran mereka, dan bagi mereka azab yang membakar di dunia sebab mereka membakar orang-orang beriman dengan api.

Dan dikatakan, “Jahannam dan bagi mereka azab yang membakar” yakni dan bagi mereka di akhirat azab tambahan di atas azab kekafiran mereka terhadap pembakaran mereka terhadap orang-orang beriman.

Pelajaran Kisah : 

1. Setiap bayi terlahir dalam keadaan fitrah. Maka fitrah yang benar adalah yang selalu bersama kebenaran dan kebaikan serta menolak keburukan. Di sini, pemuda itu berjalan di atas kebaikan ketika mendengar kebenaran dari sang rahib dan mencampakkan keburukan yang tervisualisasikan dalam diri penyihir kafir.

2. Tidak masalah berdusta demi keselamatan dari tipu daya orang-orang kafir di saat darurat.

3. Pemuda itu mengetahui fitrahnya bahwasanya kebenaran membersamai rahib, akan tetapi ia ingin menegakkan hujjah (seperti Ibrahim) yang menyampaikan hujjah pada kaumnya.

4. Berdoa kepada Allah supaya Dia menampakkan kebenaran, menjelaskan jalan yang benar, menghapus keraguan dengan keyakinan, dan ini adalah keadaan seorang mukmin yang senantiasa mengadu pada Allah saat ia tertimpa masalah.

5. Menyingkirkan gangguan dari jalan dan menyelesaikan perkara orang-orang dari kesulitan yang menimpa mereka, disyariatkan, diperintahkan serta akan dibalas dengan pahala. Sebagaimana yang dijelaskan oleh kisah-kisah di atas.

6. Orang yang beriman lagi benar adalah dia yang mengatakan bahwa karomah itu dari Allah, bukan dari dirinya sendiri.

7. Pengakuan terhadap suatu kelebihan atau keutamaan sekalipun kepada seorang anak kecil : “Wahai anakku, hari ini, engkau lebih hebat dari pada aku”       

8. Setiap perkara yang mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari yang mungkar, menyuarakan kebenaran, bukanlah sesuatu yang mengherankan jika kelak ia akan diuji, maka wajib baginya untuk bersabar, sehingga baginya pahala yang besar di sisi Allah, Allah berfirman melalui lisan Luqman saat menasihati putranya, “Wahai putraku, dirikanlah salat, perintahkanlah (manusia) berbuat baik, cegahlah mereka dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya itu termasuk perkara yang utama” 

9. Setiap orang yang melakukan kesalahan ketika mengungkapkan sesuatu, ia tidak boleh ditinggalkan begitu saja, tetapi perlu dijelaskan baginya sisi kebenaran yang sesungguhnya, terutama jika terkait dengan akidah tauhid. Maka pemuda itu berkata kepada penasihat (raja), “Sesungguhnya aku tidak mampu menyembuhkan seorangpun, hanya Allah semata lah yang sanggup menyembuhkan”. Hal ini sesuai dengan firman Allah ta’ala, dari Ibrahim alaihis salam, “Dan jika aku sakit, Dia lah yang menyembuhkanku”

10. Sesungguhnya Allah memiliki orang-orang yang teguh imannya, sehingga seberat apapun diazab, mereka tidak akan kembali kepada agama yang dulu mereka anut, tidak melemah di depan orang-orang kejam dengan mengatakan perkataan mengeluh maupun kufur, sekalipun mereka dibakar, digergaji atau ditenggelamkan, bahkan semua itu lebih mulia (dibanding mengatakan kufur). Dan dalam hal ini firman Allah menggambarkan keadaan mereka, “Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama mereka sejumlah besar pengikutnya yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah terhadap segala yang menimpa mereka di jalan Allah, tidak merasa lesu, serta tidak pula menyerah (kepada musuh). Dan Allah mencintai orang-orang yang bersabar”       

11. Wajib adanya bahwa kalimat (agama) Allah itu akan menang. Maka raja itu tidak mampu membunuh pemuda, tidak sanggup menyelesaikan hal itu kecuali dengan cara yang telah digambarkan oleh pemuda itu kepada raja, yang akhirnya menjadikan masyarakat wilayah itu beriman dan turunlah wibawa raja. Benarlah firman Allah ta’ala, “Dan (Allah) menjadikan kalimat orang-orang kafir itu rendah sedang kalimat Allah itulah yang tinggi. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha bijaksana”

12. Pemuda mukmin itu mengorbankan dirinya supaya semua orang beriman, dan ini adalah perkara orang-orang mukmin yang ikhlas berusaha menyelamatkan kaumnya, sekalipun itu menjadikannya terbunuh (syahid), maka mereka itulah orang-orang yang pergi ke surga, Allah berfirman, “Jangan kau kira bahwa orang-orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati. Tidak! Mereka hidup di sisi tuhan mereka, lagi diberikan rizki”

13. Allah meneguhkan orang-orang beriman dengan bukti-bukti yang terang, menguatkan agama mereka dengan karomah-karomah. Maka lihatlah seorang bayi mungil yang masih dalam buaian berkata, “Wahai ibunda, bersabarlah, sesungguhnya engkau berada di atas kebenaran” Dan seorang ibu itu takjub bercampur heran dengan apa yang terjadi, lalu ia menceburkan dirinya bersama anaknya, dengan hati yang teguh dan perhitungan yang tepat.

14. Tempat kembali orang-orang beriman adalah surga setelah kematian mereka. Dan tempat kembali orang-orang kafir adalah siksaan yang membakar di dunia, serta azab jahannam di akhirat.

Disarikan dari kitab Min Bada'i al Qasas An Nabawiy karya Muhammad bin Jamil Az Zainu
Penerjemah : Syafiqul Lathif

Friday, 5 August 2016

Matahari Terbit dari Rumahku





dee_why_beach_sunrise_wallpapers_hd-768x480


Kudus, 5 Agustus 2016

Sebelum lupa dan terlupakan oleh aktivitas yang berlari di sekelilingku, aku akan kisahkan kepadamu sebuah kisah yang –jika kau berada di posisiku, tentu kau akan sepakat denganku- mengharu-biru.

Pagi ini, matahari tidak terbit di timur seperti hari-hari biasanya. Ia tiba-tiba memilih terbit dari kamarku, melalui sudut jendela kayu yang satu itu. Bagaimana bisa aku tak kaget dan terpana melihat kejadian itu. Aku berjalan mengikuti arahnya meninggi, keluar dari kamar, menuju ruang tamu. Kemudian ia keluar pintu ruang tamu, ia mengetuk pintu, hendak keluar, menghadapkan wajahnya kepadaku. Lihatlah, wajah matahari itu tersenyum memandangku. Tiba-tiba ia berubah wujud menjadi seperti seorang manusia. Dengan dua tangan dan dua kaki. Ia meraih bahuku. Yang kanan ditepuk tiga kali, sedang yang kiri digenggamnya erat. Aku masih takjub menatapnya. Hatiku bertanya, “Ada apa sebenarnya dengan hari ini?”

Lihat.. Bibirnya mulai bergerak, satu detik, dua detik. Ia berkata, “Kawan, subuh tadi, aku tiba-tiba mendengar sebuah perintah yang mengharuskanku untuk terbit dari kamarmu. Perintah itu kudengar berulang-ulang, berpuluh-puluh kali. Dengan nada yang agak menekan seakan aku pernah terlambat terbit di hari-hari yang kulewati. Padahal seperti yang kau tau, aku bahkan tak pernah memiliki niat terlambat walau sedetik.” Ia berhenti sejenak, menarik nafas, tertawa, giginya nampak putih.

Ia melanjutkan, “Aku bertanya sama halnya dengan dirimu yang bertanya, ‘Ada apa dengan hari ini?’ lalu aku mendengar sebuah titah, ‘Pergilah dan temui anak ini, hari ini ia berhak untuk senang dan bersyukur pada tuhannya’ Suara itu kemudian berhenti sejenak. ‘Kau tahu mengapa, matahari?’ nada suaranya tiba-tiba berubah menjadi serius. ‘Sebab Allah telah meluluskannya dari sebuah ujian’

‘Lalu apa istimewanya lulus dari sebuah ujian?’ jawabku bertanya-tanya dalam hati

Ternyata Dia mendengar pertanyaan hatiku, ‘Ketahuilah matahari, kalau engkau suatu saat nanti memahami watak dan tabiat seorang makhluk bernama manusia, engkau tentu merasa ingin menjadi manusia. Jiwanya memang terlahir kuat, namun di beberapa kesempatan dia sungguh rapuh. Bahkan tak berbentuk. Namun ia berusaha untuk tak membiarkan jiwanya hancur, bocah ini sungguh telah berusaha berjuang. Mati-matian. Berusaha mengalahkan pertikaian dalam dirinya. Untuk menyerah, membiarkan semuanya berlalu begitu saja dan tak peduli atau tetap bertahan sekalipun ia menangis dan mengais-ngais sisa semangat masa lalunya. Ia sudah terlalu lelah dengan pertikaian itu. Selangkah lagi ia akan menyerah, namun tiba-tiba ia ditakdirkan Allah untuk bertemu dengan seseorang yang telah melahirkannya. Dan kau sungguh akan menangis, matahari, jika mengetahui pertemuan itu’ Suara itu berhenti, kali ini ia memberi jeda yang lama, hingga terasa sedikit mencekik.

Malam Pertemuan, di saat bocah itu sudah semakin terseok. Pandangannya kabur, hatinya sudah luluh lantak, pikirannya kacau balau, dan tak mengerti apa yang ia ucapkan. Hanya satu kalimat yang ia dengungkan saat itu, aku yakin, itu kalimat yang paling tulus yang pernah ia ucapkan. Tak ada pencitraan, atau bahkan kepura-puraan. Ia berkata lirih, terdengar pilu, menggoncang langit ‘Ampuni aku Ya Allah, Ampuni aku...’

Matanya memerah, airnya mengalir, pelan, membasahi wajahnya. Tiba-tiba ia tergugu. Hingga antara sadar dan tidak, saat ia berada di puncak kesulitan, saat ia sudah hampir membakar harapannya, saat ia ingin menenggelamkan dirinya di tengah laut kenestapaan. Ia bertemu dengan seseorang yang pernah melahirkannya. Mendekatinya, menanyainya, ‘Apa yang kau lakukan di tengah malam seperti ini, sendirian?’

Yang ditanya terkaget, mundur beberapa langkah. ‘a, a, aku..’ Dengarlah, bahkan mulutnya saja sudah tak sanggup merangkai kalimat utuh. ‘a, a, akuu..’ ia terhenti, tak bisa berbicara lebih panjang dari itu.

Saat pertemuan itu kian menegangkan, seseorang yang pernah melahirkannya itu berkata pelan, namun sejuk menenteramkan. ‘Nak, mengapa kau menjadi seperti ini, memupuskan semua harapan yang pernah kau tanam di pekarangan rumah kita, yang tumbuh menjadi pohon lebat, manis lagi segar saat dikunyah, yang tetangga-tetangga kita tak akan memasak hari itu jika mereka telah makan buah kita, sebab buah kita telah mengenyangkan perut mereka sehari semalam. Mengapa kau begitu payah menghadapi semua ini? Mengapa kau menjadi lemah, saat semua ujian ini menderamu? Nak, kau tak perlu menjawab semua itu. Malam ini, kau hanya cukup mendengarku saja berbicara, ‘Ketahuilah nak, seberat apapun ujian kita, sesulit apapun masalah yang menimpa, setajam apapun pisau kehidupan ingin menusuk jiwamu, semengerikan apapun malam-malam yang kau lewati, sekeras apapun badai samudera menerpamu, kau tetap anakku. Engkau masih memiliki pegangan. Sekalipun semua tiang di kapal kita sudah roboh atau terbakar. Sekalipun kita tak memiliki tempat kembali. Sekalipun semua orang membenci kita. Sekalipun diri kita bahkan mencemooh sikap kita. KITA TETAP MEMPUNYAI ALLAH. Kita masih berhak menjura di hadapanNya, kita masih berhak memohon segalanya kepadaNya, sekalipun kita hina. Karena...

Karena Dia Maha Mengetahui segala-galanya. Karena Dialah penguasa seluruhnya. Dengan kekuasaan mutlak di tanganNya, ia sanggup berbuat sekehendakNya. Maka tatalah hatimu, tenangkan fikiranmu, ingatlah Dia, ingatlah Dia.’

Wanita itu menangis. Menyisakan suaranya saja, semakin lama semakin hening. Hanya deburan ombak saja yang masih terdengar. Dan tentu, ombak dalam hatinya kian tenang, bersama makin dekatnya waktu subuh.

“Hei, mengapa kau tiba-tiba memalingkan wajahmu dariku?” Matahari itu berujar

“Tidak, aku sepertinya mengetahui bocah itu” jawabku parau

“Baiklah, tak apa, aku tidak tahu siapa dan bagaimana bocah itu, aku hanya melaksanakan perintah supaya terbit di kamarmu saja, aku akan kembali ke langit, meneruskan tugas masa laluku, tugas masa sekarang, dan tugas yang akan datang. Sampaikan salamku buatnya” Ia tertawa melihatku.

Sejenak hatiku hangat, tangannya menghangatkan seluruh perasaanku.

“Oh ya, kau tidak membukakan pintu supaya aku bisa keluar?” ucap matahari.

Aku tergagap..

“Oh, baiklah, silakan tuan matahari, selamat bertugas. Sampaikan pula salamku kepada bintang gemintang dan rembulan. Aku ingin melihat mereka malam nanti.”

Begitu ia keluar, wush.. udara pagi ini teramat menyejukkan. Tidak sama dengan hari-hari sebelumnya. Ya, tidak akan sama dengan hari-hari sebelumnya.

Nilai Ujian Al Azhar Syari’ah Islamiyah tingkat tiga telah keluar.